
"Ssst ... ssst ...."
"Ada apa ...?"
"Itu ... bukankah itu adalah putri Estelle dan pangeran Arshlan ...?"
"Waw, mereka bahkan bermain di dapur ...."
"Istana ini milik sang putri, terserah dia mau melakukannya di mana."
"Ah, pangeran Arshlan memang sangat gagah dan tampan. Kalau aku yang diajaknya berciuman, aku juga pasti akan lupa diri, lupa waktu dan lupa tempat ketika melakukannya."
"Ya, kau mengkhayal terlalu jauh. Tapi ... memang benar, pangeran Arshlan sangat tampan ...."
Para dayang sang putri sibuk bergosip di luar dapur. Lalu terdengar lagi suara dari dalam.
"Aaah ... ssssh." Sebuah desisan aneh, yang semua orang pun tau itu suara apa.
"Aduh ... bulu kudukku meremang," ujar salah seorang dayang.
"Benar, aku malu sendiri berada di sini."
"Bilang saja kau mau menemui salah satu penjaga gerbang yang ingin kau kencani!"
"Enak saja ...!"
"Aaaahs." Suara dari dalam terdengar lagi.
__ADS_1
"Kita tunggu sang putri dari sana saja ya?"
"Iya benar!"
"Di sini sangat berbahaya bagi kita yang masih belum berpasangan."
Sementara itu di dalam dapur sendiri, tidak terjadi suasana panas yang seperti dibayangkan oleh para dayang. Adegan berci*uman itu, sudah usai beberapa menit yang lalu, ketika timer pada oven pemanggang kue berbunyi.
Namun, sang putri kurang berhati-hati ketika ia hendak mengeluarkan loyang panas itu.
"Aaahs ... sssh ...." Sang putri mendesis sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Apakah ini sakit?"
Sang putri pun mengangguk. Pangeran Arshlan menarik tangan sang putri dengan lembut, lalu mengisap jari yang hampir melepuh itu.
"Oke, aku minta maaf." Pangeran Arshlan meniup dengan lembut ujung jari putri Estelle.
Hawa-hawa menyejukkan tertiup ke ujung jemarinya, membuat sang putri merona dan memalingkan wajahnya.
"Aaah ... aaah ...." Putri Estelle menjerit ketika sang pangeran tak sengaja memegang jarinya agak keras.
"Tuh, kan? Apa jangan-jangan mereka benar-benar melakukannya di dapur malam ini?"
Suara dan percakapan putri Estelle bersama dengan sang pangeran, banyak menimbulkan kesalahpahaman pada para dayang yang menunggu di luar.
"Ah, beruntung sekali putri Estelle mendapatkan ciuman dari pangeran tampan."
__ADS_1
"Dia memang seorang putri, sendok emas sudah ia genggam bahkan sejak di dalam perut. Pantas saja jika dia berpasangan dengan pangeran tampan seperti pangeran Yorksland itu. Kau yang hanya membawa sendok kayu, tak usah bermimpi!"
Para dayang pun ikut menggosip di luar dapur sembari menunggu putri Estelle selesai.
"Kau mau mencobanya?" tawar putri Estelle seraya membawa salah satu kue yang sudah dingin.
Pangeran Arshlan diam, ia menatap wajah putri Estelle tanpa mengedip. Sambil membuat kue seperti ini, sang putri memang terlihat sangat cantik. Terlihat begitu anggun, dan penuh pesona.
Cup
Sang putri terkesiap kala pangeran Arshlan mendaratkan kecupan di dahinya dengan tiba-tiba lagi seperti ini.
Sejenak tatapan mereka berpandangan, putri Estelle dengan wajah polosnya, pangeran Arshlan dengan eskpresi jahilnya. Sangat menyenangkan melihat interaksi mereka saat ini, yang membuat para dayang di luar dapur menjadi geregetan ketika mengintip.
"Ayo, Pangeran, cium sang putri ...."
"Jangan keras-keras nanti terdengar ...."
"Aduh, aku gemas ...."
Pangeran Arshlan menyelipkan anak rambut yang tergerai ke belakang telinga sang putri.
"Ada yang sedang mengintip kita," ujar sang pangeran yang memiliki indra lebih tajam.
"Siapa?" Sang putri hendak menengok.
"Jangan dilihat!" larang pangeran Arshlan.
__ADS_1
Cup