Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Janji


__ADS_3

"Berbaliklah ke mari, Eliana," pinta sang Raja sambil memaksa tubuh Eliana agar berbalik.


"Itu bukan alasan, aku benar-benar menghampirimu setiap malam!" Sang Raja menghujani Eliana dengan ciuman lembut pada wanitanya.


"Kita akan menikah, jangan marah padaku begini dong." Raja Gerald mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu," ungkap sang raja sambil mendekap Eliana.


Karena rasa haru, Eliana pun tiba-tiba menangis. Ia tak mengerti pada dirinya sendiri, kenapa semudah ini ia luluh bahkan menjadi cengeng begini.


"Hei, kau menangis?" Sang Raja menunduk melihat ke arah wanita yang sedang tergugu dalam pelukannya.


Eliana tetap terisak sambil sesekali memukuli dada bidang sang raja.


"Iya, iya! Pukul aku kalau kamu merasa kesal, pukul aku sampai merasa puas," ujar sang Raja pasrah terhadap tindakan istrinya.


Bukannya ingin memukul, Eliana malah merasa kasihan pada sang raja yang ia pukuli. Tanpa aba-aba, dirinya langsung memeluk Yang Mulia Raja dengan begitu erat.


Sang raja sedikit mendelik karena ia merasa tercekik.


"El! Eli ...!" rintih raja Gerald berusaha melepas Eliana.


"Aku ... tidak bisa bernapas, El!" Setelah mendengar hal seperti itu, barulah Eliana melepas pelukannya pada sang raja.


Tak ia sangka jika pelukan sekejapnya membuatnya tak bisa bernapas.

__ADS_1


"Masih marah?" tanya sang raja yang dijawab gelengan kepala dari Eliana.


"Peluk aku lagi, ke mari! Tapi jangan terlalu kencang," ucap raja Gerald. Namun lagi-lagi Eliana menggeleng.


"Kenapa tak mau?" sang raja merasa heran.


"Apa Yang Mulia tak mau tau kenapa aku marah?" Eliana bertanya dengan lirih.


Raja Gerald tersenyum mendengar Eliana mau mengeluarkan suaranya lagi.


"Kenapa?" tanya sang raja.


Eliana mendongak menatap wajah tampan calon suaminya itu.


"Siapa? Bayi Kevin?" tanya sang raja pura-pura tak tau.


"Iiiish, bayi Kevin sekarang sudah lebih pintar sejak ia makan makanan pendamping ASI. Dia sangat menyukai smoothie buahnya, bahkan mungkin lebih menyukai smoothie buah daripada papanya yang sok sibuk," cicit Eliana menyindir sang raja yang membuat raja Gerald tersebut tak kuasa menahan tawanya.


"Ah, begitu? Iya, iya, maafkan aku. Besok aku akan coba luangkan waktu untuk menemui kalian berdua," jawab Yang Mulia raja.


"Bertiga!" ralat Eliana, ia yakin jika sang raja sengaja menggodanya.


"Bertiga?" Raja Gerald sok polos.

__ADS_1


"Iya ...." Eliana mengerucutkan bibirnya. "Anakmu yang di dalam sini juga merindukanmu," lanjut Eliana seraya mengusap perutnya.


"Memangnya ada apa di sini?" sang raja menunjuk pada perut rata Eliana.


Eliana kesal, rasanya ingin menjambak rambutnya sendiri. Sang Raja benar-benar mempermainkannya.


"Di sini ada anakmu, Yang Mulia." Bibir Eliana semakin mengerucut mengatakan itu.


Raja yang sudah tahu, mencoba untuk pura-pura terkejut.


"Kenapa Yang Mulia menyebalkan sekali?" Eliana bertanya dengan suara agak keras.


"Pelan-pelan, nanti Kevin bangun!" Raja Gerald memelankan suaranya.


"Maaf, ya, Eli! Dan ... terima kasih. Terima kasih karena sudah mengandung anakku." Raja Gerald mengecup perut Eliana yang belum membuncit itu.


Eliana hanya menatap ke arah perutnya, di mana ada sang raja yang sedang menciumi perut ratanya itu.


"Aku minta maaf, karena jarang menemuimu. Setelah menikah nanti, kita harus meluangkan waktu untuk saling bertemu nanti. Karena kalau tidak, kita akan kerepotan sendiri. Karena seperti yang kubilang tadi, sebagai pemimpin wilayah, kita harus mendahulukan kepentingan orang lain, ketimbang diri sendiri."


Eliana mengangguk dan mengacungkan jarinya. "Janji?"


"Janji!"

__ADS_1


__ADS_2