
"Dokter, aku baik-baik saja! Kalian bisa kembali. Sudah ada putri Estelle yang akan merawatku." Secara tidak langsung, pangeran mengusir mereka dan ingin berdua saja dengan sang putri.
Putri Estelle mendelik pada sang pangeran. Apa maksudnya? Kenapa harus aku?
"Baiklah, kami pergi dulu. Semoga kamu cepat pulih, Pangeran. Terima kasih atas pertolonganmu," ujar ratu Allura berpamitan.
Sang dokter juga berbalik dan membereskan kembali perlengkapannya. "Saya pun pamit, Yang Mulia."
"Terima kasih, Dok." Ibu suri berjalan paling belakang. Ia menengok terlebih dahulu sebelum benar-benar keluar.
"Putri! Layani calon suamimu dengan baik!" titah sang nenek yang terdengar seperti ancaman oleh putri Estelle.
Pangeran Arshlan tersenyum bahagia ketika semua orang sudah keluar dan pintu tertutup.
"Badanku sudah kembali hangat. Tapi ... aku harus meminum ramuan itu setiap satu jam sekali. Kamu harus ada di sini dan membuatkannya untukku setiap waktu."
"Pangeran, kamu diberi hati malah meminta jantung, ya! Aku di sini hanya karena nenek yang memintaku." Putri Estelle melipat kedua tangan dan membuang wajahnya.
Sang pangeran hanya tersenyum. "Kamu harus terbiasa melayaniku seperti ini. Apalagi, jika di depan orang tua kita nanti. Kamu harus bisa menunjukkan sikap manis seperti yang selama ini aku tunjukkan padamu."
"Jadi ... sikapmu selama ini hanya pencitraan di depan keluarga kita?" Putri Estelle memicing.
"Emm ... bisa dikatakan seperti itu, bisa juga tidak."
"Maksudmu?" Sang putri tambah curiga.
__ADS_1
Pangeran Arshlan bangun dari ranjangnya. Ia duduk menyeterakan kepalanya dengan sang putri.
Senyum manisnya mengitari wajah wanita di hadapannya. Mendominasi, memabukkan dan sangat memikat, tidak dapat pungkiri oleh siapapun.
Kemudian pangeran Arshlan membawa pipi putri Estelle menggunakan telunjuk agar menoleh ke arahnya. Wajah tampan itu menatap kecantikan yang ada di hadapannya.
Lalu, tepat di depan wajah sang putri ia pun berkata, "Sekarang tidak ada orang tua di antara kita, dan aku tetap bersikap manis padamu. Apa ini terlihat seperti sandiwara?"
Deg ... deg ... deg ....
Jantung sang putri berdetak semakin cepat, namun berbanding terbalik dengan kinerja otaknya yang seakan melambat. Ia tidak mengerti harus menjawab apa untuk pertanyaan sang pangeran. Namun yang pasti, ada sesuatu yang terjadi pada seluruh organ tubuhnya, yaitu ....
Berdebar!
Cup
Satu kecupan pada bibir manis putri Estelle. Sang pangeran tersenyum dan membelai bekas kecupan itu. "Apa aku terlihat bersandiwara?"
Putri Estelle mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu ia juga menggeleng-gelengkan kepala untuk mengembalikan kesadarannya.
"Aku harus kembali!"
Satu kecupan dari pangeran Arshlan mencuri seluruh kesadarannya.
Putri Estelle segera beranjak, namun tangannya dicekal oleh sang pangeran.
__ADS_1
"Kau tidak dengar apa yang nenekmu bilang?" ujar sang pangeran.
"Emmm ... aku ...."
"Yang Mulia ibu suri pasti sudah memerintah pada para penjaga agar mereka mencegahmu untuk keluar dari kamar ini."
"Emmm ... itu ... aku tidak per-"
"Sssst!" Sang pangeran menarik putri Estelle dan meletakkan telunjuknya pada bibir si putri cantik.
"Aaash!" Putri Estelle meringis ketika ia terjatuh pada pangkuan pangeran Arshlan karena tangannya ditarik.
Pangeran Arshlan menatap pada sang putri. "Lihatlah ke bawah pintu itu!" Pangeran menunjuk ke arah celah kolong pintu.
Bayangan sepatu milik para penjaga sedang terlihat mondar-mandir.
"Mereka sedang menjaga ketat. Kau hanya bisa keluar untuk membawa ramuan untukku!"
"Lepaskan tanganmu!"
"Ups!"
*
Guys, aku minta bantuannya dengan follow aku noveltoon aku ya... Cerita untuk besok dijamin lebih gemes dari ini. Thank u...
__ADS_1