
Bergetar, tangan dan kaki sang putri mulai membiru. Tanpa baju penghangat dan juga makanan yang layak untuk ia makan, putri Estelle menderita di bawah rintik hujan yang mulai turun membasahi hutan pinus.
Tubuh sang putri masih menempel pada pepohonan pinus. Air mata membasahi pipinya yang sudah lusuh dan terdapat beberapa luka-luka kecil pada tubuhnya.
“Di … ngin ….” Sang putri merintih merasakan rendahnya suhu malam yang menusuk hingga ke tulang.
“Ssszzh ….” Putri Estelle mendesis, mengisi udara melalui sela-sela giginya. Udara dingin menyentuh langit-langit mulutnya. “Di … ngin ….”
“Di … ngin ….”
“Di … ngin ….”
__ADS_1
Putri Estelle merintih berkali-kali merasakan siksaan hawa dingin pada sekujur tubuhnya. Belum lagi lilitan rasa perih yang menusuk ulu hatinya. Ia merasa lapar, ditambah ikatan pada perutnya sungguh sangat menyiksa.
Air mata terus menetes membasahi pipinya. Beginikah cara Tuhan membalas segala perbuatannya?
Kejahatan apa yang pernah kulakukan padaMu, wahai Tuhan? Kenapa kau siksa aku dengan derita semacam ini. Setelah kau beri aku seorang ayah yang selalu memperlakukanku dengan tidak adil, kau datangkan pula penyakit aneh yang merenggut nyawa ibuku, lalu sekarang siapa orang-orang ini? Mengapa kau izinkan mereka menyakitiku? Dosa apa yang telah kulakukan pada kehidupanku terdahulu?
Sang putri mengeluh dalam hatinya. Ia merintih memanggil nama Tuhan untuk menolongnya. Ia mengeluh juga menyalahkan takdir Tuhan yang teramat menyiksanya.
“Diam!” Bentakkan itu benar-benar terjadi tepat di depan wajahnya.
“Ini!” Pria bercodet yang menjaganya itu menjejalkan sesuatu ke dalam mulut sang putri. Lalu ia tak segan mengikat sela-sela mulut itu, agar sang putri tersekap dan tidak bisa berbicara lagi.
__ADS_1
“Uhuk uhuk!” Sang putri tersedak karena prajurit itu menjejalkan segumpal kain dan diikatkan di rahangnya.
“Ke mana pangeran Aro! Kalau lama-lama kita di sini, bisa-bisa ketahuan!” keluh prajurit bercodet itu.
“Diam kau, Tuan Putri cengeng! Jangan menyusahkan pekerjaanku. Mereka sedang bersenang-senang mencari emas itu, sementara aku ditugaskan untuk menjaga putri cengeng yang menyebalkan sepertimu!” Si prajurit itu terus mengeluh.
Sang putri menangis. Mungkin ini adalah akhir dari hidupnya? Dalam kesengsaraan seperti ini, putri Estelle mengingat mendiang ibunya yang selalu memberikan kenyamanan untuk dirinya. Namun, setelah ibunya tiada, kenyamanan itu tak dapatkan lagi. Hanya saja, meski kenyamanan dari seorang ibu tak ia dapatkan. Sebuah kenyamanan dalam bentuk lain saat ini juga sering ia rasakan.
“Pange … ran Arsh … lan …,” rintih sang putri dengan lirih dan suara yang tidak jelas. Ia menggumamkan nama seseorang yang memberikan rasa berbeda ketika bersama. Kenyamanan dan kehangatan yang mereka rasakan bersama terbayang kembali dalam lintasan pikiran sang putri.
“Pange … ran Arsh … lan …. Tolong aku ….” Ia memohon pada seseorang yang tak ada di dekatnya. Namun satu-satunya harapan yang terlintas dalam benaknya, hanyalah dia, hanyalah pria itu yang telah berhasil membolak-balikkan perasaannya. Meski apa yang digumamkan sang putri tidak jelas, namun suaranya masih bisa didengar.
__ADS_1
“Kamu dari tadi tidak bisa diam, ya, Putri cengeng?” Sang prajurit bercodet itu membentak lagi. "Oh, aku tau. Kamu pasti kedinginan, kan?"
*