Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kode Pintu


__ADS_3

“Tidak mungkin bagaimana?” Eliana yang bertanya-tanya.


“Kau tahu, ahli Mikologi itu apa Eliana?” Raja Gerald menatap serius pada Eliana sambil memegang kedua bahunya dan sedikit mengguncang-guncangkannya.


Gadis itu hanya berkedip-kedip, ia sama sekali tak tahu. “Aku sudah bilang, aku tidak pandai seperti ayahku. Mana aku tahu ahli Mikologi itu apa?” jawab jujur Eliana.


Sang Raja melepaskan tangannya dari kedua bahu Eliana. Kemudian pria muda bergelar Raja itu mengembuskan napasnya dengan kasar. “Semoga kamu salah mengingatnya, Eliana!”


Eliana hanya terdiam sambil mengedikkan kedua bahunya. “Entahlah,” ujarnya.


“Yang Mulia, pintu menuju ke ruang bawah tanah telah terbuka.” Sang pengawal memotong pembicaraan mereka berdua.


“Ah, baiklah! Terima kasih,” jawab Yang Mulia Raja. “Ayo, Eli!” ajak Raja Gerald pada gadis yang berada di sampingnya.


Eliana tampak antusias karena ia sendiri sungguh penasaran. Ia sama sekali tak mengira jika kunci untuk salah satu ruangan penting bagi Raisilian selama ini ada pada dirinya. Apa isi ruangan itu? Mengapa kerajaan Noirland sampai merebutkan kalung ini jika kuncinya sama sekali tidak penting?


Pengawal berjalan menuruni tangga terlebih dahulu, baru kemudian Yang Mulia Raja dan Eliana menyusulnya. Hanya satu orang yang menemani mereka masuk ke ruang bawah tanah, mengingat bagaimana pengapnya ruangan tersebut.


“Pengawal, coba arahkan cahayanya ke mari!” titah Raja Gerald sambil menunjuk pada belahan pintu batu.


Pengawal langsung mengarahkan cahaya senter ke arah yang dimaksud oleh Rajanya.  Dengan segera Sang Raja mengamati simbol tersebut.


Eliana terdiam di belakang Raja Gerald. Ia hanya berdiri sambil memeluk dirinya sendiri. Suasana yang gelap dan penuh debu membuat Eliana merasa bila ruangan ini cukup mencekam. Beruntungnya ada cahaya senter yang dibawa oleh pengawal dan juga lampu yang disorotkan oleh pengawal lainnya dari atas tangga.

__ADS_1


Sang Raja mengeluarkan dua buah kalung yang ia bawa. Kalung miliknya, dan juga kalung milik ELiana. Ia menyatukan kedua kalung itu, dan senyum pun terbit dari wajahnya. “Bingo! Semoga dugaanku benar!” ujarnya senang.


Dimulai dari kalung miliknya terlebih dahulu yang ia pasang pada sisi bagian kiri simbol. Sang Raja tersenyum karena melihat ukuran dari bandul kalung tersebut pas dengan ukuran simbol tersebut. Kemudian ia mengarahkan kalung milik Eliana untuk bagian kana simbol di pintu itu. Ia pasang dengan sedikit ia tekan agar kalung menempel dengan benar.


Tring


Kalung itu pun bercahaya. Eliana dan Raja Gerald berpandangan, keduanya sama-sama merasa penasaran.


Gludug-gludug gludug-gludug


 


 


 


 


Suara gemuruh itu pun berhenti, lalu berganti dengan bunyi desisan yang cukup halus. Perlahan pintu batu itu pun terbelah, gerakannya menerbangkan debu-debu yang ada di sekitarnya.


 


 

__ADS_1


“Uhuk, uhuk, uhuk!” Dengan serempak mereka bertiga terbatuk karena debu-debu yang beterbangan ke arah mereka.


 


 


Setelah sekitar satu menit mereka terbatuk-batuk dan beberapa kalin bersin, akhirnya rasa gatal yang menyerang hidung dan tenggorokannya itu pun reda.


 


 


Sang Raja dan Eliana akhirnya menengok ke arah di depannya. Betapa terkejutnya mereka, ternyata di balik pintu batu yang terlihat sangat primitif itu, terdapat  sebuah pintu lagi yang terbuat dari bahan logam yang mengilap. Selain itu di samping pintu tersebut, terdapat beberapa huruf alphabet yang berderet disertai dengan layarnya. Hal itu menandakan jika pintu ini dikunci lagi dengan menggunakan kode.


 


 


“Huuft! Setelah dengan kalung, sekarang dengan kode! Sungguh rumit hanya untuk membuka sebuah pintu!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2