
Kembali ke ruang kerjanya, Raja Gerald bertemu dengan Antony yang sedang menunggunya di depan pintu ruangan itu.
"Silakan Yang Mulia," sambut Antony membuka pintu.
Raja Gerald pun langsung masuk, ia ingin memeriksa bagian mana yang sudah disatroni oleh pencuri itu.
Mata Sang Raja mengedar, meneliti bila ada perubahan yang terjadi pada ruang kerjanya itu.
"Bagaimana keadaan para pengawal yang terkena serangan?" tanya Sang Raja pada Antony.
"Mereka hanya pingsan Yang Mulia," jawab Antony.
"Apa mereka diberi waktu untuk istirahat?" tanya Sang Raja lebih lanjut.
"Ya, Yang Mulia. Kebetulan juga jam jaga mereka sudah habis dan waktunya pergantian." Antony menerangkan lagi.
Sanh Raja mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah," ujarnya
Raja Gerald segera membuka lokernya, dan melihat ke arah wadah kalung dengan bentuk setengah lingkaran yang berwarna merah hati.
Mengangguk-anggukkan kepalanya, Raja Gerald meyakini, ada seseorang yang telah membuka tempat kalung ini. Ia melirik ke arah jam tangan berlapis emas miliknya yang sempat ia tinggalkan di atas wadah kalung itu. Posisi jam itu telah berpindah ke sudut loker, yang artinya ada seseorang yang mencoba membuka tempat kalung ini.
__ADS_1
"Tidak salah lagi ... kalung ini yang mereka cari," gumam Sang Raja.
"Antony," panggil Sang Raja pada penasihat kerajaan itu. Tatapannya berubah menjadi sangat tajam kala ia berjalan mendekati pria tua tersebut.
"A-ada apa, Yang Mulia?" Antony merasa gelagapan karena baru kali ini Sang Raja mudanya menatap seperti demikian ke arahnya.
"Kenapa ini semua bisa terjadi, apa kau sengaja meninggalkan ruang kerjaku agar terlihat seperti kau tidak terlibat dengan kegaduhan ini?" Pertanyaan intimidasi keluar dari mulut Sang Raja. "Mengakulah Antony!"
Antony mengerjap-ngerjapkan matanya, tak menyangka akan mendapat kalimat tuduhan seperti itu dari Sang Raja. "Hamba berani bersumpah, Yang Mulia," ucapnya dengan spontan.
"Hamba sama sekali tidak terlibat dengan kejadian ini," akunya sekali lagi.
"Lalu, kemana kau pergi selama kejadian ini berlangsung?" tanya Sang Raja sambil menunjukkan sisi dominannya.
Sang Raja terdiam lalu berpikir. "Sepertinya saat Eli menggumamkan nama Putri Estelle tadi," ujar Sang Raja.
"Yang Mulia bisa menanyakan ini semua pada penjaga kamar anda, Yang Mulia. Saya bisa memastikan ini," aku dari Antony untuk yang ke-sekian kalinya.
"Putri Estelle," gumam Yang Mulia Raja.
Antony tidak mengerti, mengapa Sang Raja menggumamkan nama dari Putri kerajaan Noirland itu.
__ADS_1
"Putri Estelle, Antony! Putri Estelle," ujar Sang Raja mengulang-ulang.
"Kenapa dengan Tuan Putri Estelle, Yang Mulia?" tanya Antony penasaran.
"Dia yang membuat pengalihan! Dia yang sengaja menyingkirkan dirimu dari area sekitar ruang kerjaku, agar orang suruhannya lebih mudah melumpuhkan para penjaga tanpa ada dirimu!" ujar Sang Raja.
"Padahal hamba sama sekali tidak bisa bertarung," pikir Antony. "Melumpuhkan hamba akan sangat lebih mudah daripada melumpuhkan para penjaga," ujarnya lagi.
"Para penjaga dilumpuhkan dengan bom asap, kan?" tanya Yang Mulia.
"Menurut investigasi, benar seperti itu Yang Mulia," jawab pria penasihat itu.
Tok tok tok
"Siapa?" Antony bersuara dengan agak keras.
"Pengawal, Yang Mulia."
"Masuk!"
Cklek
__ADS_1
"Pihak laboratorium telah menyatakan jika hasil uji pada jamur waktu itu sudah keluar, Yang Mulia."