Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Diragukan


__ADS_3

"Yang Mulia?" Eliana berbinar melihat Raja Gerald pagi ini datang ke kamarnya. Entah mengapa Eliana sangat penasaran dengan reaksi Sang Raja mengenai kesalahpahaman yang terjadi.


Raja Gerald tak menjawab panggilan Eliana, tak ada senyum hangat yang biasa tersungging kala Raja itu bertemu dengan Eliana seperti biasanya. Wajahnya dingin dengan tatapan kosong, ia berjalan menuju ke arah box bayi Kevin.


"Yang Mulia ...?" panggil Eliana sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih pelan. Gadis itu sendiri menyadari perbedaan yang ada pada Yang Mulia Raja.


"Bayi Kevin baru saja tidur," ujar Eliana sambil berdiri di samping Raja Gerald.


Biasanya Eliana yang akan merasa risih ketika sang Raja berusaha dekat-dekat dengannya, namun kali ini sikap dingin Raja Gerald malah membuatnya sedih.


"Aku hanya ingin menjenguk Kevin," ujarnya.


"Iya, Yang Mulia," jawab Eliana.


Eliana mundur perlahan, memperlebar jarak antara dirinya dan sang Raja. Apa sang Raja mencurigainya? Apa karena kalung itu yang merubah sikap Raja Gerald padanya?


"Eliana?" Raja Gerald memanggil Eliana dengan suara dinginnya.

__ADS_1


"I-iya, Yang Mulia," jawab Eliana lagi.


"Aku tidak ingin basa-basi, apa benar kalung itu sedang kau pakai saat kepala keamanan ada di sini?"


"I-itu benar, apakah itu salah Yang Mulia?"


"Apakah itu salah?" Sang Raja langsung mendekati Eliana dan meremas rahang dagu gadis itu hingga bibirnya mengerucut.


"Kau sudah mencurinya dariku! Kenapa tidak bilang saja padaku jika kau ingin perhiasan! Aku kecewa padamu!" Raja Gerald menepiskan tangannya dengan keras hingga wajah Eliana terpelanting ke samping, rambutnya yang tergerai ikut menyibak seiring dengan gerakan kepalanya.


Air mata mulai menggenang dari pelupuk Eliana. Ini lebih pedih dari yang ia rasakan di rumah bersama ibu dan saudara tirinya dahulu. Mungkin karena perasaannya pada sang Raja, sehingga ia merasa begitu sakit ketika Raja Gerald tidak mempercayainya.


"Hamba tidak mencurinya, Yang Mulia," jawab Eliana.


"Kau masih mengelak?" bentak Raja Gerald.


"Hamba benar-benar tidak mencuri, itu kalung pemberian ayah hamba, Yang Mulia." Gadis itu mencoba untuk jujur.

__ADS_1


"Kau pikir aku percaya? Kalung semewah itu kau dapat dari ayahmu yang memiliki hutang pada negara? Itu sangat mustahil!"


"Hamba tidak berbohong, Yang Mulia. Kalung hamba hanya kalung emas putih biasa, harganya murah, ayah yang membuat sendiri untuk hamba. Ayah bilang seperti itu pada hamba." Eliana berusaha untuk tetap jujur.


"Apa yang hamba ceritakan semua apa adanya, Yang Mulia, hamba tidak berbohong," jelas Eliana sambil berisak tangis.


Raja Gerald sebenarnya tak tega melihat Eliana menangis. Ingin ia menginterogasi lagi gadis itu, tapi air mata terus dikucurkan oleh Eliana, membuat sang Raja merasa goyah.


Tak ingin melihat Eliana menangis, dan tak ingin bayi Kevin terbangun, Raja Gerald pun pergi.


"Yang Mulia, kumohon percayalah pada hamba!" Eliana memeluk kaki Raja Gerald. Namun sang Raja masih tak bergeming.


"Lepas!" ujarnya dengan sangat dingin.


Tidak ada kebohongan dari mata Eliana. Inginku langsung percaya. Tapi semuanya tidak semudah itu Eli! Aku harus mencari bukti lebih dan menemukan pelaku yang sebenarnya.


"Asal kau tahu, Eli! Kalung yang kau gunakan itu bukan emas putih biasa! Tapi itu adalah kalung platina asli. Itu yang membuatku tak percaya, darimana Louis bisa memberi kalung mewah itu, lagipula bentuknya juga sangat mirip dengan kalung peninggalan mendiang kakakku," jelas Sang Raja sambil melangkah pergi.

__ADS_1


"Jadi maaf! Aku tak bisa percaya begitu saja padamu!"


__ADS_2