Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Baju dari Putri Estelle


__ADS_3

Keduanya pun ambruk setelah bermandi peluh. Air mata belum mengering di pelupuk Eliana, rasa sakit menerjang tubuhnya terutama di bagian inti miliknya.


Berbanding terbalik dengan senyum sang Raja yang terlihat begitu puas. Di balik kemarahannya pada Eliana, ada rasa bahagia dan bangga setelah menebar benih miliknya di rahim wanita yang menjadi tawanannya itu.


Kali ini ia bisa pastikan jika semuanya bukanlah mimpi seperti yang kemarin ia lakukan.


Raja Gerald melirik pada Eliana. Perempuan itu masih terpejam, namun ia tahu jika Eliana tidak benar-benar tertidur.


Dengan menggunakan ibu jarinya, Raja Gerald mengusap bulir bening yang hampir menetes dari sudut mata Eliana.


Padahal dia hanyalah gadis penebus hutang yang sangat biasa saja, namun dia memiliki pesona yang sangat luar biasa. Kepolosan dab keluguan Eliana membuatku terjerat dan selalu khawatir untuk tidak memastikan keselamatannya setiap saat.


Mulai sekarang, kau akan menjadi orang penting di kerajaan Raisilian. Jika benih yang kutanam nanti berhasil tumbuh menjadi seorang penerus, maka bersiaplah dirimu untuk menjadi Ratuku, Eliana.


Seandainya Paman Louis dulu tidak memiliki hutang pada negara ini, tentu saja diriku tidak akan bertemu denganmu, Eli. Dan kini, kau sudah membayar lunas hutang ayahmu.


Raja Gerald bergumam dalam hatinya sambil mengusap pipi Eliana. Perlahan gadis itu bergerak dan membuka matanya. Matanya masih agak memerah, karena ia terus menangis sepanjang proses penyatuan mereka tadi.


"Tetaplah di sampingku, Eliana," ucap sang Raja begitu perempuan yang masih tergolek lemah itu menatap ke arahnya.


Bibir Eliana kelu, ia tak percaya dengan apa yang telah mereka lakukan. Ia benar-benar ingin sekali menangis dan menjerit sekeras-kerasnya, namun pita suaranya seakan terikat dengan begitu kencang.

__ADS_1


Apa aku tidak salah mendengar? Semoga ini bukan mimpi, Ya Tuhan.


"Eliana, jadilah Ratuku!" seru Sang Raja pada wanita itu.


Eliana tetap terdiam. Apa aku tidak salah dengar? Dia melamarku!


"Ini perintah, bukan lamaran." Senyum sang Raja terbit begitu manis setelah berkata demikian, seakan bisa mendengar isi hati dari Eliana.


Eliana hanya bisa membalas senyum sang Raja dengan senyum yang tipis. Ia hanya tak ingin terlalu berharap akan kebenaran pendengarannya.


"Aku akan segera mengumumkan berita pernikahan kita dan juga meminta restu sang ibunda." Raja Gerald menatap lekat manik kecoklatan milik Eliana. "Jadi ... persiapkan dirimu untuk itu," imbuhnya.


"Yang Mulia, Ibu suri datang ingin bicara." Sang Pengawal memberi tahu dari luar ruangan.


"Tunggu di ruangan ibu suri saja, biar aku yang ke sana," jawab sang Raja.


Akhirnya mereka pun membersihkan diri.


Sementara Eliana menyusui kembali bayi Kevin, Raja Gerald bergegas untuk pergi menemui ibu suri ke ruangannya.


"Ibunda mencariku?" tanya Raja Gerald dengan hangat sambil duduk di kursi bantal yang tersedia di ruangan ibundanya itu.

__ADS_1


"Sayang, sedang apa kau selalu di kamar Eliana?" tanya Ibu suri Paula sambil tersenyum penuh arti.


"Ibunda tahu aku selalu berada di kamarnya selama ini?"


Sang ibu suri mengangguk sebagai jawabannya.


"Ibu ... bolehkah aku menikahi Eliana?" tanya Raja Gerald dengan sangat serius.


Paula tersenyum lalu berkata, "Perkataan ini sangat aku tunggu sejak beberapa waktu yang lalu, Gerald. Ibu merestuimu," jawab sang ibu suri Paula.


"Apa yang tadi ingin Ibunda katakan padaku?"


"Sore ini, aku mau mengadakan pesta minum teh. Hanya mengundang sedikit keluarga kerajaan," ujarnya.


"Tumben sekali? Ada apa?"


"Pagi tadi, Putri Estelle memberi hadiah untuk kita berupa baju untuk minum teh. Ibu ingin menggunakannya selagi sang Putri masih ada di sini. Jadi mendadak terpikir ibu ingin mengadakan pesta kecil ini. Lagipula sudah lama keluarga kita tak mengadakan pesta," jawabnya.


"Hanya karena itu?" tanya Raja Gerald aneh.


Paula mengangguk. "Kau juga harus memakai baju pemberiannya!"

__ADS_1


__ADS_2