
Dan waktu pun terus berlalu, mengalir membuat perubahan pada setiap apapun yang hidup di dunia ini.
Apharmacosia, adalah sebuah negara yang menjadi solusi untuk permasalahan kesehatan ibu suri Paula. Meski belum sadar sepenuhnya, namun setidaknya, ada harapan untuk ibu suri sadar lagi, meski telah tujuh bulan lamanya ia terbaring tak sadarkan diri.
Kandungan ratu Eliana memasuki bulan-bulan terakhirnya. Kondisi perutnya yang semakin membulat membuat raja Gerald selalu gemas melihat istrinya itu. Ada rasa bangga dalam hati sang raja akan hasil perbuatannya tersebut.
Ratu Eliana juga sudah resmi terdaftar sebagai seorang Putri keturunan Noirland. Hal ini akan memudahkan anak yang akan dilahirkannya nanti untuk mendapatkan gelar sebagai seorang Putri atau Pangeran. Kebetulan, Putri Eliana menolak untuk melakukan USG agar sekedar tahu jenis kelamin anaknya. Ia berdalih ingin semua hal itu menjadi kejutan bagi mereka.
"Sayang, aku ingin berlibur akhir pekan ini? Ya? Boleh, kan?" pinta ratu Eliana dengan manjanya.
"Tidak ada berlibur hari ini, sayang," jawab sang raja malam itu sambil terus sibuk pada laptopnya.
"Bukan hari ini juga, maksudku akhir pekan nanti," rengek ratu Eliana lagi sambil mengusek-ngusek wajahnya pada dada sang raja.
__ADS_1
"Hmmm, ya, kita lihat saja nanti," jawab raja Gerald tanpa memberi jawaban yang lain pada istrinya.
"Hmmmm," rajuk sang ratu sambil menjauhkan dirinya pada sang raja.
Raja Gerald masih belum peka pada ekspresi cemberut ratu Eliana, dia benar-benar masih serius berhadapan dengan laptopnya dan laporan-laporan keuangan yang mengalir pada kas kerajaan. Banyak arus yang harus ia periksa sendiri, karena menteri keuangan baru saja diangkat beberapa hari yang lalu.
"Sayang ...?" Sang ratu menyadari dirinya diacuhkan pun mencoba merayu sekali lagi. "Aku ... ingin ke Arshville, sebentar ... saja. Besok.!" pinta Eliana. "Ya...? Ya ...?" Ratu Eliana berharap agar dirinya diizinkan.
"Aku selesaikan dulu ini, baru kita bicara lagi."
Namun hingga sang ratu pulas, Raja Gerald masih belum bisa melepaskan laptopnya.
Raja Gerald memandangi perut membulat ratu Eliana, ia paham jika istrinya sedang merajuk karena pembicaraan mereka tadi sama sekali tidak hangat. Sang raja membelai surai istrinya dan tangan satunya lagi membelai-belai perut bulat yang berisi anaknya.
__ADS_1
"Nanti kita akan ke Arshville. Sesuai dengan maumu," ucap raja Gerald sambil berbisik di telingan istrinya.
"Benarkah ...?" jawab ratu Eliana dengan suara parau nan berat.
Sang ratu terlihat sudah pulas dan pergi ke alam mimpi, namun pada kenyataannya ratu Eliana masih bisa menjawab perkataan raja Gerald saat ia tidur tadi.
"Aku ingin jus jeruk Kalamansia dari kebun pak Edmund," timpal ratu Eliana mengigau sambil memeluk Yang Mulia Raja.
Sang raja hanya mengangguk, dia tahu jus itu sangatlah masam sehingga dia sendiri tak menyukainya. Mungkin karena sang ratu sedang hamil sehingga mengidam hal tersebut, membuat ekspresi yang ratu buat sangat aneh dan terlihat meringis-meringis seperti itu.
"Nanti kamu akan mendapatkannya, sayangku. Biar tuan Edmund menyuruh orangnya untuk datang padaku dan membawa jus tersebut."
Saat ini, Tuan Edmund terpilih menjadi perdana menteri Arshville. Pemilihan ini dilakukan secara aklamasi, di mana sang kandidat akan langsung diberi tugas dan tanpa adanya pemilihan umum.
__ADS_1
"Janji, ya ...."