
"Kenapa kamu ceroboh sekali?" Sang Raja mengomel pada Eliana.
Posisi mereka saat itu tidak duduk berdampingan. Karena Sang Raja masih duduk di sofa dengan sekeranjang buah-buahan dan segelas susu kambing di hadapannya, sementara Eliana sedang duduk di pinggir kasurnya.
Gadis itu mengamati jari telunjuk kirinya yang terbalut oleh kain kasa. Ia masih sangat ingat bagaimana sensasi lembut nan hangat mengecup ujung jarinya yang terluka itu.
"Apa sebelumnya kamu tidak pernah mengupas apel?"
"Atau kau tidak terbiasa menggunakan pisau?"
"Jika kepada dirimu sendiri saja kamu seceroboh ini, bagaimana dengan kewaspadaanmu pada bayi Kevin? Aku curiga kamu tidak hati-hati merawatnya!"
Sang Raja mengomel begitu banyak. Bibi Odeth juga berada di ruangan itu, ia mengamati bagaimana Sang Raja yang mengomel tanpa henti pada Eliana. Baru kali ini ia mendengar Yang Mulia Raja berbicara sebanyak ini.
Sementara itu Eliana hanya diam saja, ia mendengar kata-kata Yang Mulia tanpa ada bantahan yang keluar dari mulutnya. Meski sebenarnya, tak begitu dalam hatinya.
Aku bukan ceroboh, Yang Mulia saja yang seenaknya tiba-tiba memberi hitungan. Orang lain, kan, jadi terburu-buru.
__ADS_1
"Padahal, aku sama sekali tak meminta agar kau terburu-buru! Kenapa kau jadi bekerja seperti sedang dikejar harimau?" ucap Sang Raja lagi.
Eliana terperangah mendengar perkataan Sang Raja. Dia bilang tidak memintaku terburu-buru? Lalu apa itu hitungan mundur yang keluar dari mulutnya? Kenapa Yang Mulia sangat menyebalkan dan bertolak belakang dengan Yang Mulia Ibu Suri.
Bibir Eliana terlihat mengerucut dengan wajah yang terus menunduk.
Sementara itu dayang Odeth yang berdiri di sudut ruangan dan sedang memperhatikan keduanya, malah tersenyum-senyum. Entah apa yang lucu, sebagian hatinya dia ingin menertawakan Eli yang menjadi serba salah karena perintah Sang Raja, dan sebagian lagi ia juga ingin menertawakan sifat Sang Raja yang gengsi untuk menyatakan bila sebenarnya ia peduli dengan Eliana. Dasar anak muda! Begitu batinnya.
"Oh, aku mengerti!" Sang Raja mulai berkata lagi. "Kau sengaja menggoreskan pisau ke jarimu ya, kan?" tuduh Raja Gerald sekenanya.
"Mengakulah, maka aku akan mengampunimu!" desak Yang Mulia Raja.
Kenapa aku harus diampuni? Memangnya apa kesalahanku?
Eliana merasa kesal.
"Mengakulah!" desak Raja Gerald pada Eliana.
__ADS_1
"Sa-sama sekali tidak, Yang Mulia," ungkap Eliana dengan hati yang bergetar ketakutan. Aku, kan, hanya tak sengaja menggoreskan pisau ke jariku sendiri? Kenapa aku harus mengaku seperti itu? Lagipula jariku ini sedang sakit, kenapa malah Yang Mulia menghakimiku seakan aku adalah terpidana mati?
"Kau sengaja membuat jarimu tergores oleh pisau karena kau tak ingin menjalani hukumanmu dengan melayaniku, 'kan?" tuduh Sang Raja yang semakin mendesak pada Eliana.
Eliana hanya terdiam. Mengelak salah, memberi jawaban pun salah.
Sang Raja berdiri, ia berjalan ke arah Eliana yang duduk di sisi ranjangnya.
Dengan melipat kedua tangan di depan dadanya, Sang Raja berdiri dan menatap dengan angkuh pada Eliana.
"Mengakulah! Ayo! Mengakulah!" tegas Sang Raja dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Eliana agak mundur, ia menyilangkan tangan di kedua dadanya. Gadis itu terlihat ketakutan.
*
Guys baca ya, aku punya novel baru. Sebenarnya ini novel lama yang sudah kubuat lebih awal daripada nove suamiku seorang raja. Dengan satu dua hal pertimbangan, aku memutuskan untuk menerbitkan novel tersebut. Dengan judul "Married with My Cousin".
__ADS_1