
"Aku mencintaimu," ujar sang pangeran manatap putri Estelle lekat-lekat.
Sang putri mendongak dan manik mereka bertemu. Hanya bertatapan, sampai pangeran Arshlan memalingkan wajahnya.
"Aku hanya bercanda. Kau bisa tidur di tempat ini, aku sudah pamit pada ibu suri, dan dia tahu kita berada di sini." Sang pangeran berbalik dan tak lagi mengurung putri Estelle.
"Lalu, kau ... tidur di mana?" tanya sang putri.
"Tak usah khawatirkan aku, beristirahatlah!" Pangeran Arshlan menuntun sang putri naik ke atas ranjang. Setelah itu dia melangkah dan membuka pintu untuk keluar dari pondok.
"Kau, mau ke mana?" teriak putri Estelle saat pangeran berada di pintu.
"Aku tidak akan pergi jauh. Aku akan menjagamu di luar sini," jawab pangeran Arshlan sambil terus melangkah dan menutup pintu.
Ia berjalan ke tepi pantai dan berdiri di sana.
Grep
Sebuah tangan yang mungil melingkar di pinggangnya. Pangeran menatap tangan itu dan ia tersenyum.
"Jangan pergi!"
Pangeran Arshlan sangat mengenal suara itu dan ia pun berbalik.
"Aku tidak ke mana-mana."
"Temani aku di dalam," pinta sang putri.
"Akan sangat berbahaya jika aku ikut masuk ke dalam."
__ADS_1
"Lebih berbahaya lagi jika kau tinggalkan aku sendirian."
"Kau mau tidur bersamaku?"
Putri Estelle mengangguk. "Asal bersamamu."
Pangeran Arshlan memegang pinggul sang putri, lalu meraih tengkuknya. "Bagaimana jika aku membahayakanmu?"
"Aku tak apa jika itu kamu."
Keduanya pun bertatapan dengan kabut-kabut cinta di antara keduanya. Perlahan pangeran mendekatkan wajahnya.
Kemudian sang putri menyambut hal itu dengan membuka sedikit mulutnya dan memejamkan mata.
Tangan pangeran memiringkan kepala putri dan ia pun menyatukan bibir mereka.
Tanpa disadari oleh sang putri, pangeran mengangkat tubuh mungilnya dan masuk ke dalam pondok. Dengan menggunakan kakinya, sang pangeran menutup pintu dengan menendangnya.
Ia rebahkan putri di atas ranjang. Napasnya memburu membuat dada keduanya naik turun karena menahan hasrat yang ingin segera dilepaskan.
Sang pangeran menindih tubuh putri Estelle. Ia membelai kepala gadis di hadapannya, lalu mengecup kening dan membelai pipi mulus itu.
"Aku tanya kau sekali lagi. Apa kamu mau bersamaku sepanjang malam?" Pangeran Arshlan menatap mata putri Estelle dengan tegas.
Sang putri mengangguk.
"Apapun yang aku lakukan padamu kau mengizinkannya?"
Putri Estelle kembali mengangguk.
__ADS_1
"Kau tidak akan menyesal?"
Sang putri menggeleng. "Aku tidak akan menyesal."
Dimulai dari kecupan-kecupan kecil, sang pangeran meninggalkan tanda-tanda merah di leher putri Estelle.
"Assssh ...." Sang putri mengerang, karena pangeran Arshlan menjepit kulit lehernya dengan kedua bibir milik pangeran.
"Cukup." Pangeran Arshlan tersenyum melihat tanda merah di leher kekasihnya.
"Yang penting aku sudah membuat tanda di sini. Aku tidak akan melakukannya lebih jauh dari ini." Pangeran Arshlan mengusap pucuk kepala sang putri. Ia pun berguling dan akhirnya terbaring di samping putri Estelle.
Sang putri pun tersenyum. "Aku tau kau tidak akan melakukannya."
"Asal bersamamu, cukup dengan berpegangan tangan pun aku mau." Pangeran Arshlan menyatukan tangannya pada sang putri.
Putri Estelle terus tersenyum menatap pangeran Arshlan yang tertidur di hadapannya. "Hanya dengan berpegangan tangan, tak apa?" tanya sang putri.
"Asal bisa seumur hidup bersamamu, hanya seperti ini pun tak apa."
"Aku mau selamanya bersamamu."
"Aku pun."
***
(END)
Tunggu ... masih ada epilog.
__ADS_1