Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Eliana Sang Pelayan


__ADS_3

Gara-gara Eliana yang tidak menyambut kedatangan Yang Mulia Raja dengan baik, maka kini gadis itu sedang menjalani hukuman dari Sang Raja.


"Silakan, Yang Mulia," Eliana menyuguhkan sebuah nampan yang berisi buah-buahan dan segelas susu kambing untuk Yang Mulia Raja Gerald.


Hukuman yang ia terima kali ini adalah menjadi pelayan sang Raja sekaligus menjadi pengasuh bayi Kevin.


"Suapkan padaku!" titah Raja Gerald sambil membuka mulutnya. "Aaaaa ...."


Eliana mengambil satu buah anggur yang ia suapkan dengan perlahan ke dalam mulut sang Raja.


Saat ini mereka sedang berada di kamar Eliana. Dan Sang Raja sedang duduk santai di atas sofa sambil terus-terusan memerintah Eliana.


"Emmm! Ini enak!" ujar Sang Raja sambil mengunyah anggur tersebut. "Tangan!" pintanya lagi pada Eliana.


"..." Eliana yang tak mengerti hanya mengernyitkan dahinya saja.


"Ulurkan tanganmu kemari!" Raja Gerald memperjelas perintahnya.


"Ooh, a ... i-iya," jawab Eliana yang langsung mengulurkan tangannya ke hadapan Sang Raja meski ia kebingungan.


"Cuuh! Cuuuh!" Sang Raja meludahkan biji anggur ke telapak tangan pelayan pribadinya itu.


Eliana membelalak dan hanya bisa melotot melihat biji bercampur ludah Sang Raja terkumpul di atas telapak tangannya.


Gadis itu menarik lagi tangannya, ia bingung akan membuang biji itu kemana.


"Kemarikan ...," bisik bibi Odeth yang menyodorkan sebuah kantung plastik ke dekat Eliana.

__ADS_1


Eliana langsung membuang biji itu dan mengeringkan tangannya menggunakan lap.


"Eliana ...?" Sang Raja memanggilnya lagi.


"I-iya, Yang Mulia," jawab Eliana yang selalu gugup.


"Mana buahku!" pinta sang Raja lagi.


"Oh, iya, ini." Eliana menyodorkan sebutir anggur lagi, namun yang mulia malah menutup mulutnya.


"Kenapa anggur lagi? Aku mau buah yang lain!" seru Yang Mulia Raja.


"Oh, baik, Yang Mulia. Yang Mulia ingin buah apa?" Eliana mencoba untuk tetap ramah di bawah tekanan mendominasi dari Sang Raja.


Raja Gerald melirik pada keranjang buah di hadapannya. "Apel!" Dia menjatuhkan pilihannya.


"Lima ...!" Sang Raja memulai sebuah hitungan dengan tiba-tiba.


Eliana mendongak, apa maksudnya.


"Kupas dengan cepat! Empat!"


"Oh, i-iya! Maaf Yang Mulia Raja," jawab Eliana yang setengah gugup. Ia mengupas apel itu dengan terburu-buru.


"Tiga!" Hitungan dari Sang Raja masih berjalan.


Dasar gadis bodoh! Senang juga mengerjainya. Raja Gerald tersenyum-senyum.

__ADS_1


"Dua!" Sang Raja melanjutkan hitungannya.


Eliana semakin gelagapan bagai ikan yang diangkat dari air. Ia percepat kupasannya, hingga tinggal sedikit lagi.


"Satu! Aaaaa!" Raja Gerald membuka mulutnya.


"Cepat, mana apelku!" Sang Raja memprotes pada Eliana.


"Maaf, Yang Mulia. Ini sedikit lagi!" Eliana mengupas apel dengan tak karuan. Saking gugupnya tangan Eli menjadi gemetaran.


Dan akhirnya ....


Seeet! Pletak. Pisau dan apel yang dipegang Eliana terjatuh.


"Aaawwwh!" jerit Eliana sambil memegangi jarinya.


"Eliana?" teriak Sang Raja saat melihat darah segar mengucur dari ujung jari Eliana.


Dengan spontan Raja Gerald langsung turun dari sofa dan mengambil tangan Eliana.


Cup. Sruut!


Sang Raja menghisap darah yang mengucur di ujung jari Eliana.


"Ya-Yang Mulia ...," panggil Eliana dengan gugup.


Sementara itu wajah Rajah Gerald terlihat sangat panik, ia terus menghisap darah yang mengucur. "Dayang! Bawakan obat luka! Cepat!" perintah Raja Gerald.

__ADS_1


"Siap, Yang Mulia," jawab bibi Odeth dengan segera mengambilkan benda yang diminta oleh Rajanya.


__ADS_2