
"I-ibu jangan ... jangan sakit. Aku tau ibu tidak sakit. Ibu tidak sakit. Ibu hanya kelelahan ... tapi meski ibu tidak sakit, ibu tidak boleh pergi ke mana-mana, aku akan memasak untukmu, memijat kakimu, aku ... aku ... aku akan jadi ... anak baik untukmu ibu ...." Sang putri menangis tersedu-sedu dan memeluk ratu Allura.
"Tuan putri." Kepala dayang menitikkan air matanya.
Pasalnya, orang yang memberi tahu penyakit ratu Allura yang sebenarnya pada tuan putri adalah dirinya. Namun, sang putri mendengar percakapan dari ibu suri dan dokter jika ratu Allura ingin merahasiakan penyakit ini darinya, maka dari itu, sang putri pun berpura-pura tidak tahu seperti ini. Namun ... hal ini malah terlihat semakin menyedihkan.
"Sayang ... kau selalu menjadi anak baik, dari dulu, sekarang, bahkan esok hari." Ratu Allura mengusap punggung kepala putri tersebut.
"Berdirilah, tubuhmu berat," ujar sang ratu yang meminta putri Estelle untuk melepas pelukan padanya.
Sang putri pun bangkit dan mengusap air matanya. Ia tersenyum sedikit dan menganggukkan kepala.
"Ibu pasti hendak beristirahat. Aku akan kembali ke kamar," pamit sang putri.
"Iya, selamat malam."
"Emm ... sepertinya, aku juga akan kembali. Jika ada apa-apa, minta dayang untuk memanggilku." Ibu suri Theresa juga ikut berpamitan untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
"Iya, terima kasih ibu, selamat malam." Ratu Allura mempersilakan mereka berdua untuk pergi.
Sementara itu, di kamarnya, putri Estelle mengeluarkan kembali ponselnya.
Kemudian ia mengetikkan sesuatu dalam ponselnya sambil duduk di tepi ranjang berwarna krem itu.
[Aku tadi hanya salah kirim. Maaf!] ~ Putri Estelle.
Ia sendiri bingung harus membalas apa, karena pesan yang ia kirim pada pangeran Arshlan memang sama sekali tak ia rencanakan.
Ting
[Oh, begitu? Benarkah? Jika bukan padaku, memang pada siapa kau meminta belajar bela diri?] ~ Pangeran Arshlan.
Sang putri menganga melihat pangeran malah membalas pesannya. Namun, ia pun akhirnya mengabaikan, karena ia sendiri bingung akan belajar bela diri yang seperti apa?
Putri Estelle menyimpan ponselnya dia atas nakas. Ia menanggalkan gaunnya dan mengambil handuk untuk ia lilitkan dengan asal pada tubuhnya. Ia pun membawa kembali ponselnya dengan niatan untuk mendengar musik relaksasi selama mandi nanti.
__ADS_1
Masuk ke dalam bak mandinya yang cukup luas, sang putri telah menanggalkan seluruh pakaiannya.
Air mandi dengan aroma lavender kesukaannya, menyirami tubuhnya dan menyegarkan. Suhu air yang hangat, terasa seperti menyelimuti dirinya.
Seraya menyetelken musik kesukaannya, sang putri mandi sambil memejamkan mata.
Ibu, bagaimanapun caranya, aku akan berusaha mencari obat untukmu. Pasti ada orang lain selain pangeran Arshlan yang memiliki kekuatan tenaga dalam seperti sang pangeran.
Dalam lamunan sambil menutup mata, putri memikirkan cara pengobatan ibunya.
"Ah, iya!" Putri pun bangkit dari posisinya. "Pangeran pernah mengatakan jika dia memiliki seorang guru yang sangat hebat. Pasti ... pasti guru pangeran Arshlan ini memiliki tenaga dalam yang tinggi dan mampu menyembuhkan ibu. Aku harus diam-diam meminta tolong padanya," gumam sang putri.
Kemudian ia pun mencoba bersandar lagi pada bathtub.
Drrrt drrrt drrrt.
Suara musik berhenti dan beralih menjadi getaran. Putri Estelle membersihkan busa dari tangannya sebelum ia mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Video call? Pangeran Arshlan? Dasar Me*sum! Apa dia tau, jika aku sedang mandi?"