
Denting alunan melodi mengiringi berpasang-pasang langkah kaki di lantai dansa. Binar mata itu saling tatap satu sama lain. Bersama cahaya pendar yang menerangi syahdunya suasana. Kemesraan yang ditunjukkan sepasang raja dan ratu membawa harapan untuk masa depan Raisilian selanjutnya.
“Bersulang untuk Ratu,” ujar salah satu bangsawan mengangkat gelas berisi anggurnya tinggi-tinggi begitu raja dan ratu telah selesai dansa.
Semua serentak mengangkat gelasnya, menunjukkan dukungan mereka pada ratu yang baru.
“Siapa mereka?” para tamu undangan bertanya-tanya dengan tiga orang yang datang dengan baju yang mencolok dan aneh.
“Bukankah itu saudara tiri Yang Mulia Ratu,” jawab tamu yang lain.
“Oh, aku ingat. Mereka yang menyebar jika mereka ditelantarkan oleh Yang Mulia Ratu.”
“Apa itu benar?”
“Aku tidak tau, tapi melihat pakaian dan perilaku mereka sekarang … kurasa aku juga akan malu jika mengakui mereka sebagai saudara walaupun hanya saudara tiri.”
“Kau benar.”
Ucapan-ucapan bernada sumbang mengenai Eliana dan saudara tirinya mulai terdengar dari para tamu. Pengawal yang mendengar hal itu, merasa harus memberi tahu pada Yang Mulia Raja dan Ratu mereka.
__ADS_1
“Yang Mulia,” panggil seorang pengawal sambil membungkuk pada sang raja yang sedang bergurau dengan istrinya di pelaminan.
“Kenapa?” Yang Mulia mendekatkan kepalanya pada pengawal.
“Saudara Yang Mulia Ratu telah datang, dan sepertinya para tamu undangan lain juga memperhatikannya.”
Yang Mulia Raja pun mengangguk-angguk sambil matanya mengedar mencari ketiga orang saudara Eliana yang maksudkan.
“Baiklah, terima kasih! Sekarang kau boleh kembali,” titah sang raja.
Raja Gerald berbalik melihat pada ratunya, yang sepertinya juga penasaran akan apa informasi yang dibawa oleh pengawal.
“Sayang, saudaramu datang? Kau bilang ingin menjamunya secara khusus?” ujar Yang Mulia Raja.
“Jadi sekarang, kau mau menemui mereka?”
Eliana mengangguk meyakinkan sang raja.
“Kau yakin? Kau tidak takut bagaimana jika para tamu undangan membicarakan buruk tentangmu?”
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti!” Ratu Eliana pun turun dari kursinya, sang dayang membantunya untuk berjalan. Sang Ratu menyapa para tamu undangan dari dekat, semua mata mengagumi keindahan dan kecantikannya.
Ratu Eliana pun berhenti di tempat ketiga orang dengan pakaian paling mencolok dari semua tamu. Dengan anggunnya dia tersenyum dan mengulurkan tangannya pada wanita yang paling tua.
Adriana, -ibu tiri dari Eliana pun menyambut uluran tangan itu. Sang ratu mencium tangan wanita itu dengan sebuah kecupan ringan. “Ibu,” panggilnya dengan suara lirih penuh senyuman.
Adriana memalingkan matanya karena malu, ia merasa tak pantas mendapat perlakuan istimewa dari Eliana seperti ini. Dulu ia mengusir Eliana agar pergi dari rumah dan mengatakan jika Eliana harus menjadi penebus hutang ayahnya.
Namun waktu bergulir , orang baik akan selalu mendapat karma baik. Tak pernah Adriana kira sedikitpun, anak yang dulu dia siksa dengan rasa lapar, dia telantarkan hingga basah kuyup berteman hujan, dibiarkan tidur dalam gudang bertemankan jerami dan hewan-hewan pengerat, sekarang menjadi ratu di tanah yang ia tinggali.
Adrian menekuk lututnya sambil menengadah pada Ratu Eliana, air matanya luruh merasa penuh dosa.
Kedua saudara tiri Eliana tertawa cekikikan, mereka merasa puas telah menyebarkan berita miring mengenai sang ratu baru.
Kemudian mereka berdua terkejut melihat ibunya yang sedang menangis dan mencoba berlutut pada Eliana.
“Bu? Ibu? Apa yang sedang ibu lakukan?” tanya Rose dan Vivian pada ibunya.
“Anak-anak b*doh! Berlutut!”
__ADS_1