
"Cucu kakek, sudah besaar ...!" timang Tuan Luffy pada Kevin yang usianya sudah berusia satu tahun.
"Kevin ... Keviin ... apa kau tidak ingin digendong oleh nenek? Sejak kemarin kakek terus yang menggendongmu dengan lama," gerutu nyonya Jannet seakan menyindiri suaminya.
"Kevin, nggak mau sama nenek. Lebih baik sama kakek. Kakek, kan, tampan." Tuan Luffy menjawab mewakili Kevin dengan menggunakan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
Tuan Luffy terkekeh melihat istrinya yang sedang cemberut karena ingin menimang Kevin.
Mereka berdua dan seluruh keluarga, sudah mencoba merelakan kepergian Manda. Ketika sang raja memberitahukan perihal bayi Kevin pada mereka saat itu, bukan main bahagianya tuan Luffy dan nyonya Janner.
Mereka berdua menangis haru memeluk sang bayi Kevin saat itu. Mereka seakan memiliki pengganti untuk Manda. Perlahan-lahan rasa kehilangan itu terobati dengan keberadaan bayi Kevin.
Hampir setiap dua minggu sekali, tuan Luffy dan nyonya Jannet mengunjungi istana Raisilian untuk menengok Kevin dan mengasuhnya menggantikan para dayang.
"Seandainya ibu suri Paula ikut bergabung dengan mereka," gumam ratu Eliana seraya bersandar pada bahu sang raja. Mereka sedang melihat tuan Luffy dan nyonya Jannet sedang bermain bersama Kevin seraya berandai-andai jika ibu suri Paula ikut bergabung dengan mereka.
"Aku, agak pesimis dengan kondisi ibunda." Sang raja menutup matanya. Tampak sekali raut kesedihan dalam wajahnya.
__ADS_1
"Kita berdo'a saja. Semua Tuhan yang mengaturnya." Ratu Eliana mencoba membesarkan hati suaminya. "Yang penting kita harus yakin, apapun yang akan terjadi pada kondisi ibu suri Paula, itu adalah yang terbaik untuk semuanya. Kita harus yakin, jika ibunda akan sembuh," himbau ratu Eliana sekali lagi.
"Iya, terima kasih!" Sang raja menoleh ke arah ratunya dan mengecup pucuk rambut yang kecoklatan itu. "Ibunda harus melihat cucunya nanti," ujar sang raja seraya mengelus perut ratu Eliana.
"Itu pasti." Sang ratu memberikan senyum yang teduh untuk suaminya.
"Yang Mulia." Sevda menghampiri ratu Eliana.
"Kenapa?" tanya sang ratu.
"Yah, tapi aku sudah tidak merasakan perutku tegang lagi, Sevda. Lebih baik nanti lagi saja periksanya," timpal sang ratu.
"Yang Mulia, rasa tegang ketika hamil itu namanya kontraksi. Wajar jika sudah usia trimester akhir perut akan sering tegang.Tapi tetap harus diperiksa, karena ditakutkan ini adalah tanda-tanda Yang Mulia Ratu hendak melahirkan," jelas Sevda.
"Tapi ... kan ...?" elak sang ratu.
"Tidak ada tapi-tapi, sayang. Ayo ke sana!" Sang raja mengangkat bahu ratu Eliana agar menjadi tegak. "Sevda, bawa ibu hamil cerewet ini agar mau diperiksa!" titah sang raja.
__ADS_1
"Baik,Yang Mulia Raja," jawab sang asisten ratu itu dengan tegas.
Dengan langkah yang berat, sang ratu pun mencoba untuk melangkah ke arah Sevda dan sang dokter
Memang sebenarnya, sejak kemarin sang ratu sudah merasakan kontraksi pada kandungannya. Hanya saja, rasanya belum terlalu sakit, tidak lama dan kurang intens. Sehingga hal tersebut membuat sang ratu tidak terlalu panik.
Namun Sevda berinisiatif untuk memanggil dokter untuk sang ratu. Meski sang ratu menolak.
Sementara ratu Eliana pergi bersama dokter kandungan, Antony menghampiri Raja Gerald.
"Jadi begitu, Yang Mulia." Antony telah membisikkan sesuatu.
Sang raja pun menjawab, "Baiklah, mari kita coba!"
*
Follow ig author, @kak.ofa
__ADS_1