
“Yang Mulia Ibu Suri Theresa, tidak akan suka jika anda menemui beliau dalam keadaan belum menyelesaikan kuliah anda! Hamba mohon kerja samanya! Mari kembali!”
Kalimat-kalimat itu lirih namun penuh penekanan. Seirama dengan tatapan matanya, nyonya Arumi memiliki kelopak mata yang tidak terlalu besar, sehingga tidak banyak bagian bola matanya yang bisa dilihat. Namun dengan mata sipit itu, ia mampu memberikan tatapan yang sangat taja pada anak didik eksklusifnya ini.
“Haiiish!” Putri Estelle mengeluh. Bumerang itu mengarah kembali pada dirinya. Dia berniat ingin menyelesaikan jam kuliah hari itu dengan dalih ingin bertemu neneknya. Namun nyonya Arumi menmbalikkan alasan itu untuk mencegahnya.
Dia tidak berani berdecak. Walau megesalkan, namun putri Estelle cukup menghormati nyonya dosennya yang satu ini, meski terkadang putri Estelle masih menunjukkan sikap manjanya seperti sekarang ini.
“Jika tuan putri merasa sudah dan tidak perlu membaca lagi, tolong kejakan sedikit kuisioner ini. Lalu kumpulkan dan akan hamba periksa sebelum hamba mengakhiri perkuliahan kita!”
Satu lembar kertas pun mendarat di hadapan putri Estelle. Sang putri mendelik mendengar perkataan dosennya.
Ini sangat merepotkan.
“Buat sebuah simulasi perhitungan anggaran kerajaan yang melibatkan harta dan pendapatan yang dimiliki oleh kerajaan dengan seluruh pengeluaran kebutuhan kerajaan dalam satu bulan ke depan!” Putri Estelle membaca soal pertama dalam kertas tersebut. Dia mengembuskan napasnya pelan-pelan agar tak terlihat sedang mengeluh.
__ADS_1
“Hehe,” cengir sang putri saat matanya bersirobok dengan dosen di hadapannya itu.
Ini jawabannya akan sangat panjang, sungguh menjengkelkan.
“Hehe,” senyum sang putri sekali lagi. “Emm, mari kita coba dulu soal nomor dua. Yang jawabannya panjang, kita buat terakhir saja ya ….” Sang putri berbicara pada dirinya sendiri.
“Ok, mari kita lihat, soal nomor dua!” Dia mengangkat kertasnya lebih tinggi.
“Susun anggaran untuk kas kerajaan berdasarkan data dari beban bunga, pendapatan bunga kerajaan dan beban piutang kerajaan di tahun lalu!”
Bukankah laporan anggaran ini sudah disusun oleh bendahara dan pihak kementerian ekonomi? Kenapa aku juga harus mempelajari suatu pekerjaan yang akan dikerjakan oleh orang lain.
Tentu saja hal itu hanya bisa diungkapkan putri Estelle dalam hatinya. Mana berani ia mengeluh demikian di depan gurunya itu.
“Ratu Allura sangat teliti pada setiap aliran dana yang keluar dan masuk pada kerajaan. Seorang ratu harus lebih paham mengenai anggaran kerajaannya dibandingkan orang lain. Meski segala urusan dokumen dan laporan mengenai keuangan akan diurus oleh orang lain, namun seorang ratu harus paham mengenai susunan dokumen dan laporan tersebut. Jangan sampai kerajaan kita mengalami kerugian yang cukup besar hanya karena pemimpinnya tidak cakap dalam mengurus keuangan. Menyerahkan hal sebesar ini kepada orang lain, itu artinya kita juga harus memasang tingkat waspada yang lebih tinggi pada orang tersebut.” Nyonya Arumi menceramahi sang putri mengenai permasalahan ini, seaka-akan ia bisa mendengar suara hati putri Estelle yang menggerutu jika hal ini telah dikerjakan oleh orang lain.
__ADS_1
Wanita berkacamata itu pun mendekatkan wajahnya pada anak didiknya itu, lalu ia berkata, “Untuk masalah harta dunia, tidak ada seorang pun yang bisa kau percaya selain dirimu sendiri! Meskipun itu, suamimu sendiri!”
Blush …
Pangeran Arshlan
Sang putri ingin mengumpati dirinya. Hanya karena nyonya dosen mengatakan kata ‘suamimu’ sang putri langsung teringat pada sang pangeran.
Aku tidak boleh terus-terusan mengingatnya! Aku harus bertemu nenek dan memcari cara untuk membatalkan kesepakatan ini!
Sang putri berdiri setelah nyonya dosen menyelesaikan kata-katanya.
“Nyonya dosen!” Sang putri membungkuk di depan nyonya Arumi. “Aku berjanji akan menyelesaikan tugas darimu malam ini. Tapi sekarang aku ada urusan mendadak yang sangat mengganggu pikiranku. Izinkan aku pergi!”
Sang putri pun berlari tanpa persetujuan dari dosennya.
__ADS_1
“Tuan putri, jangan lari!”