Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Pembicaraan Sebelum Perpisahan


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk," jawab sang putri yang sedang membaca buku.


Semenjak kematian Ratu Allura, putri Estelle lebih giat belajar dan sering turun tangan terhadap masalah kerajaan secara langsung. Pangeran Arshlan dan juga neneknya senantiasa mendampingi prosesnya. Putri Estelle banyak belajar hal baru untuk menjadi seorang ratu.


"Kau masih saja membaca buku, sayang?"


Itu ibu suri Theresa. Orang yang paling rajin menengok kondisi cucunya dan membantu setiap kali dibutuhkan. Istana ini kini hanya dihuni oleh dua orang, yakni sang putri dan ibu suri. Pemimpin kerajaan untuk sementara diambil alih kembali oleh ibu suri sebelum ada penobatan raja dan ratu yang baru.


Putri Estelle segera menutup bukunya. "Aku baru saja mau keluar. Ada apa, Nek?"


Ibu suri duduk di samping kursi cucunya. "Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Aku rasa sekarang sudah saatnya," ucap sang nenek.


"Ah, begitu. Baiklah. Di mana nenek akan mengajakku bicara?"


"Kau bisa datang ke ruanganku setelah makan siang nanti."


"Baik, Nek."


"Sekarang, sebaiknya kau temani pangeran Arshlan. Dia sepertinya mau bersiap untuk kembali ke Yorksland. Jangan lupa kau ajak dia bergabung untuk makan siang sebelum ia pergi."


Sang putri mengangguk dengan tersenyum.

__ADS_1


Ibu suri pun keluar dari ruang sang putri, dan tak lama kemudian sang putri pun juga keluar dari kamarnya.


Dengan diikuti para dayang dan beberapa pengawal, putri Estelle melangkahkan kaki menghampiri seseorang yang sedang menuju ke arahnya.


"K-kau, akan kembali ke kerajaanmu hari ini?" Putri Estelle bertanya seraya memalingkan wajahnya.


Sang pangeran menghentikan langkahnya. Ia simpan kedua tangannya di belakang punggung, lalu tersenyum melihat wajah merona yang sedang membuang pandangannya. "Siapa yang sedang kau ajak bicara?"


Hanya menyipitkan mata dan sedikit melirik pada pria tersebut, putri Estelle tak mampu menjawab pertanyaan dari sang pangeran.


Pangeran Arshlan melangkah lagi mendekatkan dirinya putri Estelle hingga berjarak beberapa kaki saja. Satu tangan ia ulurkan untuk meraih dagu bak lebah bergantung, agar sang pemilik dagu itu mengalihkan pandangan kepada dirinya. "Iya, aku akan pulang hari ini. Beginikah caramu mengucapkan selamat tinggal?"


Putri Estelle terpaksa mengarahkan tatapannya pada pangeran Arshlan. Sentuhan jari sang pangeran pada dagunya menambah kematangan pada wajahnya.


"Apa kau berharap aku ikut bergabung?"


"Itu ... terserah dirimu."


"Apa kau akan kecewa jika aku tidak ikut makan siang bersama kalian?"


Putri Estelle menghela napas sejenak. Ia paham jika pangeran Arshlan sering mempermainkan perasaan wanita melalui kata-katanya.


"Aku akan sampaikan keberatanmu pada nenek."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ikut."


Putri Estelle melanjutkan langkahnya meninggalkan pangeran Arshlan.


Apa yang ingin dikatakan nenek padaku nanti?


Sang putri merasa penasaran perihal pembicaraan yang akan neneknya bahas usai makan siang nanti.


"Bisakah makan siangnya dipercepat?" Pangeran Arshlan tiba-tiba menyamai langkah sang putri dan berjalan beriringan di sampingnya.


"Apa kau kelaparan?"


"Aku hanya sarapan sedikit sekali."


"Bukan urusanku."


Pangeran Arshlan tersenyum lagi, sebenarnya ia menahan tawa karena melihat putri Estelle yang nampak sinis pada dirinya namun pipinya selalu merona setiap bertemu dengan pangeran Arshlan.


"Sepertinya aku tidak akan lama-lama di Yorksland."


Sang putri tak menanggapi perkataan pangeran Arshlan.


"Aku akan membawa keluarga kerajaan Yorksland ke mari nanti. Persiapkan dirimu, karena saat itu aku akan melamarmu secara resmi."

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2