
“Baiklah, tak apa! Nona, perkenalkan nama saya Shui, saya adalah pengatur acara pernikaha untuk Nona dan Yang Mulia Raja. Tema apa yang nona sukai, maka saya akan mewujudkannya untuk Nona.” Shui berkata dengan ramah.
Eliana mendongak karena terkejut, ternyata wanita itu bukanlah selingkuhan Yang Mulia Raja? Sungguh Eliana merasa telah dibodohi oleh dirinya sendiri. Untungnya dia belum sempat mengatakan tentang kecemburuannya pada siapapun.
Dengan singkat Eliana tersenyum, sesungguhnya dia sudah merasa malu. “Maaf, aku … kurang sehat. Memangnya kapan pernikahan akan dilaksanakan?” tanya Eliana yang penasaran. Mengapa secepat ini Yang Mulia Raja membawa pengatur acara pernikahan?
“Dua hari lagi, besok lusa. Kenapa? Kamu belum siap?” tanya sang raja.
Eliana mengerjap-ngerjapkan matanya. Bahkan ini lebih cepat dari yang ia duga sebelumnya.
“Setelah kamu memilih set pernikahan yang kamu mau, mereka akan memasang dan merancangnya kita di sini,” ujar sang raja lagi.
Eliana tersipu-sipu, ia bingung harus menjawab bagaimana, yang jelas dirinya merasa sangat malu karena telah cemburu pada wanita bernama Shui.
“Aku terserah pada mereka, aku sedang benar-benar tidak enak badan.” Eliana memijit sedikit kepalanya seraya menunduk.
“Baiklah, Yang Mulia. Seperti yang kita bicarakan sebelumnya, saya akan merancang tema royal wedding untuk Yang Mulia,” ucap Shui.
Sang raja mengangguk-angguk. “Tolong ya, Shui. Aku mengandalkanmu!”
“Bisakah aku kembali sekarang?” tanya ELiana seraya mendongak untuk melihat sang Raja yang ada di belakangnya.
__ADS_1
“Oh, baiklah, ayo kita kembali,” ujar sang raja sambil memutar kursi roda.
“Biar saya saja yang mendorong nona Eli,” tawar Antony.
“Tak apa! Kebetulan aku juga akan pergi ke atas untuk beristirahat sebentar.” Sang raja menolak tawaran Antony. “Sebaiknya kau temani Shui untuk melihat perkembangan rancangan yang akan dipasang mulai hari ini,” pinta sang raja.
“Baik, segera dilaksanakan, Yang Mulia.”
Sang Raja pun membawa Eliana dan kembali lagi ke dalam istana. Mereka berdua naik lift untuk menuju ke kamar Eliana.
“Ada apa denganmu?” tanya sang raja begitu mereka di dalam lift.
“Ada apa? Memang kenapa?” ujar Eliana bertanya-tanya.
“Aku melihat sesuatu yang berbeda ketika kau baru saja tiba tadi.” Raja Gerald mulai menebak-nebak Eliana.
“Berbeda? Aku … biasa saja.” Eliana menunduk kembali karena ia takut ketahuan jika sebenarnya dirinya telah cemburu tadi.
“Hmmm, kau terlihat seperti sedang kesal padaku,” tebak yang mulia raja lagi. “Apalagi pada Shui, kamu bahkan tak menjawab salamnya.” Sang Raja mendorong kursi Eliana keluar dari lift.
Eliana lagi-lagi diam saja.
__ADS_1
“Sebagai seorang ratu nanti, pantang bagimu untuk tidak menjawab salam dari rakyatmu. Kupikir kau sudah mengerti,” ucap raja Gerald menasihati calon istrinya.
“Maaf! Aku minta maaf!” ucap Eliana.
Sang raja mendorong kursi roda Eliana pelan-pelan. “Tak apa, wanita jika sedang cemburu memang tak bisa berpikir dengan jernih.” Tebakan sang raja langsung tepat sasarn.
Eliana mendongak dengan mata membelalak.
“Apa aku salah?” tanya sang raja sambil tersenyum tanpa dosa. “Mengaku saja! Aku senang kok jika calon istriku cemburu,” goda sang raja.
Eliana merengut bahkan kembali menundukkan wajahnya. Ia merasa sangat malu. “Aku tidak cemburu,” elaknya.
“Jangan berbohong!”
“Benar! Yang Mulia jangan terlalu percaya diri!”
“Hmmm, baiklah! Anggap saja aku percaya!”
__ADS_1