
Dua buah mobil berkejar-kejaran di atas jalanan yang bersisian dengan tebing yang curam.
Psiuu
Sebuah senapan laras panjang hampir saja menembus kaca mobil pangeran Arshlan. Mobil yang ia kendarai ini memang didesain khusus untuk bertarung di jalanan. Sehingga segala jenis peluru tidak akan bisa menembus mobil ini.
Dor dor
Balas sang pangeran yang menembakkan pistolnya pada mobil di depannya. Ia menyetir sambil mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela.
Ia melirik sebuah pohon yang menggantung di depan. Pohon itu hampir roboh, jika ada sedikit saja sesuatu yang menggoyangkannya.
Pangeran Arshlan yang memiliki kemampuan berpikir cepat langsung bertindak. Ia arahkan pistolnya, ia bidik sesuai sasaran dan ....
Dor
Tembakan itu tepat sasaran pada area pohon yang sudah retak.
Krek krek krek Brak
Ciiiiiiiiit
Brak
Ciiit
Pangeran Arshlan ikut menghentikan mobilnya karena mobil target yang terhenti akibat menabrak pohon tumbang di depannya.
Pria itu memasukkan pistolnya kembali ke balik jasnya. Ia pun segera turun dari mobil untuk memeriksa.
__ADS_1
Penampilan Pangeran Arshlan sama sekali tidak berubah. Meski perkelahian jarak jauh yang ia lakukan di atas jalanan ini berhasil membuat kekacauan, namun tak ada satu goresan pun yang berhasil mengenainya.
"Dia masih bernapas," ujar sang Pangeran saat menyentuh lubang hidung wanita yang tergolek lemah dalam mobilnya itu menggunakan dua jarinya.
Kemudian ia berpindah ke jok samping pengemudi, untuk melihat kondisi sniper yang menemani wanita itu.
"Mereka berdua masih hidup."
Pangeran Arshlan bergegas mencari tali dan berniat untuk mengikat lalu membawa kedua narapidana yang kabur itu menggunakan mobilnya.
Namun indra penciumannya mengendus sesuatu.
"Bau bahan bakar," gumamnya sambil menoleh ke arah aspal di bawah mobil.
"Bocor!" Dia terkejut.
Namun dengan segera senyuman miring terbit dari ujung bibirnya.
Disulutnya rokok tersebut dengan korek api, hingga si batang putih menyala pada ujungnya dan berasap.
Satu hisapan, ia embuskan asapnya. Sambil bersandar di belakang mobil narapidana itu.
Hisapan demi hisapan, memperpendek rokok yang ia jepit menggunakan jari telunjuk dan jari tengah itu. Embusan demi embusan mengepulkan asap yang menunjukkan kadar tar dalam rokok tersebut.
Belum sampai rokok itu habis, pria itu pun berjalan menjauh. Melempar sisa puntung rokok ke arah dekat kolong mobil yang dibanjiri oleh bensin.
Ia berjalan dengan santai menuju mobilnya sendiri.
Bruuum
__ADS_1
Mesin mobilnya pun menyala dan ia langsung putar balik menuju ke arah yang berlawanan.
Belum ada sepuluh meter pangeran Arshlan meninggalkan tempat tersebut. Terdengarlah ledakan yang cukup kencang.
DUM!
Pangeran Arshlan melihat melalui kaca spion. Pantulan api yang berkobar dalam cermin cembung itu membuatnya tersenyum.
"Gerald, lunaslah hutang-hutangku!" senyumnya pun terbit dan ia kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Na na na na na na ...!"
*
"Yang Mulia, jalanan di tebing cadas yang menuju ke arah gua reruntuhan terjadi kebakaran." Antony memberikan kabar terbaru pada Raja Gerals.
"Apa ada korban?"
"Sebuah mobil dengan dua orang pengendara yang tewas di tempat."
"Penyebab kebakarannya?"
"Diduga karena kebocoran tanki bahan bakar karena kecelakaan mobil tersebut dengan salah satu pohon yang tumbang di sana."
"Ya sudah! Bersihkan saja tempatnya!"
"Oh ya, Yang Mulia. Sebenarnya, korban yang meninggal dalam kebakaran itu Putri Emilda. Dia berhasil kabur dari penjara di gua reruntuhan," lanjut Antony.
"Hmmm, aku sudah tahu! Persiapkan saja penguburannya!"
__ADS_1
Antony pun mundur dan keluar dari ruangan Raja.
"Aku yang sekarang berhutang pada Arshlan," gumam sang Raja sambil mengetik sesuatu dalam ponselnya.