Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Pembicaraan Berdua


__ADS_3

"Bersamaku, maukah kau menjadi orang tua untuk Kevin?"


Kata-kata itu? Ciuman itu? Semuanya masih terasa membekas di seluruh indra milik Eliana.


Kelembutan yang masih tersisa membelai di sekujur kulit tubuhnya.


Udara dari napas hangat yang tertiup masih seakan terhirup di indra penciumannya.


Mata hazel yang menatap penuh hasrat dan gelora asmara seakan masih terdamba dalam netranya.


Suara bas yang seksi nan parau, terdesah penuh gelora dan mengucapkan kata-kata indah, seakan masih terngiang-ngiang di telinganya.


Dan juga ... kehangatan pagutan saat mereka saling bertukar saliva, masih terekam jelas pada memori indra pencecapnya.


Eliana benar-benar dimabuk oleh sentuhan yang diberikan oleh Raja Gerald. Pria nomor satu di Raisilian itu yang berhasil mencumbunya. Menyentuh keinti man yang baru saja ia berikan pada seorang pria untuk pertama kali. Ya, ini ciuman pertama bagi Eliana.


"Eliana," panggil Sang Raja yang terbangun dari tidurnya sambil beralaskan guling di kepalanya, seperti biasa. Eliana yang sedari tadi duduk di sampingnya pun menoleh.

__ADS_1


"Iya, Yang Mulia. Anda sudah bangun?" tanya Eli sambil menengok ke arah Raja Gerald.


"Kau tidak tidur?" tanya Sang Raja.


"Hamba tidak mengantuk, Yang Mulia," jawab Eliana.


Sang Raja menggeser kepalanya menjadi lebih dekat pada Eliana, kemudian ia memeluk pinggul Eliana dengan erat.


"Lama tidak bertemu denganmu, aku rindu, Eli!" seru sang Raja pada Eliana yang membuat gadis itu merinding panas dingin di sekitar bulu kuduknya.


Apa Yang Mulia sehat hari ini? Eliana membatin.


Ouh, Yang Mulia mungkin hanya rindu pada Kevin. Tidak mungkin padaku juga, kan?


"Eli ...," panggil Raja Gerald sambil meletakkan kepalanya di atas pangkuan Eliana.


Eliana gugup mendapati Raja Gerald menatapnya dari bawah. "I-iya, Yang Mulia."

__ADS_1


"Aku sebenarnya sedang bingung ...." Sang Raja memulai kembali ceritanya untuk Eliana.


"Bingung kenapa, Yang Mulia?" tanya Eliana yang sebenarnya ia tak terlalu peduli dengan apa yang menjadi kebingungan sang Raja.


"Tadi, aku menghadiri rapat parlemen bersama para anggota kementerian," ujar Sang Raja. "Lalu kami membahas masalah dan mencari solusinya bersama-sama. Namun ... saat kita membicarakan masalah tuna karya bagi para tuna wisma, kami banyak berselisih pendapat," lanjut Raja Gerald.


"Memangnya, kalau boleh hamba tahu, masalah tuna karya bagi para tuna wisma apa yang membuat para anggota parlemen mendebat anda?" tanya Eliana untuk menanggapi perkataan Sang Raja.


"Jadi ... sebagian besar dari para menteri, menginginkan pemberian bantuan langsung tunai untuk para tuna karya tersebut. Namun ...." Sang Raja menggantung ucapannya.


"Namun apa?" tanya Eliana lagi yang menjadi penasaran.


Raja Gerald malah terdiam tak melanjutkan bicaranya, ia membelai pipi Eliana dengan lembut terlebih dahulu sebelum melanjutkan lagi kata-katanya.


"Eliana, jika kau jadi para menteri, bagaimana tindakanmu menghadapi para preman yang berkedok menteri itu?" tanya Raja Gerald. Pria itu kini mulai banya terbuka pada Eliana.


"Hamba ... hamba tidak mengerti, Yang Mulia," jawab Eliana yang memang tak paham apa maksud dari Raja Gerald.

__ADS_1


"Eliana, apakah dengan memberikan bantuan langsung tunai menurutmu bisa menyelesaikan masalah?" tanya Sang Raja lagi.


Eliana berpikir sejenak, lalu ia berkata, "Menurut hamba, tidak Yang Mulia, karena tuna karya itu adalah orang yang tidak punya pekerjaan, maka solusi untuk mereka adalah memberi mereka pekerjaan, Yang Mulia. Jika pihak pemerintah kerajaan memberikan penghasilan cuma-cuma pada rakyatnya tanpa bekerja, itu artinya pemerintah kerajaan setuju agar rakyatnya tidak perlu bekerja."


__ADS_2