
"Apa yang kau lakukan di luar kamarmu, Eliana?" tanya Sang Raja yang kebetulan baru tiba di kamarnya.
Eliana agak takut, pasalnya, terakhir kali ia kepergok keluar dari pintu kamarnya, Raja Gerald sangat marah, dan kemarahan itu berakhir di ranjang.
Sang Raja melihat kegugupan pada diri Eliana, ia pun memutuskan untuk mendekat.
"Bukankah aku sudah meminta untuk mengunci pintu kamarnya? Apa yang kalian lakukan sekarang? Kalian membukanya?" tanya Raja Gerald pada para penjaga pintu di kamar Eliana.
Penjaga itu menunduk, mereka tak berani melakukan pembenaran.
Eliana melihat ke arah para penjaganya yang menunduk karena takut pada sang Raja. Ia pun berinisiaif untuk untuk melindungu penjaga-penjaganya itu.
"Tidak, Yang Mulia Raja. Mereka tidak bersalah. Hamba yang meminta pada mereka." Eliana bertekuk lutut di hadapan sang Raja.
Raja Gerald hanya terdiam tak membalas perkataan Eliana.
"Kunci dia lagi!" seru Raja Gerald.
"Tapi Yang Mulia, Bayi Kevin sakit, dia butuh diobati," balas Eliana memohon.
__ADS_1
Raja Gerald memicing melihat Eliana. Ia ragu, apa benar bayi Kevin sedang sakit.
"Yang Mulia, baiklah, hamba tidak perlu keluar. Tapi setidaknya, tolong hamba, panggilkan dokter untuk bayi Kevin. Badannya panas," tukas Eliana lagi meski sang Raja tak membalas kata-katanya.
Eliana masih bertekuk lutut. Kedua tangannya menyatu, memohon pada Raja Gerald. Matanya berkaca-kaca dengan pupil yang bergetar. "Hamba, mo-"
"Masuk, Eliana!" hardik sang Raja dengan begitu keras.
"Penjaga! Bawa dia!" titah Yang Mulia Raja dengan nada tinggi.
"Ooweeek, oweeek." Tangis dari bayi Kevin pun pecah lagi karena mendengar bisingnya suara dari luar kamar.
Rasa lelah yang masih belum usai, penat dalam hatinya bahkan belum terobati. Bahkan ketika ia baru terbangun dari tidur, langsung disambut rasa khawatir karena sang bayi yang tiba-tiba demam.
Kini ketika ia hanya meminta pertolongan, hanya hardikkan yang ia dapat. Ia bukannya ingin sesuatu yang bersifat materi dan menguntungkan dirinya, ia hanya ingin bayi Kevin diobati, itu saja.
Jika Yang Mulia Raja membenci dirinya, benci saja, tapi tolong pedulikan bayi Kevin. Begitu batin Eliana berteriak.
Tangis bayi Kevin tak kunjung reda. Tubuhnya pun semakin hangat saja, napas bayi Kevin tak beraturan. Eliana semakin khawatir dibuatnya.
__ADS_1
Atas dasar rasa lelah dan sakit yang terus mendera, Eliana pun memberanikan diri.
"Raja tidak berperasaan!" teriak Eliana sambil menatap ke arah pintu.
Sang Raja yang baru saja melangkah hendak meninggalkan kamar Eliana mengurungkan niatnya.
Penjaga yang hendak pintu, dicekal tangannya. Akhirnya daun pintu kamar Eliana pun kembali terbuka dan Yang Mulia Raja pun masuk ke dalam.
"Apa katamu?"
Eliana terkesiap, baru ia sadari apa yang keluar dari mulutnya. Ia benar-benar pening untuk memikirkan kondisinya, sehingga ia tak sengaja mengucapkan hal itu pada Yang Mulia Raja.
Kepalang tanggung. Aku sudah terlanjur mengumpat pada Yang Mulia. Bagaimana ini?
"Coba ulangi! Apa katamu?" perintah Raja Gerald lagi.
"Raja tidak berperasaan," ujar Eliana memberanikan diri. Ia sudah terlanjur berkata demikian, maka ia harus tuntaskan permasalahannya.
"Maksudmu?" Suara sang Raja bernada tinggi.
__ADS_1
"Bayi Kevin sedang sakit. Hamba tidak meminta apapun pada Yang Mulia! Hamba hanya meminta tolong obati bayi Kevin! Tapi Yang Mulia malah menghardik saya! Di mana hati dan perasaan Yang Mulia? Anda bilang ingin dipanggil Papa oleh bayi Kevin, tapi ... apa ini yang dilakukan seorang Papa pada anaknya? Bahkan Yang Mulia sama sekali tidak peduli pada bayi Kevin yang sakit!"