Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Program Induksi Lanjutan


__ADS_3

Eliana mulai terbiasa dengan suasana istana.


Tidur satu kamar dengan Yang Mulia Raja Gerald, mengikuti serangkaian kegiatan yang melelahkan demi program induksi laktasi untuk bayi Kevin, serta adanya bibi Odeth sang dayang yang selalu banyak membantu Eliana. Semua seperti sudah menjadi biasa untuk kehidupan Eliana.


Lalu yang lebih membahagiakan adalah ketika terjadi perubahan fisik dari Eliana, dan dokter mengatakan itu adalah sesuatu yang positif untuk kemajuan program induksi laktasinya. Meski pada awalnya Eliana agak terkejut.


"Jadi begitu ya, Dok?" Eliana memasang wajah terkejutnya. "Ketika aerola kita menghitam, dan ukuran cup br a kita semakin membesar itu tanda-tandanya pa yu da ra kita sedang mempersiapkan diri untuk memproduksi ASI?" tanya Eliana lagi.


"Iya, jadi sekarang tubuh Nona sedang seperti wanita hamil. Nanti bila Nona merasakan mual dan pusing di pagi hari, atau mengidam pun itu normal. Karena hormon kehamilan sedang bekerja di tubuh anda," jelas dokter Arabelle.


Eliana menatap bayi Kevin lekat-lekat. Ada perasaan bahagia campur haru dalam hatinya. Bayi itu tidur semakin pulas dan terlihat sangat tenang di pangkuan Eli, sekali-kali bibirnya bergerak-gerak seperti gerakan menghisap dalam tidurnya.


"Sepertinya ... ikatan batin antara Nona Eli dengan bayi Kevin semakin dekat. Itu akan lebih baik untuk proses induksi laktasi ini," ujar konselor Ammy menimpali ketika ia melihat bagaimana hangatnya tatapan Eliana pada bayi angkatnya itu.

__ADS_1


"Teruslah seperti ini Nona Eli, bangun kedekatan dengan bayi Kevin. Lalu jangan lupakan juga kedekatan Nona dengan Yang Mulia Raja Gerald, bagaimanapun juga, sosok Yang Mulia sudah dianggap seperti ayah untuk bayi Kevin." Dokter Arabelle menambahkan penjelasannya.


Blush ...


Pipi Eli pun merona. Setiap ia mendengar nama Yang Mulia Raja, akhir-akhir ini ia selalu berdebar. Getaran dalam jantungnya semakin nyata terutama ketika Raja Gerald ada di sampingnya. Ada perasaan aman dan nyaman ketika ia berada di dekat pria itu.


"Emmmh ... i-iya, Dok," jawab Eliana dengan gugup.


Eliana menjerit-jerit dalam hatinya untuk mengingatkan dirinya sendiri. Raja Gerald adalah seseorang yang jauh dalam jangkauannya. Perasaan itu tak boleh hadir!


"Nona Eli?" Dokter Arabelle melambaikan tangannya di hadapan Eliana.


"Apa Nona mendengarkan penjelasan kami?" tanya Konselor Ammy.

__ADS_1


Eliana mengerjap-ngerjapkan matanya dan tersadar dari lamunannya. "Iya dok, iya Nona Ammy, maafkan aku. Ada sesuatu yang akhir-akhir ini mengganggu fokusku," jawab Eliana sambil menggigit bibir bawahnya. Sudah jelas yang mengganggu fokusnya adalah keberadaan Yang Mulia Raja.


"Ya sudah. Pil-pil ini tetap dilanjut, ya, Nona Eli. Lalu jangan lupakan untuk susui bayi Kevin melalui SNS dan pompa pa yu da ra secara rutin, meski tidak ada yang keluar, terus pompakan untuk merangsang produksi, ya, Nona!" Dokter Arabelle memberi saran.


"Oh, iya, pijat juga jangan lupa, ya, Dok?" sambung konselor Ammy mengingatkan.


"Iya, benar, pijat juga jangan lupa, ya? Pijat oksitosin dan pijat pa yu da ra. Pijat oksitosin bisa dilakukan oleh bibi Odeth, untuk pijat pa yi da ra, bisa dilakukan oleh Nona Eli sendiri. Tapi sekali-kali harus oleh Yang Mulia Raja, untuk mendekatkan kalian berdua. Demi keberhasilan program ini," saran dokter Arabelle.


Setelah konsultasi hari itu dikatakan selesai, dokter Arabelle dan konselor Ammy pun pulang dan keluar dari kamar sang Raja meninggalkan Eliana dan bayi Kevin.


"Ternyata ... tetap harus melibatkan Yang Mulia ...," gumam Eliana yang pipinya semerah tomat. Momen pijat memijat Yang Mulia Raja padanya selama ini pun banyak yang terulang silih berganti.


Aku ini sebenarnya sedang beruntung dan dirugikan?

__ADS_1


__ADS_2