
Dalam kamarnya, Eliana bingung bagaimana ia mengatakannya pada Sang Raja. Tak dapat dipungkiri olehnya, apa yang dikatakan oleh dokter anak tadi memang benar. Bahkan naluri keibuannya juga mengatakan hal yang sama. Jika bayi Kevin merasa bosan dan ingin melihat dunia luar.
Di tengah kegundahan Eliana memikirkan sang Raja, seseorang terdengar meminta pintu kamar Eliana dibuka.
Eliana menjadi waspada mendengar kondisi di luar.
Cklek
Pintu pun dibuka.
"Ya-Yang Mulia?" sapa Eliana begitu ia melihat pria yang ada dalam pikirannya itu tiba.
Tanpa menghiraukan sapaan Eliana, Raja Gerald langsung berjalan mendekat.
"Jadi ... apa bayi Kevin sudah lebih baik?" tanya Raja Gerald begitu sang Raja masuk ke kamar menjenguk Eliana dan Kevin.
Bingung Eliana menjawab, apa ia harus jujur jika bayi Kevin butuh untuk keluar dari kamar ini.
Terdiam dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Raja Gerald, Eliana berdiri di tepi ranjang.
__ADS_1
Sang Raja langsung menuju ke arah box bayi, di mana bayi Kevin sedang tertidur lelap.
Dibelainya bayi yang tengah tertidur lelap itu. Sepertinya efek obat membuat bayi itu tertidur lelap.
"Kau sudah memberikan obatnya?" tanya Sang Raja lagi.
Namun sama seperti pertanyaan sebelumnya, Eliana hanya diam dan tak berani menjawab. Ia merasa gugup, setelah insiden terakhir saat ia marah-marah namun diabaikan oleh raja Gerald.
Sang Raja menunggu jawaban Eliana sambil menatap bayi Kevin, napas sang bayi yang kembang kempis membuat perut gendutnya naik turun. Hal tersebut membuat Raja Gerald merasa gemas.
Beberapa menit berlalu, Raja Gerald menyadari jika dirinya diabaikan oleh ibu susu bayi Kevin tersebut.
Eliana sadar jika ia sedang dihampiri dan diberi tatapan intimidasi sedemikian rupa, ia semakin menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
"Hei, kau tak menjawab aku?" tanya Raja Gerald begitu ia berada di dekat Eliana.
Eliana membuang muka dan sama sekali mengacuhkan sang Raja. Sebenarnya ia masih marah, sedih, kecewa dan campur aduk. Namun, ia bingung mengutarakannya pada pria nomor satu di kerajaannya itu.
"Dari siapa kau belajar mengacuhkan aku?" Nada suara Raja Gerald mendayu-dayu, seakan mengejek Eliana.
__ADS_1
"Ayo! Lihat aku!" Sang Raja menyejajarkan wajahnya dengan wajah Eliana yang sedang duduk, lalu dengan paksa Raja Gerald mengapit dagu Eliana agar menatap ke arahnya.
"Hei! Bukannya tadi kau marah-marah padaku?" tanya Raja Gerald dengan suara mengejek. Ia sedikit menertawakan Eliana yang sudah kehabisan keberaniannya.
"Ayo! Marahlah padaku lagi!" desak sang Raja yang membuat Eliana semakin kesal.
Lalu keduanya terdiam. Dengan posisi sang Raja masih menatap ke arah Eliana yang duduk di tepi ranjang sambil terus menunduk.
Pada akhirnya, Raja Gerald yang bertekuk lutut di hadapan gadis itu. Ia raih kedua tangan Eliana, lalu satukan di hadapannya.
Dengan terkejut, Eliana berusaha menarik kedua tangannya. Namun, Raja Gerald menahannya.
"Eliana, aku ... minta maaf ...," ucap sang Raja dengan lirih.
Meski terkejut, namun Eliana mencoba untuk tetap tenang. Apa yang sedang Yang Mulia lakukan?
"Pertama, aku sudah salah sangka dan menuduhmu sebagai orang yang memerintahkan dayang Emma untuk mencuri kalung. Padahal, kamu tidak ada kaitannya sama sekali dengan dayang itu. Untuk hal ini, aku minta maaf," kata Sang Raja.
"Ya-Yang Mulia,"
__ADS_1