Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Apa Dia Marah?


__ADS_3

"Terima kasih." Sang pangeran menyimpan kembali cangkir bekas ramuannya ke atas nampan agar dibawa kembali oleh pelayan istana.


"Apa ada lagi yang dibutuhkan, Pangeran?" tanya sang pelayan pria dengan kumis tipis.


"Emmmh, untuk sekarang tidak. Tapi ... dua jam lagi, bawakan aku ramuan yang sama. Persediaan kalian masih ada, kan?" pinta sang pangeran seraya dirinya masih berbaring di atas ranjang milik putri Estelle.


"Masih ada, Yang Mulia, Pangeran. Tapi ...."


"Kenapa?"


"Tapi bahan ramuan hanya tinggal satu dosis lagi, Yang Mulia. Karena barusan Yang Mulia pangeran sudah meminumnya lagi." Sang pelayan mengingatkan.


"Haissh," desah pangeran Arshlan. "Apa putri Estelle masih belum datang?"


Pelayan itu menggeleng.


"Seharusnya dia sudah mendapatkan ginseng hutan itu dan segera pulang. Apa yang membuatnya begitu lama?" keluh pangeran Arshlan lagi.


Sang pelayan hanya diam.


Ia pun mengambil ponselnya dan melihat barangkali putri Estelle mengirim pesan lagi padanya.


[Segores luka pada kulitmu akan kupertanggung jawabkan, Putriku yang cantik. :)] ~ Pangeran Arshlan.


Itu adalah pesan terakhir yang pangeran Arshlan kirimkan. Namun sang putri sama sekali belum memberi balasan. Padahal, tanda centang sudah menandakan jika pesan itu telah dibaca.


"Apa dia marah?" Pangeran Arshlan membaca pesannya itu sambil mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Tidak ada yang salah dengan pesanku padahal." Ia pun meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.


"Oh, iya, Pelayan. Kau boleh pergi! Nanti aku memanggilmu lagi jika aku membutuhkan sesuatu."


Sang pangeran merebahkan punggungnya lagi di atas ranjang milik sang putri. Ia berpikir lagi, tentang ke mana perginya putri Estelle dan mengapa sang putri tak membalas lagi pesannya.


"Dia tidak mungkin kabur dari istana ini, kan? Di sini adalah rumahnya. Semarah-marahnya dia padaku, mana mungkin putri cengeng berani untuk kabur dan tidak pulang ke istananya sendiri," gumam pangeran Arshlan.


Ting


Sebuah pesan masuk ke dalan ponsel pangeran Arshlan.


[Pangeran, istana kami diserang. Menteri Garfield mengamuk dan menyerang raja Gerald. Bila berkenan, tolong bantu Yang Mulia.] ~ Keamanan Raisilian.


"Apa?" Sang pangeran langsung meletakkan ponselnya.


Tanpa ba bi bu, dia pun langsung menanggalkan piyama tidurnya dan kembali memakai jas seperti biasanya.


Sepatu boot.


Dan tak lupa, kacamata.


Cling!


"Aku harus lebih tampan dari Gerald."


Dia pun mengaca. "Ah, si*lan. Kenapa Gerald selalu terlihat lebih tampan!"

__ADS_1


Pangeran Arshlan pun meninggalkan cermin dan terakhir, memasukkan rokok beserta pemantik gas ke dalam jasnya.


"Iyah, kamu memang tidak boleh ketinggalan."


Sang pangeran segera berlari ke luar kamar. Ia melewati para penjaga Noirland yang ada di setiap area yang ia lewati.


Menuju ke area parkir, ia menghampiri tempat motornya terparkir. Motor itu adalah milik raja Gerald yang ia pinjam untuk pergi ke Noirland.


Manusia biasa tidak akan pernah sanggup naik motor antar negara seperti yang dilakukan pangeran Arshlan. Namun, ini adalah pangeran Arshlan, sang naga hitam dari timur. Berjalan kaki dari hutan perbatasan menuju ke istana Raisilian pun pernah ia lakukan.


Para pelayan yang ia lewati segera menyingkir. Beberapa bahkan kehilangan keseimbangan tubuhnya, akibat gerakan pangeran yang begitu cepat. Tempat parkir yang digunakan pangeran Arshlan berada di dekat dapur. Karena area itulah yang paling dekat dengan kamar putri Estelle, jika ia menerobos dengan memanjat tentunya.


Tilililit. Ponsel sang kepala dayang berbunyi.


"Halo?"


"Apa? Apa? Di sana kurang jelas."


Tuuut tuut


"Gawat! Rombongan putri Estelle diserang pembegal!"


Pangeran Arshlan yang hendak menggunakan helm meletakkan kembali helmnya dan menatap para dayang juga pegawai dapur lainnya.


Sang dayang dan pegawai dapur mengerti arti tatapan sang pangeran, dan mereka serentak mengangguk.


"Kirim bantuan ke titik lokasi tempat rombongan sang putri!" titah kepala dayang.

__ADS_1


Tidak ada satu detik, pangeran Arshlan pun menaiki motornya dan keluar dari area istana Noirland.


"Gerald, maafkan aku! Menteri Garfield memang jauh lebih kuat darimu, tapi ini hari keberuntunganmu! Aku harus menyelamatkan gadis cengeng yang sedang sial hari ini!"


__ADS_2