
"Rumput mandelish yang segar, sepertinya ini cukup. Terima kasih!" Putri Estelle menerima seikat rumput berwarna hijau tua dari seorang pedagang di pasar.
"Ini imbalanmu."
Pedagang itu pun membungkuk badan seraya menerima uang dari sang putri. "Ah ini tidak perlu, Yang Mulia Putri Estelle."
"Apa?" Putri Estelle merasa terkejut ketika sang pedagang menolak uang untuk rumput mandelish yang ia dapatkan.
"Rumput itu, saya berikan gratis untuk tuan putri," ungkap sang pedagang lagi.
Putri Estelle menggeleng, dia pun meraih tangan pedagang tersebut. "Aku bilang, ini untukmu. Menerima pemberian dari keluarga kerajaan adalah perintah."
Uang itu pun dipaksa agar diterima sang pedagang.
Pria tua pembawa rumput mandelish itu pun melihat pemberian dari putri Estelle. Tangannya pun bergetar begitu memegang uang yang cukup banyak itu.
"Terima kasih, Putri. Terima kasih!"
Sang putri tersenyum, kemudian ia berbalik dan kembali menuju mobil yang membawanya.
__ADS_1
"Tuan putri, untuk ginseng hutan biar hamba saja yang membawanya. Tuan putri tidak perlu turun langsung seperti ini," ujar sang dayang yang sedari tadi mengikuti putri Estelle.
Putri Estelle tak menanggapi apa yang sang dayang katakan. Ia sibuk menebar senyum dan menyapa para masyarakat yang berjajar.
Mereka semua terlihat antusias dan berkumpul di pasar hanya untuk bertemu dan melihat sang putri secara langsung.
"Semoga Tuhan memberkatimu, Putri."
"Sungguh kecantikan yang memang diturunkan dari seorang dewi."
"Semoga berkah langit menyiram wajahku karena telah melihatmu secara langsung, Tuan Putri."
Apalagi semenjak kematian putri Emilda, semua rumor tentang kejahatan putri Emilda pun terkuak. Lalu yang menjadi korban pada setiap kasus yang dibuat oleh putri Emilda itu pasti putri Estelle. Hal itu menarik simpati rakyat. Sehingga banyak rakyat yang menyukai putri Estelle karena dikenal sebagai putri yang sabar akan perlakuan tidak adil ayah dan anak selir selama ini.
Sang putri terlihat bahagia karena ia memiliki rakyat yang mencintainya. Namun semua itu berbanding terbalik dengan para dayang istana yang merasa cemas dan tak nyaman melihat tuan putri menjadi perhatian banyak orang. Hal itu membuat para pengawal mengetatkan pengamanan, mengawal sang putri untuk segera masuk mobil agar mereka segera pergi ke tempat tujuan.
"Pengawal setelah ini, kita menuju ke petani di pinggir hutan. Biasanya mereka tahu letak ginseng hutan di mana," titah sang putri sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Baik, Tuan Putri." Sang pengawal menutup pintu setelah putri Estelle masuk.
__ADS_1
Pengawal yang lainnya pun berlari.
Splash! Splash! Splash!
Muncratan genangan air pada jalanan yang becek mengenai celana seragam para pengawal yang berlari. Mereka berlari untuk menuju ke dalam mobil masing-masing.
"Yang Mulia, hamba mohon, setelah ini biar hamba saja yang turun?" Dayang istana pendamping putri Estelle terlihat begitu khawatir.
"Antarkan saja ke tempat yang kuminta!" perintah dari sang putri.
Sang dayang kembali terdiam melihat tuan putrinya yang menolak untuk ia gantikan dalam mencari ginseng hutan.
[Aku mendapatkan ini dengan sa ... ngat sulit. Kau berhutang banyak padaku!] ~ Putri Estelle
[Kenapa bisa seperti itu. Rumput mandelish dan ginseng hutan, bisa dengan mudah kau beli di pasar! Bahkan orang dapur istana sudah membuatkan ramuannya untukku! Kenapa kau lama sekali?] ~ Pangeran Arshlan
[Apa? Jadi orang-orang di dapur istana sudah membuatnya?] ~Putri Estelle
Blug
__ADS_1