
"Yang Mulia Ratu Allura, memiliki energi hitam yang tertanam dalam tenggorokannya. Tepatnya, di katup epiglotis, pada pangkal lidahnya. Energi hitam itu, bersifat parasit dan menyebar ke hampir seluruh organ vital milik Yang Mulia ratu dan merusaknya." Pangeran Arshlan berusaha untuk serius.
"Energi hitam? Tertanam dalam tenggorokannya? Kenapa bisa begitu?" Putri Estelle serasa tak percaya, ia benar-benar ingin menolak apa yang ia dengar. Dirinya berharap semua ini hanya kebohongan saja.
"Kenapa bisa begitu? Aku juga tidak tahu. Tapi ... aku punya satu dugaan." Sang pangeran segera bangun, lalu ia mengambil jubah tidur berwarna hitam yang menggantung dan mengenakannya.
"Kamu akan ke mana?" tanya putri Estelle yang terkejut melihat sang pangeran yang bergegas untuk keluar kamarnya.
"Ikut aku, ayo kita memastikan sesuatu!" ajak sang pangeran.
"Memastikan apa?" tanya sang putri sambil agak berteriak, karena pangeran Arshlan yang sudah membuka pintu kamarnya.
Para penjaga pintu dan dayang yang menunggu di luar terkejut lagi karena melihat putri Estelle dan pangeran Arshlan yang berjalan terburu-buru.
"Kau bisa tunjukkan padaku di mana bekas kamar selir Sofi dulu?" pinta sang pangeran.
"Kau ingin ke sana? Untuk apa?"
"Aku dan Raja Gerald menduga jika selir Sofi itu ada kaitannya dengan energi hitam pada tubuh ibumu. Barangkali di kamarnya kita bisa temukan sebuah petunjuk."
"Hmmm baiklah! Ikut aku!" Kali ini putri Estelle yang memimpin perjalanan mereka.
Sebuah pintu di ujung koridor, berwarna biru tua dan mengkilap, dipenuhi ukiran bunga-bunga.
__ADS_1
"Kamar ini?" tanya sang pangeran sambil menunjuk ke arah pintunya.
Putri Estelle mengangguk.
"Terlalu mewah untuk seorang selir tak berguna." Sang pangeran langsung berusaha membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci.
"Apa kamar ini pernah dirubah?" tanya pangeran Arshlan lagi.
"Belum. Nenek belum ingin merubahnya. Entahlah, ia bilang terlalu sakit jika melihat kamar ini, begitupun dengan ibu. Mereka berdua bahkan hampir tidak pernah melewati koridor ini," terang sang putri.
Ctrek
Lampu dinyalakan.
"Meski hanya selir, tapi dia adalah istri kesayangan ayahku." Putri Estelle berucap dengan suara yang sedih.
"Wow!" Pangeran Arshlan bersorak ketika ia membuka loker di meja rias milik mendiang selir Sofi.
"Apa?" Sang putri penasaran dan menghampiri.
"Ini!" Pangeran menunjuk pada sebuah benda berwarna merah muda dengan bentuk silinder panjang.
"Apa ini?" Sang putri sama sekali tidak mengerti benda apa itu, lalu ia mengambil benda itu dari loker tersebut.
__ADS_1
"Apa ini bisa dinyalakan?" tanya sang putri kemudian.
Pangeran mengedikkan bahunya. "Coba saja!" titah sang pangeran.
*Aku tidak menyangka, p*ermainan raja Jeremy dengan selirnya cukup nakal.
Pangeran Arshlan tersenyum penuh arti.
Drrrrrrrrrrrrrrt
"Aaw!" Sang putri menjerit begitu benda yang ia pegang bergetar karena ia menekan tombolnya.
"Kenapa dilempar?" tanya sang pangeran.
"Aku ... hanya terkejut. Maaf," ujar sang putri sambil memungut lagi benda itu dari lantai. Ia pun menekan tombol yang semula hingga benda itu pun berhenti bergetar.
Pangeran Arshlan mencari benda lain dalam loker itu.
"Ada apa lagi?" Sang putri ikut mencari. "Borgol? Selir Sofi punya borgol?" Putri Estelle keheranan. "Untuk apa? Dia tidak pernah menangkap penjahat."
"Borgol itu bukan penjahat, tapi untuk dirinya."
"Maksudnya? Sebenarnya aku juga tidak tahu, benda apa ini?"
__ADS_1