Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Permintaan Bantuan dari Yorksland


__ADS_3

Eliana duduk di kursi penumpang tepi jendela, pada akhirnya ia berhasil duduk di tempat yang ia inginkan. Itu pun setelah ia (terpaksa) melontarkan banyak gombalan manis sampai ia merasa mual.


Raja Gerald tersenyum-senyum di sampingnya karena merasa telah meraih kemenangan. Ia pun memegang-megang pipinya yang terdapat jejak basah berasal dari kecupan Eliana.


Ada rasa puas tersendiri bagi sang Raja melihat Eliana terus mengerucutkan bibirnya.


"Antony, kemarikan dokumen yang belum selesai kuperiksa!" titah sang raja seraya mengarahkan tangan melintasi kepalanya untuk menengadah pada Antony yang duduk di belakangnya.


"Baik, Yang Mulia."


Antony segera berdiri sambil membawa sedikit dokumen yang belum diselesaikan oleh sang raja.


"Silakan, Yang Mulia," ujar Antony sambil menyodorkan dokumen tersebut.


Eliana melirik dokumen yang dibawa oleh Raja Gerald. Sang Raja memasang meja kecil untuknya. Tampak banyak sekali laporan-laporan yang Eliana tak mengerti.

__ADS_1


Ternyata menjadi seorang pemimpin kerajaan, harus rela bekerja lebih ketika orang lain sedang terlelap. Juga harus rela mengeluarkan materi lebih banyak, ketika orang lain sibuk menghimpunnya.


Eliana merenung akan jalan hidupnya. Apa benar dirinya akan menjadi seorang Ratu? Akankah ia dicintai rakyatnya? Akankah keluarga Raja Gerald yang lain menerimanya?


Tiba-tiba saja gelisah menghantui hatinya. Apakah dirinya yang bahkan tidak lebih baik dari seekor angsa ini layak menjadi Ratu di Raisilian? Bagaimana jika ibu dan saudara tirinya semakin membencinya?


Pikiran buruk banyak mendera Eliana, hingga semua itu ia bawa ke alam mimpi. Sambil menyandarkan kepala pada jendela pesawat, tak ia sadari matanya pun terpejam.


"Boleh aku meminta selimut ...?" bisik Raja Gerald pada seorang pramugari.


Tak lama kemudian, pramugari itu kembali dan langsung memberikan selimutnya pada Yang Mulia Raja.


"Ini selimutnya, Yang Mulia."


"Terima kasih." Sang Raja pun langsung menyelimuti tubuh Eliana yang telah tertidur di sampingnya.

__ADS_1


Raja kembali pada pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Lalu setelah itu, ia menyerahkannya ke Antony.


"Antony, ini dokumen yang kusetujui. Lalu ini yang tidak kusetujui. Tolong tinjau ulang, barangkali aku salah memutuskan," pinta sang Raja pada Antony.


"Baik, Yang Mulia." Antony menerima semua dokumen dan laporan tersebut, kemudian memeriksanya kembali sesuai dengan permintaan Yang Mulia.


"Yang Mulia, anda menolak untuk mengirim bala bantuan militer ke Yorksland? Kenapa?" tanya Antony. Karena setau Antony, Yorksland dan Raisilian memiliki hubungan yang erat, baru kali ini Antony melihat Raja Gerald menolak memberi bantuan pada Yorksland. Apalagi Raisilian memiliki hutang budi pada Pangeran Arshlan. Yang sampai saat ini, sang pangeran bahkan masih di Raisilian.


"Dokumen itu, bukan dibuat oleh Yang Mulia Ratu Yorksland. Itu buatan para perdana menterinya yang menginginkan bantuan tambahan untuk melakukan kudeta pada kerajaan." Raja menjawab pertanyaan Antony.


"Aku berhutang budi pada keluarga pangeran Arshlan dan kedua orang tuanya, yaitu mendiang Raja Michael dan Ratu Maria," lanjut sang Raja.


Penasihat Antony memperhatikan kembali laporan yang dibawanya, tidak ada stempel resmi dalam dokumen permintaan tersebut. Benar apa yang dikatakan Raja Gerald, permintaan ini bukan dari istana Yorksland.


Antony mendongak menatap pada Raja. Lalu senyum tipisnya pun terbit. Yang Mulia, ternyata dirimu semakin dewasa. Semoga kebijaksanaan semakin menyelimuti dirimu. Jangan pernah tergiur harta hingga membuatmu salah arah. Rakyat pasti bangga memiliki Raja sepertimu.

__ADS_1


__ADS_2