Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Pergi Ke Mansion Timur


__ADS_3

Sang Raja Raisilian VII pergi ke mansion timur dengan pengawalan rahasia. Tujuannya, agar kepergian Raja Gerald tidak terlalu mencolok dan menarik perhatian.


Iring-iringan yang terdiri dari empat mobil mewah ini berangkat saat hari menjelang petang. Sudah menjadi rutinitas Raja Gerald dulu, setiap ia berkunjung ke Mansion Timur yang selalu berangkat ketika matahari mulai terbenam.


Raja Gerald duduk di kursi belakang mobil sendirian. Sikunya bertumpu pada pintu mobil dengan telapak tangan yang menggenggam dan menopang dagunya.


Sebelum ia pergi, Elsa pernah berkata bahwa dirinya memiliki pertalian darah dengan Louis. Jika itu benar, mungkin ada jejak-jejak yang bisa kutemukan di mansion itu, terkait kematian kakak, ayah, dan juga Louis. Raja Gerald bergumam sepanjang jalan.


Selain untuk menghindar dari desakkan menikah Sang Ibunda, Raja Gerald juga pergi ke mansion timur untuk mencari beberapa hal yang mungkin bisa menjadi barang bukti maupun petunjuk akan teka-teki kematian keluarganya.


Kenapa kalian meninggalkan aku seorang begini? Kalian membebankan kerajaan padaku, menitipkan keselamatan ibu padaku, dan kalian juga masih memintaku mengurai misteri kematian kalian? Ayahanda, Kakak? Kenapa? Aku masih belum mengerti lebih jauh tentang kerajaan ini.


Raja Gerald mengutuk nasibnya sendiri.

__ADS_1


Selain misteri kematian Elsa yang terkubur dalam mansion itu. Gerald sendiri tak mengerti mengapa Gerry memilih Elsa. Seorang wanita yang bukan dari kalangan bangsawan.


Lalu, jika Gerry memang mencintai Elsa, mengapa Gerry tak membiarkan Elsa untuk menjadi istrinya yang sah, mengapa Gerry tak membiarkan tinggal di istana, menjadikan Elsa sebagai seorang Ratu.


Apa karena Elsa adalah orang biasa?


Rasanya tak ada larangan untuk seorang Raja mempersunting orang biasa agar menjadi Ratu dan mendampinginya memimpin kerajaan.


Saat itu ...


"Kakak, kau mau pergi ke mana? Ini sudah larut malam?" Gerald bertanya-tanya. "Jangan bilang ke mansion itu lagi?"


Gerry tersenyum sambil mengangkat alisnya. "Kau tahu? Aku akan menjadi seorang ayah!" jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Gerald.

__ADS_1


"Kau gila? Kau bercanda, 'kan, Kak? Mana mungkin seorang Raja memiliki seorang anak dari wanita yang dinikahinya?"


"Aku sudah menikah dengannya Gerald, aku harap kau tidak lupa. Dia sudah resmi menjadi kakak iparmu sejak berbulan-bulan lalu! Sekarang dia sedang mengandung dua bulan."


Gerald menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.


"Aku hanya pergi semalam. Besok pagi aku sudah ada di sini lagi. Kau tak perlu khawatir!"


"Bukan itu, Kak! Kau tau sendiri, Rakyat tidak pernah tau kapan pernikahanmu! Apa jadinya jika kau tiba-tiba punya anak?" Gerald menaikkan sedikit nada bicaranya. "Bagaimana status anak itu nanti? Apa kau tidak merasa kasihan padanya jika lahir tanpa status? Di mana seharusnya, dia memiliki gelar sebagai seorang pangeran."


Gerry tersenyum menatap pada adiknya. "Terimakasih sudah khawatir pada anakku," timpal Gerry dengan santai. Ia mengusap ubun-ubun adiknya, dan pergi meninggalkan Gerald. "Aku harus pergi sekarang, Gerald! Sekali lagi, aku titip kepemimpinan di sini untukmu!"


Gerald menatap senyum kakaknya yang terlihat bahagia. Sepertinya Raja Raisilian VI itu sedang berbahagia karena ia hendak memiliki buah hati.

__ADS_1


Namun ... Gerald tak menyangka jika itu senyum terakhir sang kakak. Yang sama sekali tak bisa ia lupakan hingga sekarang.


__ADS_2