
"Bagaimana keadaanmu, sayang? Kau baik-baik saja? Untung ada pangeran Arshlan yang menolongmu. Tapi ... kenapa kalian pulang selarut ini?" Berondongan pertanyaan menyapa mereka.
Ratu Allura menyambut mereka dengan ekspresi khawatir. Ia berlari dari kamarnya menuju ke altar kerajaan, hanya untuk melihat putrinya pulang.
"Aku baik-baik saja, Bu," jawab putri Estelle.
Sang ratu hanya bisa menghela napas dengan perasaan. "Gaunmu kotor begini." Sang ratu berkomentar lagi seraya melihat gaun peach milik sang putri.
"Ini ... hanya terkena lumpur saat di perjalanan tadi."
"Ibu sangat khawatir, kalian ke mana saja? Pengawal bilang kalian memisahkan diri dari mereka."
Sang putri melirik tajam pada pangeran Arshlan. Melihat lirikan yang menghunus itu, sang pangeran pun berinisiatif menjawab.
"Mohon maaf, Yang Mulia, karena telah membuat khawatir. Namun sebenarnya, hamba malah ingin membawanya menginap semalam." Pangeran Arshlan mengedip nakal pada putri Estelle.
"Iish!" Kaki sang pangeran sengaja diinjak oleh putri Estelle.
Sang putri berlalu sambil berdecak, dia pun diikuti oleh para dayang yang sudah mempersiapkan handuk dan segala macam alat untuknya membersihkan diri.
Ratu Allura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku minta maaf atas perilaku putriku," ungkap ratu Allura rendah hati.
Pangeran Arshlan tersenyum. "Justru hamba yang minta maaf, Yang Mulia Ratu. Karena sebenarnya, pembegal yang hampir menyandera putri Estelle adalah prajurit-prajurit dari Yorksland."
Sang ratu mengangguk-angguk. "Aku sudah mendengarnya, Pangeran. Mereka adalah kelompok pengkhianat yang ingin menggulingkanmu, bukan?"
"Betul sekali, Yang Mulia. Terima kasih atas pengertiannya."
Ratu Allura menepuk-nepuk pundak sang pangeran. "Kembalilah ke kamarmu, tinggallah di sini untuk beberapa hari lagi. Para pelayan telah membuat ramuan dari bahan-bahan yang dibeli oleh sang putri tadi!"
__ADS_1
"Sekali lagi, terima kasih untuk kemurahan hati Yang Mulia Ratu."
Sang ratu tersenyum dan mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
*
"Putri, anda pasti telah berkencan dengan sang pangeran?" tanya salah seorang dayang yang sedang memijitnya.
"Itu tidak bisa disebut berkencan," jawab sang putri seraya memejamkan mata.
"Kalau sepasang muda mudi yang masih lajang jalan berdua dan mendatangi tempat indah, lalu saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Itu namanya berkencan, Tuan putri."
"Kami tidak mengungkapkan perasaan satu sama lain."
"Berarti kalian benar, mendatangi tempat yang indah."
"Haah! Emmm ... itu ha-hanya pantai."
"Kami tidak berkencan!"
*
Sementara itu di kamarnya, pangeran Arshlan mulai kembali berkeringat. Ia masih belum meminum ramuan lagi dan malah mengeluarkan banyak tenaga dalam di medan pertempuran tadi.
"Huuuh ...."
Suhu tubuhnya kembali menurun dan keringat dingin mulai membanjiri dahinya lagi. Sang pangeran memutuskan untuk berganti baju dan mandi menggunakan air hangat.
Hangatnya air tidak menolong suhu tubuh yang dingin. Dirinya pun segera mengeringkan diri dan buru-buru mengenakan bathrobe.
"Antony?"
__ADS_1
Sang pangeran melihat layar pop up pada ponselnya yang menunjukkan pesan dari penasihat sahabatnya di Raisilian itu.
"Ratu Paula terluka?" Ia terkejut melihat pesan tersebut.
"Aaawh!"
Pangeran Arshlan merintih lagi.
Brak
Ponsel yang ada di tangannya terjatuh. Tubuhnya bergetar.
Brug
Pangeran Arshlan pun ambruk di sebelah ranjangnya tak sadarkan diri.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Pangeran! Aku membawakan ramuan untukmu!"
Tok tok tok
"Oke! Ini akan sangat jarang terjadi dan aku tidak akan mengulang lagi hal ini. Pangeran! Aku membawa ramuan ini untukmu!"
Tok tok tok
"Ini nenekku yang menyuruhku! Jadi aku akan minta pengawal menggebrak pintu jika kau tidak membukanya!"
__ADS_1
Brak!