
Eliana menjadi ikut terenyuh, ia tak bisa berkata apa-apa jika pada kenyataannya ia tak sendiri lagi. Ada sepupu dan neneknya yang ternyata masih ada dan dipertemukan kembali dengan dirinya. Ini merupakan sesuatu yang tak pernah menjadi mimpi sebelumnya jika dirinya merupakan bagian dari kerajaan Noirland.
“Siapa di belakangmu?” tanya ibu suri menunjuk pada bayi yang menghampiri Eliana dengan merangkak.
“Dia adalah anak dari mendiang Raja Gerry, Nek. Raja Gerald dan aku memutuskan untuk menjaganya,” jawab Eliana.
“Jadi mereka sudah memerankan ibu dan ayah ketika sebelum menikah, Nek! Nakal, kan?” goda Putri Estelle yang membuat Eliana terbelalak.
Sementara di sana mereka semua tertawa. Eliana terkejut dan bingung harus membalas apa.
“Ya, tidak ada bedanya dengan yang bermain gendong-gendongan oleh pangeran Arshlan, padahal mereka baru akan menikah satu tahun lagi.” Tiba-tiba saja Raja Gerald datang dan muncul di pintu kamar Eliana. Dia menimpali pembicaraan melalui panggilan video itu dengan pernyataan yang mencengangkan.
“Jadi … putri Estelle akan menikah dengan pangeran Arshlan?” Eliana bertanya-tanya.
“Tidak!” Putris Estelle buru-buru menyahut. “Aku tidak sedang bermain gendong-gendongan, ya! Dia itu mau menculikku!” Putri Estelle terlihat geram.
“Berarti benar? Putri Estelle telah digendong oleh pangeran Arshlan?” tanya Eliana yang membuat putri Estelle seakan terjebak oleh perkataannya sendiri.
“Arrrgh! Entahlah!” Putri Estelle terlihat kesal. “Dia itu psikopat gila, Eliana. Tolonglah, do’akan agar pernikahan kami dibatalkan saja,” mohon putri Estelle.
__ADS_1
“Jangan bicara yang tidak-tidak, Estelle! Pangeran Arshlan dari Yorksland adalah anak yang baik!” Ibu suri menyanggah perkataan cucunya dan memarahi putri Estelle.
Putri Estelle berpaling dari layar sambil mengerucutkan bibirnya. Sepertinya dirinya menyalahkan Raja Gerald yang memulai pembicaraan tentang pangeran Arshlan.
“Sudah, sudah,” sela ratu Allura. “Sekarang kalian pasti sedang sibuk, kan? Kita putuskan saja sambungannya,” imbuh sang Ratu.
“Dah, sepupu! Besok kita akan bertemu,” salam dari putri Estelle pada Eliana.
Sambungan itu pun segera terputus. Eliana yang sedang memangku bayi Kevin pun berdiri dan menyerahkan kembali tabletnya pada bibi Odeth.
“Ada yang perlu kubicarakan padamu, Eli. Kau ada waktu?” tanya sang Raja.
“Minta tolong pada bibi Odeth terlebih dahulu. Ini sesuatu yang sangat penting,” ujar sang raja.
Eliana pun menuruti perkataan calon suaminya dengan menitipkan bayi Kevin pada bibi Odeth sementara, lalu dirinya pergi menyusul sang raja ke ruangannya.
“Yang Mulia,” panggil Eliana begitu ia membuka pintu ruang kerja Raja Gerald.
Sang Raja yang sedang duduk di kursinya dan membaca sesuatu pun mendongak. “Kemarilah, El!”
__ADS_1
Raja Gerald meminta Eliana untuk menuju ke dekatnya. “Apa mereka saudaramu?” tanya sang Raja sambil menunjukkan beberapa potret dari tablet.
“Ah, iya, ini Vivian dan Rose,” jawab Eliana. “Sedang apa mereka, Yang Mulia?” Eliana mengerutkan alisnya. Untuk apa Raja Gerald menunjukkan potret saudara tirinya yang sedang berbelanja di pasar?
“Mereka menyebarkan sesuatu yang tidak akan kau sukai,” ujar sang raja.
“M-maksudnya?”
“Kedua saudaramu itu mengatakan jika calon Ratu mereka adalah seorang yang menelantarkan saudaranya dalam keadaan kelaparan. Kau bisa dengar sendiri, dalam video ini.”
Eliana memutar video yang ditunjukkan oleh sang raja. Terdengar suara Roseanne yang sedang bersedih karena kelaparan, dia memiliki saudara yang hendak menjadi ratu tapi telah melupakan mereka. Vivian juga tak mau kalah, dia mengatakan jika saudara tiri yang pernah ia tolong telah menelantarkan mereka dan ibunya.
“Bagaimana, El? Perlukah aku membalas mereka yang memutar balikkan fakta?”
Eliana terdiam merenung. “Jangan. Kita undang saja mereka besok, aku akan menjamu mereka.”
__ADS_1