Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Penyelamatan


__ADS_3

“Kamu dari tadi tidak bisa diam, ya, Putri cengeng?” Sang prajurit bercodet itu membentak lagi.


“Oh, aku tau. Kamu pasti kedinginan, kan?” Prajurit buruk rupa itu mencoba mendekati putri Estelle.


“Kubuka sini kain yang membekapmu!” Dengan sekali tarikan, prajurit jahanam itu melepas kain yang membekap mulut putri Estelle.


“To … long …!” Meski ia tahu itu percuma, namun putri Estelle tetap saja meminta tolong pada pria bercodet di hadapannya.


“Baik, aku akan menolongmu. Aku akan membebaskanmu dari sini! Tapi setelah kamu melayani aku. Hahaha!” Pria bercodet itu tertawa terbahak-bahak.


Ia pun melemparkan lenteranya hingga tangannya terbebas dari benda apapun. Lalu dengan penuh napsu binatang, ia mencoba mendekati sang putri.


“Ja … ngan …!” Sang putri menjerit sambil menutup matanya. Namun prajurit  mulai dengan kurang ajar menyentuh bagian lehernya.


“Aaah … tidak …!” Putri Estelle mencoba memberontak, meski ia tahu itu sulit dan mustahil. Si prajurit dengan wajah buruk rupa itu telah mendekatkan wajahnya ke wajah sang putri.


Putri Estelle memejamkan mata dan berusaha memundurkan wajahnya untuk menghindari pria bercodet yang berusaha menciumnya.


“Slluuurp ….”

__ADS_1


Putri Estelle bergidik sambil berderai air mata ketika lidah dari pria kurang ajar di depannya mulai menyentuh pipi mulusnya.


“Bagian mana dulu, ya? Hehehe ….” Pria itu tertawa puas melihat putri Estelle ketakutan. “Setiap bagian dari tubuhmu sangat menggiurkan, apa aku harus langsung ke bagian inti?” Tangan dari pria tersebut mencoba menjamah ke balik gaun sang putri. Namun putri Estelle mencoba merapatkan kakinya walau dengan lutut yang bergetar.


“Atau bagian ini?” Mata si prajurit bercodet itu menatap nyalang ke bagian gundukan dada sang putri. Seakan melihat hidangan lezat yang siap tersaji untuk dinikmati.


Putri Estelle merasakan tubuhnya melemah. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Jika sampai prajurit itu menyentuhnya, ia akan merasa hancur dan tak ingin bertemu siapa-siapa lagi terutama pangeran Arshlan. Ia merasa malu, bahkan sentuhan-sentuhan pelecehan yang baru saja dilakukan oleh pria bercodet itu telah membuat dirinya merasa kotor.


Sang putri menangis dalam rintihannya. Hatinya telah hancur berkeping-keping. Kini sang prajurit mulai menyobek gaun sang putri dengan mudah. Dengan satu kali ….


Wreeek. Baju sang putri tersobek.


Namun ….


“Aaahk …!” Prajurit buruk rupa itu menjerit dan langsung tersungkur.


“Aaaaaaa …!” Putri Estelle menjerit melihat punggung prajurit itu terdapat luka menganga dan darah berhamburan mengalir ke sekitarnya.


“Maafkan aku yang terlambat,” ucap seseorang dengan pedang berlumuran darah. Dari suaranya, pria itu terdengar hampir menangis. Ia pun langsung terburu-buru melepaskan ikatan pada tangan dan kaki sang putri.

__ADS_1


“Pangeran Arshlan!” Sang putri langsung berhambur pada pria yang menyelamatkannya. Ia menangis sesenggukan dan menumpahkan air mata di bahu pria itu.


“Kita harus pergi, Putri! Jangan sampai mereka mendapati dirimu terbebas, pamanku akan terus mengejar sampai mendapatkanmu.” Sang pangeran berkata seraya melepaskan jasnya. Ia selimutkan jas itu pada tubuh sang putri yang sedikit terbuka karena gaunnya yang robek.


Ia sisipkan tangannya ke belakang punggung dan lutut sang putri, lalu dengan sigap ia bopong wanita yang ia cintai itu meninggalkan tempat tersebut. “Antony telah menunggu kita di bawah.”


“Pangeran Arshlan …,” panggil sang putri dalam gendongan sang pangeran.


“Iya …?” Sang pangeran menjawab seraya terus berlari membawa sang putri.


“Aku mencintaimu.”


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2