
Redup senja mengikis cahaya mentari. Garis-garis melintang pada horizontal blind menjatuhkan bayangan bergaris-garis pada wajah hingga leher seseorang yang sedang duduk di balik jendela.
"Maafkan aku, Eliana, pernikahan kita harus ditunda."
Perkataan sang Raja tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Memang, dari awal, Eliana sama sekali tidak pernah berharap untuk menjadi istri Raja Gerald dan menjadi Ratu di Raisilian. Namun, setelah mendengar sendiri gagalnya rencana pernikahan mereka dari Sang Raja, tak dapat dipungkiri jika rasa kecewa itu tiba-tiba muncul.
"Tapi aku berjanji, aku tidak akan pernah melepasmu, walau sedetik pun."
Tiba-tiba Eliana tersenyum miring mengingat bagian itu. Dalam pikirannya, dia ingin sekali berkata pada Yang Mulia Raja, agar tidak pernah berjanji jika sang Raja tidak bisa menepati.
"Karena ... setelah aku mendengar sebuah janji, mustahil bagiku untuk menagihnya bila suatu saat janji itu belum ditepati," ungkap Eliana sambil memejamkan mata, membiarkan cahaya matahari di sore itu menyiram wajah cantiknya melalui celah-celah horizontal dari kerai jendela.
Bayi Kevin terlihat bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Ia tidak menangis, merengek atau menimbulkan suara apapun. Bayi itu hanya menggerakkan tubuhnya ke kanan kiri sambil tangan mungilnya yang terkepal menggosok-gosok sebelah matanya.
Eliana bangkit meninggalkan sisi jendela yang sejenak mengajaknya melamun tadi, menghampiri sang bayi yang sepertinya membutuhkan sentuhannya.
"Kevin, kamu terbangun, sayang?" sontak bayi itu membuka matanya begitu mendegar suara lembut Eliana.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari bayi yang memang belum bisa bicara itu. Kevin hanya membalas tatapan hangat Eliana dengan mata polosnya.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Eliana diketuk. Refleks, gadis itu kembali meletakkan Kevin di atas box-nya lalu menghampiri pintu.
"Siapa?" tanya Eliana sambil berjalan.
"Ada surat untuk nona Eli." Suara seorang perempuan yang begitu familiar bagi Eliana.
"Masuk," ujar Eliana.
"Bibi Odeth." Ya, Eliana yang langsung memeluk perempuan itu dan menangis sejadinya.
Bibi Odeth membalas pelukan Eliana. "Nona ...."
"Bibi jadi pengantar surat? Bibi tidak lagi menjadi dayang istana? Bibi tidak dihukum penjara, kan, gara-gara Eliana?" Rentetan pertanyaan Eliana keluar untuk perempuan paruh baya di hadapannya ini.
__ADS_1
"Tidak, Nona," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Saya hanya dipindah tugaskan menjadi pengantar surat," ujarnya lagi.
"Bibi ... aku rindu, Bibi. Aku khawatir padamu. Maafkan aku, ya ...." Eliana memeluk mantan dayangnya itu sekali lagi.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nona. Nona tidak bersalah, ini surat untukmu, Nona Eli." Bibi Odeth pun menyerahkan sebuah amplop pada Eliana.
"Dari siapa?" Eliana bertanya-tanya.
"Bisa Nona baca nanti. Bibi harus kembali, ya. Kalau Yang Mulia tahu, dia akan marah pada bibi," ucap bibi Odeth dengan wajah sedih.
"Bibi ...." Eliana berkaca-kaca.
"Bibi pamit, ya, Nona. Semoga Nona dan Bayi Kevin selalu sehat dan baik-baik saja," pamit bibi Odeth yang langsung pergi.
Meski sebenarnya dalam hati perempuan paruh baya itu, banyak sekali yang ingin ia ceritakan. Termasuk hukuman kerja tanpa upah selama lima tahunnya. Namun, ia tak ingin membebani pikiran Eliana. Hingga akhirnya bibi Odeth memilih untuk lebih baik bungkam. Baginya, bisa melihat kembali Eliana dan Bayi Kevin dalam keadaan sehat-sehat saja, sudah sangat teramat senangnya.
*
__ADS_1
Kira-kira, itu surat buat Eliana dari siapa ya? Dan ... perihal apa?
Ada yang bisa tebak?