
Sementara itu di istana Raisilian, ibu suri Paula dan putri Estelle sedang berbunga-bunga karena mendapat berita akan adanya kunjungan ratu Allura.
Banyak hal yang ibu suri persiapkan untuk menyambut kawan lamanya tersebut. Semua itu dibantu oleh putri Estelle atas keinginannya.
"Ibu suri, kau memang baik sekali. Selama aku ada di sini, kau memberi seafood terbaik dari Raisilian. Sekarang ibuku akan datang, kau juga memberi sambutan yang meriah seperti ini. Padahal kau tidak perlu repot-repot," ucap Putri Estelle yang sedang menemani ibu suri Paula membuat persiapan penyambutan.
"Tidak apa-apa, Putri. Ratu Allura tidak setiap hari datang ke mari! Dia adalah kawan lamaku. Kami memperoleh pendidikan di masa yang sama, seperti kau dan Gerald," jawab ibu suri Paula seraya menata bunga-bunga di kamar yang akan dijadikan tempat singgah Ratu Allura.
"Kenapa Yang Mulia Raja tidak ikut berkunjung ke mari?" tanya ibu suri lagi.
Putri Estelle terdiam. Ada kabut yang kembali menghiasi mata beningnya. Ia masih mengingat apa saja hal-hal yang ibunya katakan mengenai ayahnya. Betapa kejamnya sang raja Jeremy terhadap putrinya, yang hendak menjodohkan dirinya dengan raja Morreno untuk menjadi seorang selir.
__ADS_1
Sebagai seorang Ibu yang juga memiliki anak dan juga sesama seorang perempuan, Ibu suri Paula menangkap kesedihan pada wajah Putri Estelle. Meski ibu suri Paula tidak tau apa yang menyebabkan raut wajah putri Estelle berubaha kala menyebut ayahnya.
Segeranya dipeluk gadis Noirland tersebut. Dibelainya belakang kepala Putri Estelle, hingga tanpa aba-aba pecahlah tangis sang Putri di pelukan ibu suri Paula.
"Allura adalah Ratu yang kuat. Kau juga adalah gadis yang kuat," hibur ibu suri Paula yang mengira sang putri sedih memikirkan ibunya.
Putri Estelle terdiam dan hanya melanjutkan isak tangisnya. Ia memang merasa iba mendengar sang ibu yang selalu dimarahi dan dihardik oleh ayahnya. Padahal ibundanya selalu berusaha untuk melakukan pekerjaannya dengan baik.
Tidak seperti yang selir Sofi lakukan selama ini. Wanita ular nan licik itu hanya tau bersenang-senang di Raisilian.
"Terima kasih, ibu suri. Aku ... aku ... aku hanya ingin ayah melihat ke arahku, tanpa bayang-bayang Putri Emilda. Aku juga ingin, ayah mencintai ibu, tanpa terbayang-bayangi selirnya." Putri Estelle mengatakan segala kegundahannya, namun ia tidak mengatakan masalah perjodohan dirinya dengan raja Morreno.
__ADS_1
Ibu suri memeluk Putri Estelle semakin erat karena sang putri terus sesenggukkan. Ia merasa tidak bisa bercerita pada siapapun mengenai masalah perjodohannya.
"Tumpahkan tangis di sini, Nak! Menangislah padaku!" Ibu suri Paula merasa seperti pada anak sendiri saat memeluk putri Estelle.
Sang ibu suri memang merasa iba saat mendengar perlakuan raja Jeremy pada putri Estelle yang pilih kasih tersebut. Padahal, yang lebih pantas mendapat gelar putri sudah jelas putri Estelle, karena terdidik di lingkungan istana dan mendapat pendidikan yang tepat.
"Emmm ... Yang Mulia ibu suri," ucap putri Estelle melepas pelukannya pada ibu suri Paula. "Sepertinya saya harus pamit untuk pergi terlebih dahulu."
Ibu suri Paula mengangguk. "Iya silakan!"
Putri Estelle pun keluar dari kamar tersebut untuk menenangkan pikirannya. Ia butuh waktu untuk sendiri.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku ke taman?" Putri Estelle melihat ke arah taman umum Raisilian yang ternyata ada seseorang sudah berdiri di sana.
"Huuuuft! Aku malas berurusan dengan pria itu!"