
"Uhuuk ...!" Setelah menahan sekian lama, akhirnya ratu Allura pun terbatuk juga.
"Ah, maaf, aku mengacaukan terapi ini," ujar ratu Allura berbalik dan menatap pada pangeran Arshlan yang sedang mencoba mengalirkan tenaga dalam melalui punggungnya.
Setelah kesepakatan beberapa hari yang lalu, akhirnya pangeran Arshlan memutuskan untuk mengobati calon ibu mertuanya. Namun karena energi ini telah tertanam dalam waktu yang lama, hal ini menyebabkan kondisi ratu Allura sangat buruk, sehingga energi itu sulit dibersihkan dari tubuhnya.
"Tak apa, Yang Mulia, setidaknya sudah ada beberapa energi hitam yang terbuang," ujar sang pangeran.
"Pangeran Arshlan, terima kasih sudah mau menolongku dan peduli pada kesehatan wanita lemah yang sudah semakin tua ini."
Sang pangeran menatap pada calon ibu mertuanya dengan iba.
"Padahal, aku tau, dirimu dan kerajaanmu sendiri sedang dalam kondisi genting di ujung tanduk. Namun kau masih peduli pada Noirland. Kerajaan ini berhutang banyak padamu .... Ah, tidak ...! Bukan kerajaan ini, tapi aku. Aku yang berhutang banyak padamu."
Pangeran Arshlan tersenyum dan menggeleng. "Tidak ada kata berhutang di antara kita, Yang Mulia Ratu. Hamba juga sebenarnya, tidak bisa memberi harapan yang banyak. Hamba hanya bisa membantu semampu hamba."
__ADS_1
"Kau memang selalu rendah hati."
Pangeran Arshlan tersenyum lagi pada Yang Mulia ratu. Memang benar yang dikatakan sang pangeran, tidak banyak harapan untuk sembuh total bagi Yang Mulia ratu Allura. Seandainya, ia bertemu dan mengobati Yang Mulia ratu Allura dari dulu, mungkin lain lagi ceritanya.
Tapi energi hitam ini, sudah memakan hampu 60% organ dalam Yang Mulia ratu. Meskipun energi hitam itu hilang, tapi organ dalam sang ratu terlanjur rusak. Perbaikannya pun akan butuh waktu lama.
Apalagi energi hitam ini sudah menyatu dengan darah dan daging, akan sangat sulit menghilangkannya.
Antara kagum dan kasihan, pangeran Arshlan mengagumi kekuatan Yang Mulia Ratu dalam menahan rasa sakit selama ini. Tapi juga kasihan, karena dia mampu menahan sakit pada fisiknya, disebabkan hatinya yang lebih sakit melebihi apapun oleh pengkhianatan raja Jeremy. Sehingga sakit pada tubuhnya pun, sudah tak terasa lagi.
Ia mudah merasa kasihan pada wanita terutama yang menjadi ibu dari kawan-kawannya. Itu sebabnya, dia menunjukkan hormat yang dalam pada ibu suri Paula, ratu Allura dan juga ibu suri Theresa.
"Pangeran," panggil sang ratu setelah suasana hening cukup lama. "Apa penyembuhanku membutuhkan tenaga yang besar darimu? Apakah penyembuhanku memberi efek samping yang membahayakanmu, Nak?"
Ratu Allura mendekat pada pangeran Arshlan yang sedang menyeka keringat dingin di dahinya.
__ADS_1
Sang ratu mengusap pipi pangeran Arshlan.
Dingin. Sangat dingin.
Ratu Allura pun langsung menjauhkan tangannya dari tubuh pangeran Arshlan. "Pangeran Arshlan?"
Raut wajahnya terlihat begitu khawatir. Sang ratu takut itu adalah pertanda buruk untuk calon menantunya itu.
"Hamba tidak apa, Yang Mulia Ratu. Ini hal yang biasa. Karena hamba melepas begitu banyak energi, sehingga suhu tubuh hamba menjadi rendah."
Ratu Allura menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku."
"Tidak perlu dipikirkan, Yang Mulia. Ini bukan masalah yang besar." Pangeran Arshlan mencoba menghibur ratu Allura, walau memang benar, dengan sesi terapi ini dirinya harus beristirahat sebulan lamanya.
"Hamba permisi, Yang Mulia Ratu. Hamba akan kembali pada bulan berikutnya untuk terapi selanjutnya."
__ADS_1