
Blug
Putri Estelle melemparkan ponselnya dan mengenjai sandaran pada jok depan. Dia merasa sangat kesal karena yang ia pikir dirinya telah dipermainkan oleh pangeran Arshlan.
Awas saja, aku akan buat dia merasa bersalah karena telah mempermainkan aku.
"Dayang, telepon kepala dapur istana. Tanyakan ada berapa stok rumput mandelish dan ginseng hutan!" titah sang putri pada dayang yang duduk di jok depan.
"Baik, Yang Mulia Tuan Putri."
Sementara sang dayang melakukan tugas yang dititahkan tuan putri, sang supir bertanya pada putri Estelle.
"Yang Mulia tuan putri, apakah destinasi kita tetap pada tujuan awal ke tempat para petani tersebut?"
Tuan putri terdiam, ia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Sebelum menjawab pertanyaan dari pengawal yang menjadi supirnya, ia mendengarkan terlebih dahulu percakapan dari dayang istana dengan seseorang yang sedang ia telepon.
"Oh, jadi begitu?"
"Baiklah! Nanti akan saya beritahukan pada tuan putri."
__ADS_1
"Ya, terima kasih."
Sang dayang menutup teleponnya, lalu ia menengok ke belakang pada sang putri.
"Kepala dapur istana mengatakan jika jumlah rumput mandelish dan ginseng hutan masih ada, namun hanya cukup untuk membuat dua dosis ramuan lagi, Yang Mulia Tuan Putri." Sang dayang memberikan informasi yang ia dapatkan.
Tuan putri mengangguk-angguk sejenak. Lalu ia menjawab pertanyaan sang supirnya. "Iya, kita tetap ke tujuan awal."
"Baik, Tuan Putri!"
Rombongan mobil kawalan tuan putri pun menuju ke tempat tujuan untuk mencari ginseng hutan.
"Dayang, kau tahu, kan, di mana rumah petani itu?" tanya sang putri.
"Bagus. Pengawal, kita menuju ke tempat yang dibicarakan oleh dayang."
"Baik, Tuan putri."
Pada akhirnya, rombongan mobil mereka tiba di sebuah perkampungan yang berada di tepi hutan.
__ADS_1
Rumah-rumah putih dengan desain hampir seragam berjajaran dengan cantik dan rapi. Setiap rumah diberi pembatas berupa pagar kayu yang dipasang setinggi pinggang orang dewasa, dicat berwarna merah bata dan beberapa ada yang digambari berbagai motif.
"Kita berhenti di sini." Sang dayang menunjuk pada sebuah rumah.
Pengawal pun menghentikan kendaraan mereka.
"Tuan putri, biar saya yang mengambil ginseng itu. Saya akan bertanya pada salah satu petani dan membelinya," ujar sang dayang sebelum turun dari mobil.
"Tidak, aku juga ikut turun. Pengawal! Buka pintunya!" titah sang putri tanpa mengindahkan peringatan dari dayangnya.
Pengawal pun mau tidak mau mengikuti pernintaan tuan putri dan membukakan pintu untuknya.
Sang dayang hanya bisa menghela napasnya saat sang putri tidak mendengarkan nasihatnya. Akhirnya ia hanya bisa ikut turun dari mobil dan mendampingi sang putri.
Para warga yang ada di sana sedang disibukkan dengan kegiatannya. Ada yang sedang menjemur dan menumbuk buah kopi, ada juga yang sedang mengeluarkan karet dari cawan penampungnya, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Mereka langsung memusatkan perhatiannya begitu melihat iring-iringan mobil dengan logo istana mendekat ke arah perkampungan mereka. Apalagi ketika mobil itu berhenti di depan salah satu rumah warga. Semua peralatan yang mereka pegang langsung terlepas dari tangan. Mereka terpana ketika melihat wajah cantik dari seorang bangsawan kerajaan turun dari mobil.
Sementara itu, sang putri langsung melihat ke sekeliling begitu ia turun dari mobil.
__ADS_1
Matanya tertuju pada sebuah kubangan air yang terdapat di seberang jalan tempat mobilnya terparkir.
Ia pun tersenyum dan menggumamkan sesuatu. "Pangeran Arshlan, akan kubuat kau membayar ini semua."