Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Berbincang Bertiga di Taman Lilac


__ADS_3

Putri Estelle bersama Ibu Suri Paula dan juga Eliana, sedang duduk bertiga di taman P&G untuk berbincang mengenai hal yang ditanyakan putri Estelle.


"Jadi pada waktu itu, Gerald tiba-tiba datang pada ibu dan menceritakan semuanya."


*


"DNA yang kita dapatkan dari potongan kuku, kulit ari, dan akar rambut, semuanya merujuk pada satu identitas yang sama, yaitu dayang Emma seperti yang telah kami kabarkan pada Yang Mulia sebelumnya." Salah satu petugas forensik melaporkan pada Raja Gerald.


"Lalu, kau bilang ada masalah? Apa masalahnya?" Raja Gerald penasaran.


"Ada beberapa helai rambut yang melilit di jemari kanan mayat dayang tersebut. Diduga bila sang dayang menjambak pelaku terlebih dahulu sebagai perlawanan," jelas sang petugas.


"Kalau begitu, jika rambutnya panjang sampai melilit, itu artinya pelakunya adalah perempuan?"


"Benar sekali, Yang Mulia." Petugas forensik membenarkan dugaan Raja Gerald.


"Siapa?" Raja Gerald semakin penasaran dibuatnya.


"Kami sempat mencocokkan DNA dari rambut tersebut dengan DNA dari seluruh perempuan di Raisilian, sayangnya tidak ada satu pun perempuan yang memiliki DNA yang sama dengan DNA rambut itu. Hingga ...," ujar petugas forensik terpotong.


"Hingga?" Dahi sang Raja berkerut-kerut.


"Hingga kami mencari pada DNA dari kerajaan lain. Dan hasilnya merujuk pada satu nama, yakni ...."

__ADS_1


*


"Apakah itu merujuk pada Putri Emilda?" tanya Putri Estelle yang tidak sabaran.


Ibu suri Paula mengangguk. "Benar sekali, Putri Estelle. DNA itu merujuk pada saudara anda, Putri Emilda."


"Dia bukan saudaraku," ujar Putri Estelle dengan ketus.


Eliana hanya tersenyum-senyum mendengar cerita mereka berdua. Ternyata ia baru tahu, jika selama ia mengurung diri di kamar bersama bayi Kevin telah banyak kejadian yang terjadi.


*


Sementara itu, setelah mengirim Putri Emilda ke tahanan khusus di gua reruntuham, Raja Gerald dan Pangeran Arshlan sedang berbincang.


"Aiish! Tak perlu kau pikirkan, yang penting kau bantu aku untuk mengurusi paman-pamanku. Aku butuh suara dari Raisilian!" ujarnya.


"Tenang saja!" Raja Gerald dan pangeran Arshlan mengadukan tangan mereka yang sama-sama mengepal.


"Sekarang, alasan apa lagi yang mereka buat untuk ingin menjatuhkanmu?" tanya Sang Raja pada kawannya.


"Kau tahu? Alasannya sangat konyol!" Pangeran Arshlan tertawa sendiri.


"Alasan konyol? Apa?" Raja Gerald tak bisa ikut tertawa karena ia sama sekali tak tau apa alasannya.

__ADS_1


"Mereka menggunakan keinginanku sebagai kelemahanku untuk menyerang diriku," jawab sang pangeran.


"Aku tak paham! Keinginanmu yang seperti apa yang bisa dijadikan kelemahan untuk menyerangmu?" tanya balik Raja Gerald.


"Kau tau, 'kan? Bahwa aku ingin melajang seumur hidup dan tak ingin berurusan dengan perempuan sama sekali? Apa lagi harus menikah?" Pangeran Arshlan memutar bola matanya. "Dan mereka menjadikan itu sebagai alasan, mereka bilang jika aku belum memiliki seorang Ratu yang mampu memberi keturunan maka aku tidak bisa naik tahta!" gerutu sang pangeran lagi.


"Hahahhahaaha!" Raja Gerald tertawa terbahak-bahak.


"Sial*n kau menertawakanku!" umpatnya.


"Tidak! Maaf! Aku tidak menertawakanmu! Begini maksudku," ucap Raja Gerald yang akan memulai ceritanya.


"Lebih baik kau menikahlah!" saran Raja Gerald.


"Aku tidak mau!" Sang pangeran ngotot.


"Kau belum tahu nikmatnya seorang wanita, makanya kau tidak mau menikah," ejek Raja Gerald.


"Sial*n memang kau sendiri sudah pernah?" Pangeran Arshlan balas mengejek.


"Hahaha, jangan salah. Aku sudah melamarnya!" tegas sang Raja tanpa ragu.


"Hahaha! Kau bercanda, 'kan, Gerald?"

__ADS_1


__ADS_2