
Kriiieet
Sang pengawal yang berada di barisan paling depan, membuka pintu kayu gubuk kecil itu. Sudah lama tidak dipakai, engsel pintu itu berkarat sehingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.
Drap drap drap
langkah kaki para pengawal dan sang Raja membuat lantai itu terlihat bergetar karena menginjak lantai yang terbuat dari papan kayu.
"Bagaimana kalian bisa menyadari, jika di bawah tempat ini ada sebuah ruangan rahasia?" tanya Sang Raja penasaran.
"Bunyinya, Yang Mulia. Dan juga, adanya tiupan udara dari bawah," jawab salah seorang pengawal.
Kemudian pengawal dan Antony berjalan mendekati perapian, dimana ada sebuah pintu menuju ke ruangan rahasia.
"Ayo kita dorong!" Dua orang pengawal mendorong tungku perapian yang ternyata bisa digeser.
Sang Raja cukup terkejut, ternyata di bawah tungku itu ia mendapati sebuah tangga.
Dua orang pengawal dan juga Antony, menemani Yang Mulia Raja untuk turun melihat kondisi di bawah. Sementara yang lainnya berjaga di atas dan di luar gubuk.
__ADS_1
"Silakan, Yang Mulia." Antony mempersilakan Sang Raja masuk setelah satu orang pengawal melangkah masuk. Baru kemudian dirinya, dan disusul oleh seorang pengawal lagi yang mengawal dari belakang.
Pengawal yang paling depan mengarahkan lampu sorot mereka. Cahaya lampu pun membentur pada sebuah dinding besar.
Dan untuk pertama kalinya, Sang Raja pun menginjakkan kakinya di ruang bawah tanah.
Ruangan sempit yang cukup pengap untuk mereka berempat. Pengawal yang paling belakang sengaja tak menutup pintu di atas tangga, hal ini bertujuan agar ruang bawah tanah itu tidak semakin pengap.
Sang Raja memanjangkan napasnya, mencoba untuk menghirup banyak-banyak udara agar oksigen bisa cukup memenuhi paru-parunya. Pun dengan Antony dan sang pengawal, mereka berusaha menyegarkan indra penciumannya dengan menghirup banyak udara.
Namun sayang, bau-bau debu yang menyesakkan, dan juga kotoran-kotoran yang telah lama mengendap, merusak kesegaran udara yang mereka hirup.
"Yang Mulia, coba perhatikan ini," pinta sang pengawal sambil menunjuk pada sebongkah batu yang tertempel di tengah pintu besar itu. Dimana pintu besar itu, juga terbuat dari sebuah batu, sungguh bangunan yang terkesan primitif.
Sang Raja melihat ke arah batu yang menonjol itu, lalu dirinya mendapati sebuah pola lingkaran yang tidak terlalu besar terukir di tengah batu tersebut.
"Sepertinya, pola lingkaran ini yang harus kita selesaikan," ujar Sang Raja.
"Ya, sepertinya ada sebuah benda berbentuk lingkaran untuk menjadi kunci pembuka pintu ini," timpal Antony yang ikut memperhatikan.
__ADS_1
"Jika benar ini buatan Louis, tahun berapa Louis membangun bangunan seperti ini? Ini sungguh primitif sekali," pikir Sang Raja.
"Louis sebagai pembuat bangunan ini hanyalah sebuah dugaan, Yang Mulia. Belum ada berita pasti mengenai siapa yang membuat ruang bawah tanah ini," sahut Sang Pengawal yang satu lagi.
*
Selagi Sang Raja tak ada di istana, sekelompok orang ingin kembali menyabotase keadaan istana.
"Bagaimana? Sudah aman?" Seorang perempuan dengan gaun mewahnya mengendap-endap di samping lorong.
"Sudah, Tuan Putri. Serahkan pada kami," jawab dua orang pengawal yang menjaga.
"Buat para penjaga kamar itu agar tertidur, dan kemudian kita periksa isi di dalam kamar tersebut. Kalian paham?"
"Paham, Tuan Putri!"
"Kalau begitu, cepat laksanakan!"
*
__ADS_1
Si Putri siapa itu yang lagi mengendap-endap di lorong istana? Trus kamar siapa yang mereka satroni, ya?