
"Ayo kita Menikah!" Kata-kata terakhir sang pangeran yang didengar putri Estelle ketika mereka bertemu di jembatan adalah ajakan menikah dari sang pangeran tampan itu.
Namun sang putri belum memberikan jawabannya pada saat itu.
"A-aku ...."
"Ssst .... Karena kau sudah menahanku, mau tidak mau, kau harus menikah denganku." Begitulah perkataan sang pangeran ketika putri Estelle hendak memberikan jawaban atas kesediaannya untuk menikah dengan pangeran Arshlan atau tidak.
Putri Estelle tersenyum sambil duduk di tepi kolam. Mencelupkan kakinya ke dalam kolam dan membiarkan ikan menggigit-gigit kakinya dengan lembut.
"Dia sangat memaksa," ujarnya sambil tersenyum saat mengingat momen bersama sang pangeran siang tadi.
*
Hanya dari satu kalimat, menuntun pada sebuah harapan panjang. Dari satu kalimat yang mengisyaratkan penantian.
__ADS_1
Putri Estelle menengadahkan kepalanya ke atas, menikmati pemandangan malam hari. Satu minggu tak bertemu dengan sang pangeran, bak setahun dalam waktu penuh penantian.
Kabar pangeran Yorksland akan menjadi raja di Noirland sudah menyebar ke mana-mana. Isu-isu mengenai penyatuan tiga kerajaan, mulai menjadi buah bibir masyarakat umum.
"Di tepi jembatan yang menjadi pertemuan antara putri mahkota dari Noirland dengan putra mahkota dari Yorksland, kini menjadi banyak perhatian para masyarakat. Mereka menamai jembatan itu adalah jembatan penyatuan cinta. Pa-"
Klip
Putri Estelle mematikan channel berita dari tabletnya. Lalu ia meletakkan benda pipih itu di atas nakas dan meninggalkannya.
"Apa tidak ada hal berguna lain yang bisa dibahas oleh kantor berita Noirland?" gerutu sang putri seraya berlalu.
Putri Estelle bersemu merah kala sang dayang terang-terangan mengatakan hal itu.
"Di mata para wanita, pangeran Arshlan dengan julukan naga hitam dari timur adalah seorang pangeran yang dingin dan tidak akan menyukai perempuan. Bahkan ia pernah dipermasalahkan oleh paman-pamannya dalam perebutan kekuasaan karena sang pangeran mengatakan ia tak akan menikah dengan perempuan mana pun, jadi ... siapa sangka ia akan ditaklukan oleh putri mahkota dari kerajaan ini. Tentu saja ini akan menjadi hal besar bagi kedua kerajaan," jelas sang dayang panjang lebar dan membuat tuan putri semakin merona dengan jantung berdebar tak karuan.
__ADS_1
"Keluarlah! Aku ingin beristirahat," titah sang putri seraya merebahkan diri di atas sofa bed miliknya.
Sang dayang pun menuruti keinginan sang tuan putri, ia keluar dan meninggalkan putri Estelle yang ingin beristirahat sendirian.
Dalam kamar dengan nuansa vintage yang didominasi warna putih dan krem, putri Estelle merebahkan diri. Bunga-bunga kering tertata rapi dalam bingkai dan vas yang terjajar.
Ibu ... jika aku menikah dan pergi ke Yorksland, maka kau hanya berdua dengan nenek. Apa aku harus meninggalkan kalian berdua?
Dalam istirahatnya, sang putri merenung dan memikirkan kondisi ibu dan neneknya. Karena kedua wanita itu akan ia tinggalkan jika ia pergi ke Yorksland nanti.
Aku akan sangat merindukan mereka.
Sang putri terpejam pada sofa bed miliknya. Ia masih terus bimbang memikirkan kondisi ibunya jika ia tinggal pergi nanti.
"Tuan putri, tuan putri!" Seorang dayang histeris berlari ke dalam kamar sang putri.
__ADS_1
Putri Estelle langsung berdiri dengan spontan karena terkejut.
"Yang ... Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Ratu Allura ...."