Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Ratu Allura hendak Pergi


__ADS_3

"Aku tidak bisa melarangmu, tapi ... kuharap kau juga perhatikan kesehatanmu. Bukankah akhir-akhir ini pernapasanmu kembali terganggu?" Ibu suri Theresa memberikan pendapatnya.


"Ibu tak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa." Ratu Allura mengusap punggung tangan milik ibu suri.


"Kerajaan ini, aku titipkan sementara pada putri Estelle. Pangeran Arshlan, aku harap kamu bantu dia menangani segera permasalahan di kerajaan. Kepala dayang sudah kupasrahi banyak hal, dia banyak mengerti yang harus kalian lakukan nanti. Sementara waktu, kau istirahatlah di Noirland, sampai seluruh tenaga dalammu pulih!" ujar sang ratu pada pangeran Arshlan.


Ia pun berdiri menghadapi ratu Alura, lalu membungkukkan badannya. "Baik, Yang Mulia, terima kasih atas kepercayaannya."


"Sama-sama, kembalilah ke tempatmu dan lanjutkan makanannya!"


"Baik, Yang Mulia," jawab sang pangeran.


Ibu suri Theresa tersenyum melihat perilaku sang pangeran yang menurutnya sangat manis itu. Pangeran Arshlan selalu menunjukkan sisi lembutnya pada orang tua, terutama pada para perempuan.


Rayuan mautnya bak seorang casanova mencari mangsa, namun sesungguhnya tak satu pun dia pernah tidur dengan wanita. Hal itu sudah sangat diketahui oleh ibu suri Theresa, sehingga ia begitu menyukai pangeran Arshlan, sejak pertama kali pangeran itu datang dan melakukan perjanjian perjodohan dengan mendiang raja Jeremy dulu.


Sang pangeran kembali pada tempat duduknya. Kemudian pandangan ratu Allura beralih oada putrinya.


"Kalau dirimu, bagaimana, Tuan Putri?" tanya sang ratu.


Putri Estelle mengangguk. "Siap tidak siap, aku harus siap, bukan? Karena ibu tetap akan pergi ke Raisilian meski aku melarang, kan?"


Ratu Allura tersenyum. "Maaf, ini merepotkan kalian berdua. Semoga dengan pengalaman ini, kalian bisa belajar memimpin kerajaan suatu saat nanti."

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan sarapan mereka hingga usai. Setelah itu, masing-masing kembali pada kegiatannya yang telah dijadwalkan.


*


Syuuur syuuur


Ratu Allura menyiramkan butiran makanan ikan pada kolam ikan istana.


Saling berlompatan, berlomba, berebut, mereka memakan butiran warna-warni tersebut hingga habis tak bersisa.


Syuuuur syuuur


Sang ratu melakukannya lagi setelah terlihat makanan itu habis di kolam.


Syuuur


Ratu Allura berbalik dan ia tersenyum pada orang yang mengajaknya bicara. "Ada apa, Pangeran Arshlan?" tanyanya.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin menemani Yang Mulia memberi makan ikan," ujar sang pangeran seraya mengambil segenggam makanan ikan yang ada di meja dan meletakkan pada tangannya.


Syuuuur


Sang pangeran ikut menaburkan butiran-butiran itu di atas kolam.

__ADS_1


Ratu Allura hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatannya.


Syuuuur


"Kenapa Yang Mulia tiba-tiba ingin pergi ke Raisilian dan merawat ibu suri Paula?" tanya sang pangeran.


Syuuuur


Ratu Allura masih terdiam.


"Jangan katakan jika Yang Mulia merasa tak punya waktu?" desak sang pangeran.


Syuuuur


Sang ratu menghabiskan seluruh butiran makanan ikan yang ada di tangannya, lalu ia menepuk-nepuk dengan halus agar sisa-sisa butiran tak ada yang menempel di tangannya.


"Aku harus, Pangeran. Paula adalah sahabatku yang sangat dekat sejak kita masih remaja. Bahkan dia juga merawatku dengan sangat penuh kasih ketika penyakitku ini kambuh di Raisilian. Aku ... hanya ingin sedikit membalas budi."


Sang ratu berkaca-kaca.


"Harap Yang Mulia Ratu juga memperhatikan kondisi anda."


"Aku tau, Pangeran. Kukira kau sudah mengerti. Aku ... tidak punya banyak waktu lagi."

__ADS_1


__ADS_2