
"Kalau begitu, kita minta pengawal untuk memanggil paman Joseph ke mari." Ratu Eliana memberi saran.
Sementara pengawal memanggil Joseph sang kepala laboratorium utama istana Raisilian, Ratu Allura membantu para dayang mengurus ibu suri Paula.
"Yang Mulia Ratu, biar saya saja yang memandikan ibunda," ucap Eliana di samping Ratu Allura.
"Eli sayang, biarkan aku yang merawatnya. Dia sudah banyak membantuku ketika aku sakit di Raisilian kemarin. Ini tak apa buatku, Eli." Ratu Allura masih memegangi spons dan membasahi sedikit demi sedikit bagian tubuh sang ibu suri.
"Lalu, jangan panggil aku Ratu. Panggil saja bibi! Kau itu, resmi menjadi anak dari kakak iparku," tukas ratu Allura kemudian.
Eliana tersenyum canggung, sungguh sulit memanggil orang yang selama ini ia panggil dengan sebutan gelar bangsawan tertinggi dalam sebuah kerajaan dengan sebutan kekerabatan yang amat erat. Dari Yang Mulia Ratu menjadi bibi, itu sangat aneh baginya.
"Ya, Eliana?" tanya Ratu Allura.
"Emmm, i-iya, Bibi," jawab Eliana dengan agak kaku.
__ADS_1
Ratu Allura melanjutkan kegiatannya, ia mengeringkan tubuh ibu suri Paula. Ia menitikkan air mata saat membelai area punggung ibu suri yang memiliki bekas lebam berwarna ungu kehitaman.
"Bekas ini, pasti sangat sakit di dalamnya," ujar sang ratu. "Ini adalah tenaga dalam yang memiliki efek penghancuran secara perlahan. Yang dihancurkan dari ilmu ini adalah organ-organ vital. Seperti, otak, jantung, hati dan paru-paru," jelas sang ratu sambil mengusap punggung ibu suri perlahan menggunakan handuk.
"Namun otak, dilindungi oleh tempurung kepala yang keras dan padat. Tenaga ini tidak akan mencapai ke dalam otak dengan mudah. Sementara jantung, dapat diserang dengan mudah melalui area punggung. Aku pernah membaca tentang hal ini di perpustakaan." Ratu Allura dibantu para dayang untuk mengenakan kembali baju pada ibu suri Paula.
"Kau tau, Eliana? Aku hanya sebentar di Raisilian, aku tidak akan bisa menemani Paula lebih lama. Selama aku di sini, izinkan aku merawatnya," ungkap Ratu Allura dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Eliana menatap pemandangan di hadapannya, sikap Ratu Allura pada ibu suri Paula sungguh mengharukan. Persahabatan mereka sudah layaknya saudara.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Yang Mulia Ratu. Euuuh, maksudku, Bibi Allura." Eliana mengulang panggilannya untuk sang bibi.
Ratu Allura tersenyum dan mengangguk. "Pergilah! Kabari bibi dengan informasi terbaru yang kau dapat!"
Eliana membalas senyuman itu dan langsung bergegas menuju ke ruangan sang raja.
__ADS_1
*
"Yang Mulia Ratu?" panggil Joseph sambil membungkukkan badan begitu melihat Eliana datang ke ruangan Raja Gerald.
"Jangan begitu, Paman. Panggil aku Eliana saja, aku keponakanmu," ujar Eliana yang malah canggung perkara panggilan untuk yang kedua kalinya.
"Emmmh, jangan seperti itu, saya akan tetap memanggil anda Yang Mulia Ratu." Joseph menolak permintaan Eliana.
"Baiklah, jika itu yang paman inginkan." Eliana pun pasrah.
"Baiklah, tuan Joseph. Kita kembali ke tujuan kita berkumpul di sini," ujar sang Raja memulai kembali diskusi mereka.
"Sebenarnya, saya memanggil anda ke mari karena ingin membicarakan perkara Elsa, keponakan anda," lanjut Raja Gerald.
Baik Eliana maupun Joseph, mendengarkannya dengan seksama.
__ADS_1
"Apa yang ingin anda tanyakan, Yang Mulia Raja?"