
Konten Dewasa (21+)
Tidak eksplisit. Jangan meminta lebih
*
Seharian pangeran Arshlan memikirkan arti dari ucapan raja Gerald mengenai cara menyembuhkan putri Estelle dari trauma. Dan ia paling tak mengerti dengan yang dimaksud insting laki-laki oleh sahabatnya itu.
Malam itu, sang pangeran akhirnya mulai memberanikan diri untuk mengunjungi putri Estelle.
Ia masuk dan melihat sang putri menatap ke luar jendela dengan tatapan kosongnya. Jejak air mata tampak belum mengering di pipi pucat sang putri.
Sepertinya putri Estelle belum menyadari kehadiran sang pangeran.
"Hai?" sapa pangeran Arshlan memberanikan diri.
Putri Estelle melirik pada siapa yang datang.
"Kamu?" Sang putri nampak terkejut dan tiba-tiba saja langsung menangis sambil memalingkan wajahnya.
"Hei? Kau kenapa?" Pangeran Arshlan berusaha mendekatkan diri pada sang putri.
Namun sang putri malah berdiri dan berjalan mundur menghidari sang pangeran. "Menjauhlah," ujar sang putri dengan lirih.
"Ada apa? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya pangeran Arshlan sambil terus merapatkan diri pada putri Estelle yang terus berjalan mundur hingga punggungnya menabrak tembok.
__ADS_1
Sang putri mengerjap-ngerjapkan mata, ia kebingungan dan tak tau harus berbuat apa. Kemudian ia menangis dan menutupi wajahnya. "Jangan mendekat, aku tidak pantas lagi," ujarnya sambil terus menangis.
"Maksudmu?"
Sang putri pun merosot, ia berjongkok sambil tetap menutupi wajah menggunakan kedua tangannya. "Aku sudah kotor. Aku ... tidak pantas untukmu," jawab sang putri di sela isak tangisnya.
Pangeran Arshlan meraup wajahnya. Ia benar-benar merasa kesal dan tak tau harus berbuat apa.
Tenangkan dirimu, Arshlan. Tenang.
Sang pangeran mencoba menghirup dan mengembuskan napasnya agar merasa lebih tenang.
"Pergi saja kau!" Putri Estelle kembali mengusirnya dalam isak tangis.
Pangeran mencoba ikut berjongkok dan melihat kondisi sang putri.
Sang pangeran mencoba membuka telapak tangan sang putri yang menutupi wajahnya.
"Bagian mana?" tanya pangeran Arshlan dengan suara parau. Karena setelah dalam kondisi ini, ia mulai mengerti, insting seperti apa yang dimaksud raja Gerald.
Putri Estelle menatap pangeran Arshlan yang memegangi tangannya. "Bagian mana yang sudah baj*ngan itu sentuh?"
Sang putri membuang muka dan tak berani menjawab, hanya air mata yang menetes di pipinya.
Pangeran Arshlan mencubit dagu putri Estelle dan memaksanya untuk menatap ke arah sang pangeran.
__ADS_1
"Lihat aku!"
Cup
Pangeran Arshlan mencoba menggunakan instingnya, dan hal inilah yang ingin ia lakukan.
Ia lum*t bibir sang putri dan menautkan lidahnya. Meski agak ragu sang putri perlahan mau membuka mulutnya dan menyambut perlakuan dari sang pangeran.
Pangeran Arshlan membawa putri Estelle berdiri dan membimbingnya menuju ke atas ranjang. Dengan bibir yang masih saling bertautan, sang pangeran mencoba terus mel*mat bibir sang putri agar putri Estelle merasa nyaman.
"Apa dia melakukan hal yang seperti itu padamu?" tanya pangeran Arshlan setelah ia melepaskan tautan bibirnya.
Sang putri menggeleng, prajurit buruk rupa itu memang tidak menciumnya, namun dia berhasil menjejakkan lidahnya pada pipi sang putri. Hanya saja putri Estelle terlalu malu untuk mengakuinya.
Sang pangeran lalu mengarahkan tangannya ke arah dada sang putri. Ada desir aneh yang mengalir dalam darahnya. Lalu ia mencoba meraba gundukan lembut yang tertutup gaun itu.
"Apa dia juga menyentuh ini?" tanya sang pangeran dengan sedikit merem*asnya.
"Aaah ...." Sang putri mendesah sambil menggeleng.
"Syukurlah," ujar sang pangeran. Lalu tangannya berpindah ke bagian bawah. Menyentuh daerah sensitif wanitanya melalui bagian luar. "Apa tangan baj*ngan itu menyentuh yang ini?"
Sang putri mengangguk dengan tetesan air mata.
Darah sang pangeran pun mendidih, menyesal ia belum menyiksa prajurit itu sebelum membunuhnya.
__ADS_1
Pangeran pun akhirnya menci*mi pipi putri Estelle. "Kau mau aku menghilangkan jejaknya?"
Putri Estelle tak menjawab. Namun ia hanya mengangguk dengan pasrah.