Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kemarahan Eliana 2


__ADS_3

Raja Gerald menganga mendengar bayi Kevin menangis dan omelan Eliana. Tak ada niat dalam hatinya untuk mengacuhkan bahkan menghardik Eliana. Ia hanya terbawa suasana karena banyaknya masalah di kerajaan yang bertumpuk.


Belum lagi masalah tuduhan pencurian kalung pada Eliana yang mati-matian ia cari kebenarannya sampai sekarang. Ia hanya ingin Eliana aman tinggal di dalam istana bersama bayi Kevin tanpa harus membuat masalah.


Raja Gerald sama sekali tak menyangka jika pada akhirnya, ia malah membuat Eliana menangis dan marah. Ia hanya ingin Eliana diam dan tak menimbulkan keributan sampai situasi benar-benar aman. Apalagi jika keberadaan bayi Kevin sampai tercium keluar, itu yang ditakutkan oleh Raja Gerald.


Ternyata rasa paranoidnya terbawa sampai pada sikapnya. Tanpa sengaja, ia membentak Eliana karena rasa takutnya jika sampai ada mata-mata dari paman-pamannya yang mengetahui keberadaan mereka.


"Yang Mulia, kalau seperti ini, apa tidak lebih baik saya pergi saja bersama bayi Kevin? Di luar sana kami lebih bebas. Bayi Kevin pun tak perlu lagi terbayang-bayangi oleh siapa statusnya. Iya, kan?" tuntut Eliana karena sang Raja hanya diam tak membalas perkataannya yang sebelumnya.


Air mata terus luruh berjatuhan di pipi Eliana. Bahkan bayi Kevin terus menangis seiring dengan semakin memerah di wajahnya karena ia sedang demam.


"Bagaimana?" Eliana kembali bertanya.


"Eliana ...," panggil sang Raja perlahan.

__ADS_1


"Yang Mulia tak perlu merasa tak enak hati. Cukup bagi hamba saat Yang Mulia tak percaya lagi pada hamba. Biarkan hamba pergi, Yang Mulia bisa percayakan bayi Kevin pada hamba. Hamba hanya iba bila bayi Kevin harus tumbuh dalam lingkungan terisolasi seperti ini, ini sama sekali tak baik bagi bayi Kevin. Hamba mohon, Yang Mulia mengerti ...," ucap Eliana sambil berderai air mata.


"Kevin hanya butuh dokter, 'kan?" Raja Gerald mengalihkan pembicaraan.


Eliana semakin terheran? Bisa-bisanya Yang Mulia mengabaikan ucapannya yang panjang lebar tadi?


Memang benar-benar, kaum bangsawan yang tidak berperasaan.


Eliana terdiam tak menjawab pertanyaan sang Raja, dirinya juga sedang marah karena merasa tak dihargai lagi.


Sang Raja berbalik badan meninggalkan Eliana. Ia panggil Antony yang menunggu di luar kamar.


"Baik, Yang Mulia," jawab Antony.


"Usahakan dokter itu bisa menjaga privasi Kevin dan Eli! Seperti dokter laktasi dulu!"

__ADS_1


"Segera dilaksanakan, Yang Mulia!"


Sementara itu, di dalam kamar, Eliana dan bayi Kevin kembali dikunci dan gadis itu terdiam meski bayi Kevin terus menangis di pelukannya.


"Hmmm hmmm hmmm," senandung terdengar dari mulut Eliana tanpa terbuka.


Sambil terus meneteskan air mata, gadis itu bersenandung, sementara dalam hatinya dipenuhi kesedihan dan tanda tanya.


Semudah itukah Raja Gerald melupakan rasa cinta padanya? Setelah terakhir, Sang Raja mengucap kata cinta dan ingin menikahinya, namun sekarang apa? Bahkan ia di acuhkan seperti ini. Pendapatnya tak didengar sama sekali.


Setelah kau rengguk manis dariku, kau buang diriku. Setelah aku remuk redam karena kau nikmati tubuhku, kini aku kau tinggalkan bagaikan ampas yang tak kau butuhkan? Apa memang kau selalu merendahkan wanita seperti ini?


Di dalam kamar, Eliana menangis. Ada sepasang mata yang terus mengamati dari kejauhan sejak Eliana meluapkan amarahnya pada Yang Mulia tadi.


"Hmmm, sepertinya, kata Putri Emilda benar. Sang Raja menyembunyikan wanita yang akan jadi calon istrinya di kamar itu. Buktinya, wanita itu berani marah pada Yang Mulia, namun Yang Mulia Gerald sama sekali tidak marah atau membalas wanita itu," gumam wanita tersebut sambil berjalan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


*


Bersambung ...


__ADS_2