Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Apa Salahku?


__ADS_3

"Sebelumnya, aku ingin meluruskan saja padamu," ucap pangeran Arshlan lagi.


"Meluruskan? Apa?" tanya putri Estelle.


"Jika kau tidak bisa mencintaiku dalam kehidupan pernikahan kita nanti, itu tidak apa. Kau hanya perlu berperan menjadi ratu Yorksland dan jangan coba-coba menciptakan skandal di tahun pertama pernikahan kita. Kau boleh mencintai pria lain, tapi itu ... nanti setelah putra mahkota terlahir."


Deg ... deg ... deg ....


"Apa yang kamu maksud?" Putri Estelle menatap nanar pada pangeran Arshlan.


"Tidak ada maksud lain, persis seperti apa yang kukatakan tadi. Apa kau tidak bisa menangkap maksudku?" Sang pangeran mengangkat alisnya, ia menundukkan kepala mendekati sang putri agar kepala mereka sejajar. "Kuyakin otakmu ini pintar."


Sang putri memundurkan wajahnya. Di tengah debaran jantung yang semakin menjadi, sang pangeran malah mendekatkan wajahnya seperti ini. Sontak sang putri meraba pada dadanya sendiri.


Semoga jantungku masih ada di tempatnya.


"Oke ... oke .... Aku paham!" Putri Estelle berkata seketika setelah tubuhnya menjauh dari pangeran Arshlan. "Tapi ... apa?"


Sang putri terkesiap seakan baru menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Aku boleh mencintai pria lain setelah melahirkan putra mahkota?" Sang putri mengulangi perkataan terakhir dari sang pangeran.


"Iya ... memang kenapa?" Pangeran Arshlan mendekatkan lagi dirinya pada sang putri.


Sang putri bergeser lagi.


"Itu ... tidak apa-apa, kan?" tanya sang pangeran lagi seakan tanpa dosa. "Hanya melahirkan satu anak tidak akan merubah apapun darimu? Kau juga mendapatkan keuntungan berupa kestabilan ekonomi untuk kerajaan, lalu pertahanan militer yang lebih kuat, dan Noirland juga akan mendapatkan seorang raja yang tampan dan baik hati seperti aku. Ya, kan? Keuntungan untukmu sangat banyak, maka ... aku hanya meminta seorang anak saja."


Pangeran memperjelas lagi rincian perjanjian mereka. Namun semakin jelas ingatan sang putri akan perjanjian dalam perjodohan mereka, semakin runyam yang terjadi dalam pikirannya.


"Iya, baiklah, kalau begitu. Kita tidak usah saling mencintai dan aku hanya memberimu keturunan untuk putra mahkota!" Sang putri mengerang dalam ucapannya. "Oke, baik!"


Putri Estelle menghentakkan kakinya, dan berjalan dengan langkah kaki yang keras untuk meninggalkan tempat sang pangeran.


Pangeran Arshlan mengusap-usap dagunya, dalam pikirannya, dia tidak melakukan kesalahan apapun, namun putri terlihat kesal karena ucapannya.


Aaah, aku tau. Mungkkin, dia bukan marah, tapi gugup karena berada di dekatku. Iya, mungkin seperti itu.


Drap drap drap

__ADS_1


Saat pangeran Arshlan juga hendak meninggalkan tempatnya, namun getaran karena hentak kaki yang keras terdengar lagi.


Pangeran dengan tubuh tinggi nan atletis itu berbalik lagi dan melihat siapa yang datang.


Dia seorang wanita cantik, namun kali ini ... dia mengerikan.


"Putri Estelle? Ada apa lagi?" Pangeran berusaha menyapa sang putri dengan wajah memerah sematang kepiting asam manis kesukaannya.


"Tidak ada apa-apa!" Putri Estelle menjawab dengan angkuh.


"Kau ingin pergi ke Raisilian, kan?" Putri Estelle tiba-tiba bertanya lagi.


Sang pangeran mengangguk. Pertanyaan sang putri bagaikan todongan pisau ke arah lehernya. "I-iya, memang kenapa?"


"Tidak ada apa-apa!" Lagi-lagi sang putri menjawab dengan jawaban yang sama.


"Kalau begitu cepat pergi ke Raisilian, dan kembali hanya dengan membawa ibuku."


"Kau mengusirku?"

__ADS_1


"Iya!"


"Bukankah tadi kau berterima kasih padaku? Kenapa sekarang seperti ini? Apa salahku?"


__ADS_2