
Hai Eliana, bagaimana keadaanmu di istana? Kudengar tuan Antony tidak jadi menikahimu. Namun dia memberimu jabatan penting di istana kerajaan Raisilian.
Ini sudah sekitar empat bulan kau meninggalkan kami, kau tidak melupakan ibu dan saudara-saudaramu di sini, kan?
Sesungguhnya, kami sangat merindukanmu, Eliana tersayang. Apa di sana kau mendapatkan baju-baju kerajaan yang mewah? Bisa kau kirimkan beberapa potong untuk kami?
Berapa gaji yang kau dapat selama bekerja bersama Yang Mulia Raja? Apa kau marah pada kami, sehingga sepeserpun kau tak berniat memberi untuk kami?
Padahal, selama kau ada di sini, susah-senang kita lalui bersama. Kita selalu berbagi makanan kesukaan. Dalam gelap petir dan cerahnya pelangi kita selalu berpelukan dalam atap yang sama.
Eliana, tidak apa jika kau melupakan kami. Ibumu yang sudah tua renta ini, dan adik-adikmu yang semakin hari semakin kurus begini.
Tertanda,
Adriana Louis.
Eliana membaca kata demi kata yang tertulis dalam selembar surat yang ia dapat. Surat yang ternyata merupakan pemberian dari ibu tirinya.
__ADS_1
Gadis itu mengerti dan sangat paham, apa yang diinginkan oleh ibu tirinya itu tidak lain adalah kiriman uang. Namun, bagaimana ia bisa memberi uang untuk orang lain? Sedangkan dirinya saja di sini sama sekali tak pernah memegang uang sepeserpun.
"Lagipula, kabar miring dari mana yang bisa-bisanya mengatakan bahwa aku menjadi pejabat penting kerajaan?" gumam Eliana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kalau untuk baju, mungkin ia bisa memberikannya beberapa potong untuk mereka. Tapi untuk uang?
Eliana mondar-mandir memikirkan caranya untuk mendapat uang. "Apa aku harus berhutang pada Yang Mulia Raja?"
Gadis itu bertanya pada dirinya sendiri, lalu menjawabnya sendiri dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku berada di sini karena menjadi pelunas hutang, kenapa aku malah berhutang lagi?" Eliana merutuki pemikirannya sendiri.
Ia pun pergi membuka lemari pakaian miliknya dan berniat untuk memilah-milah baju-baju yang pantas untuk ia berikan pada saudaranya di desa.
Tumpukan demi tumpukan, helaian demi helaian, dia kebingungan memilih baju yang mana yang cocok untuk kedua saudaranya. "Baju ini pemberian Yang Mulia, apa boleh aku kirim beberapa potong untuk ibu, Rose dan Vivi?" gumam Eliana sambil memeluk tiga potong gaun yang rencana akan ia kirimkan untuk saudaranya itu.
Lalu sejenak Eliana berpikir kembali, bagaimana caranya agar ia mendapatkan uang?
__ADS_1
Eliana pun tak sengaja menatap kotak kecil berwarna coklat tua di sudut lemarinya. Ia pungut kotak itu dan dengan wajah sedihnya ia berkata, "Apa aku harus menjual satu-satunya peninggal ayah untuk mendapatkan uang?"
Gadis itu membuka kotak tersebut dan mengeluarkan sebuah kalung. "Kalung emas putih, berapa uang yang akan kudapat jika kujual ini?" gumam Eliana sambil mengamati kalung tersebut.
"Ayah memberiku kalung emas putih, tapi menurutku ini terlalu berharga untuk dipakai, apalagi dijual?" Eliana memasukkan kembali kalung itu pada kotaknya dan mendekap erat di dadanya.
"Tapi ... jika tidak kalung ini? Apalagi yang bisa kujual untuk mendapatkan uang?"
Eliana pun membuka kembali kotak itu dan mengeluarkan kalungnya lagi. Ia gantungkan kalung itu ke lehernya. "Baiklah, setidaknya akan kupakai dulu kalung pemberian ayah sebelum aku menjualnya."
Eliana menyimpan kembali kotak penyimpanan kalung tersebut, dan memutuskan untuk mengenakan kalung itu sebelum ia menjualnya demi mendapatkan uang.
*
Bersambung ...
Gaes, gaes, kalian kalau jadi ibu tiri Eliana bakal gitu nggak?
__ADS_1
Jujur, aku geli pas baca lagi isi surat yang ditulis untuk Eliana.