
“Semua pria di dunia akan takut jika hendak meminangmu. Karena itu artinya mereka sedang menantangku bertarung. Kau tidak ingat, kemarin raja Morreno langsung mengundurkan diri dari tahta dan menceraikan semua istri-istrinya karena dia takut berurusan denganku?”
Setiap kata-kata pangeran Arshlan yang ia dengar ketika mereka berbincang di pinggir kolam saat itu, masih selalu terngiang oleh putri Estelle. Apa jadinya bila ia dan pangeran Arshlan terikat dalam sebuah janji di hadapan pemuka agama dan pemangku adat?
Dirinya dengan gaun putih yang panjang menjuntai ke bawah. Bagian atas punggung yang terbuka di punggung, mempertontonkan mulusnya kulit dari seorang putri Estelle.
Tiara yang indah terpasang di atas rambutnya, berkilau akibat pantulan cahaya matahari pada berlian.
Tangan yang dibungkus dengan sarung tangan putih, membawa sebuket bunga mawar putih, dia berjalan lurus pada sebuah altar, dengan pangeran Arshlan yang tersenyum di ujungnya.
“Ini gila! Ini gila!” Sang putri memegangi kepalanya. “Pernikahan itu tidak boleh terjadi!” Putri Estelle bergidik membayangkan dirinya yang tiba-tiba menjadi sesosok pengantin perempuan bersama dengan pangeran Arshlan.
Blak
Buku yang ada di tangannya pun ia tutup dengan keras.
Dayang yang sedang menunggunya belajar pun terkejut dan tiba-tiba mendongak dan melihat pada tuan putrinya.
“Ada yang bisa dibantu, Tuan Putri?” tanya sang dosen yang sedang mengajari putri Estelle saat itu. Kebetulan, sang putri hanya sedang diberi tugas untuk memahami ulang pelajaran yang ia berikan.
__ADS_1
Sang putri tidak menjawab. Dia memutar-mutar pulpen yang ia pegang, lalu ia kibaskan sedikit rambutnya menggunakan ujung pulpen tersebut.
“Nyonya dosen!” panggil sang putri pada wanita berkacamata yang juga sedang membaca buku yang sama dengan dirinya.
“Iya, Tuan Putri?”
“Aku sudah paham. Sekarang aku … boleh pergi, kan?” Dia menatap nyonya dosen sekilas. “Ada sesuatu yang kubicarakan dengan nenek sekarang!”
Sang putri berlari menuju ke ruangan ibu suri Theresa, neneknya.
“Tuan putri, hendak ke mana?” Sang pelayan mendapati putrinya tiba-tiba berdiri dan keluar dari ruang belajarnya.
“Kejar dia,” ujar sang dosen dengan suara lirih pada para dayang. Namun walaupun lirih, tatapan matanya sungguh sangat tajam.
“Ba-baik, Nyonya.” Bahkan para dayang pun tergagap-gagap menjawabnya.
“Tuan Putri, tunggu … nyonya dosen masih mencari anda.” Sang dayang berteriak mengejar-ngejar putrinya.
Sang putri tidak peduli, dia pun terburu-buru berlari mencari neneknya.
__ADS_1
“Kau lihat nenekku?” tanya putri Estelle pada seorang penjaga yang sedang berjaga.
“Ada di ruangan Yang Mulia Ratu, Tuan Putri,” jawab sang penjaga sambil menundukkan kepalanya.
“Bagus, terima kasih.” Sang putri pun menoleh ke kiri. “Uuups!” Dia melihat dayang yang mengejar dirinya, pada akhirnya sang putri segera berlari sebelum sang dayang mendekat.
“Tuan putri, hamba mohon berhenti!” Suara tegas bergema di telinga sang putri.
Tap tap tap
Sang putri menghentikan langkahnya kala nyonya Arumi menghadangnya di persimpangan jalan. Wanita itu terlihat santai dan tak mengejar sang putri, tapi …. “Kenapa dia tiba-tiba di depanku?” Putri Estelle pun bertanya-tanya dalam hatinya.
Plak … plak … plak …
Nyonya Arumi menepuk-nepuk kipas pada telapak tangannya. Dia berjalan mengitari Putri Estelle.
“Yang Mulia Ibu Suri Theresa, tidak akan suka jika anda menemui beliau dalam keadaan belum menyelesaikan kuliah anda! Hamba mohon kerja samanya! Mari kembali!”
__ADS_1