Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kedekatan Eliana dan Ibu Suri


__ADS_3

Lain lagi dengan keadaan istana, ada Putri Estelle yang sibuk menemani ibunya karena masih shock dengan kematian dua orang yang mereka cintai, yaitu Putri Emilda dan Raja Noirland. Terlepas dari apa yang telah kedua orang itu lakukan pada mereka, Ratu Allura dan putrinya masih sangat mencintai kedua orang tersebut dari lubuk hati yang terdalam.


Selain putri Estelle, ada ibu suri Paula yang sibuk mondar-mandir dari kamar Ratu Allura menuju kamar Eliana dan bayi Kevin. Pasalnya, cucunya itu selalu menangis setiap hendak disusui oleh ibu susunya. Entah apa penyebab sang bayi menolak seperti itu. Kedua wanita itu menjadi sangat pusing dibuatnya.


“Apa lebih baik kita panggil dokter saja?” saran ibu suri Paula yang mengkhawatirkan cucunya karena menolak minum ASI maupun susu botol sejak pagi hingga kini menjelang sore.


Eliana menatap pada anak susunya yang berusia lima bulan itu, bayi tersebut sedang asyik duduk dalam box bayinya sambil memainkan teether berbentuk buah-buahan yang ia gigit-gigit hingga meninggalkan bekas gigi mungil yang hanya berjumlah dua buah di gusi atasnya itu.


“Atau sebenarnya, bayi Kevin menolak minum susu karena giginya gatal. Bagaimana menurutmu Eliana?” tanya sang ibu suri melengkapi saran yang sebelumnya.


“Mungkin begitu, Bu. Tapi …,” Eliana merasa ragu terhadap apa yang terjadi pada anak sepersusuannya itu. Tapi ia sebagai seorang ibu dari bayi Kevin, memiliki feeling yang kuat mengenai apa yang dirasakan bayi laki-laki tersebut.


“Tapi apa, Eliana? Apa kau memiliki firasat lain?” Ibu suri penasaran.


“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan ASI saya ibunda.” Eliana melihat ke arah dadanya sendiri.

__ADS_1


“Kok kamu berpikir begitu?”


“Karena, terkadang ada waktu di mana Kevin masih terlihat sangat ingin menyusu, namun setelah saya sodorkan salah satu, dia menghisap beberapa isapan lalu menangis. Seakan ada yang salah dengan isi dari ASI-nya,” jawab Eliana mengutarakan dugaannya.


Ibu suri manggut-manggut. Bagaimanapun juga ia lebih percaya pada dugaan Eliana yang selama dua puluh empat jam bersama bayi Kevin.


“Kalau begitu, bagaimana jika kita panggil dokter ASI yang waktu itu?” saran ibu suri yang lagi-lagi meminta untuk memanggil dokter.


Eliana  menatap sang ibu suri sejenak lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah, mungkin dokter Arabelle bisa tau apa penyebabnya,” jawab Eliana.


“Ma … maa ….” Sebuah suara menggemaskan mengalihkan perhatian mereka berdua.


Terkejut, Eliana langsung menggendong sang bayi. “Maa … maa ….” Bayi Kevin bersuara lebih riang.


Di usianya yang lima bulan bayi Kevin sudah mampu mengeluarkan suara dan menyebut kata ‘Ma’.

__ADS_1


“Anak pintar, kau memanggil mamamu?” Binar mata ibu suri Paula memuji cucunya.


Eliana menyerahkan bayi Kevin pada neneknya, karena ibu suri terlihat ingin sekali menggendong cucu dari anak pertamanya itu.


“Kemarilah, nenek ingin menggendongmu!” Ibu suri terlihat begitu gemas sambil mengarahkan kedua tangannya untuk menerima bayi Kevin.


“Dayang!” panggil ibu suri Paula.


“Iya, Yang Mulia.”


“Tolong beri perintah untuk dokter Arabelle agar datang ke mari! Eliana mengalami masalah pada air susunya.”


“Baik, Yang Mulia.”


Dayang itu pun segera pergi untuk melaksanakan perintah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2