Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Ibu Tidak Sakit


__ADS_3

[Apa maksudmu mengirim pesan begitu?]


"Hah? Memang aku mengirim apa?"


Ting


Sebuah pesan masuk lagi pada ponsel putri Estelle.


[Aku nanti akan mengajarimu bagaimana cara bela diri. ]


Putri Estelle semakin mengernyitkan dahinya. "Apa maksud pangeran Arshlan?"


Sang putri merasa tidak meminta untuk diajari bela diri. Namun dirinya melihat pada pesan terdahulu untuk mencari tahu.


[Seandainya aku bisa bela diri dan memiliki banyak tenaga dalam sepertimu.]


"Haaa?"


Putri Estelle menganga sambil menutup mulutnya. "Kenapa aku tulis menjadi pesan dan kukirimkan pada pangeran Arshlan?"

__ADS_1


Sang putri mengetuk-ngetuk dahinya. "Aiiish. Ini, kan, hanya ada dalam pikiranku. Bagaimana bisa aku menulisnya dalam sebuah pesan," keluh sang putri lagi.


"Ada apa, Putri?" tanya ratu Allura yang tengah berbaring di kasur dan melihat putrinya berbicara sendiri sambil duduk di sampingnya.


Putri Estelle segera menyimpan ponselnya. Ia agak gugup karena kedapatan tengah berbicara sendiri akibat sebuah pesan dari pangeran Arshlan.


"Ah, bukan apa-apa. Biasa ... pesan salah sambung," jawab sang putri asal.


"Apa jaringan kerajaan bisa diterobos, kenapa ada orang yang bisa menghubungi Yang Mulia tuan putri dan salah sambung, kemarikan nomornya, Yang Mulia, agar hamba masukkan ke dalam daftar hitam," ucap kepala pengawal.


Sang putri langsung menggenggam erat ponselnya. "Ah, tidak, tidak perlu. Ini yang salah sambung, bukan orang luar, kok. Tapi, temanku. Kalian tenang saja."


Kepala pengawal pun mundur kembali. "Baiklah, kalau begitu."


Sementara itu kepala dayang tersenyum-senyum. "Tidak usah khawatir, orang yang mengirim pesan itu adalah orang paling melindungi tuan putri. Bukan begitu, Yang Mulia Ratu?" tanya sang kepala dayang pada ratu Allura.


Sang ratu tersenyum mengangguk. "Kau benar."


"Aura dari ratu Allura kembali cerah ketika membicarakan hal ini. Sepertinya, Yang Mulia Ratu sangat senang melihat tuan putri berbahagia," timpal sang dokter ikut bicara.

__ADS_1


Sang ratu tersenyum sambil tertawa ringan. "Apalagi jika bisa melihat putri semata wayangku ini menikah, aku akan sangat bahagia."


Putri Estelle bersemu merah di pipinya begitu ia mendengar candaan dari ibundanya. Ia terdiam tak menjawab, namun jantungnya berdentam tak karuan.


"Tidak hanya kau, tapi juga aku." Ibu suri ikut menimpali. "Sayang, nenek benar-benar tak sabar melihat kau menjadi pengantin," lanjut sang ibu suri.


"Aaah, kenapa jadi membahas pernikahan. Itu, kan, masih lama terjadi. Hehe." Putri Estelle tersenyum canggung karena ia sendiri tak tahu apakah dirinya sudah siap untuk menikah atau belum.


"Jangan menunda-nunda pernikahan, sayangm Ibu takut, jika ibu tak memiliki kesempatan untuk melihatmu berjalan dengan suamimu." Ratu Allura berbaring sambil menatap putri Estell di sebelahnya.


"Ibu ingin menimang cucu sebelum ibu pergi," lanjut sang ratu yang mengundang air mata semua orang yang ada di sana.


"Ssst ...! Kenapa ibu bicara begitu? Apa ibu ingin membuatku khawatir?" tanya sang putri berlinangan air mata. "Kau akan selalu bersama kami, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan mencari cara untuk menyembuhkanmu."


"Aku tidak sakit parah, Putri, tidak usah khawatir."


"I-ibu jangan ...-" Sang putri ingin mengatakan 'jangan bohong' pada ratu Allura. Ia sangat tau, jika ratu sedang berbohong kala mengatakan dirinya tidak sakit. Namun, pada akhirnya sang putri tetap pada pilihan pertama, ia akan berpura-pura tidak tau.


"I-ibu jangan ... jangan sakit. Aku tau ibu tidak sakit. Ibu tidak sakit. Ibu hanya kelelahan ...."

__ADS_1


__ADS_2