
“Aku berjanji, Ibunda.” Ucapan pangeran Arshlan yang sangat mantap itu terus terngiang-ngiang di telinga putri Estelle.
“Dia tidak sedang bersungguh-sungguh, kan, waktu itu?” gumam putri Estelle seorang diri. Dirinya kini sudah berada di Noirland setelah beberapa hari lalu melakukan perjalanan kembali dari Raisilian.
Splash!
Splash!
Putri Estelle memainkan air yang ada di kolam. Kakinya ia rendam sampai lutut, sementara dirinya duduk di tepian kolam itu. Ujung-ujung rambutnya basah terkena sedikit cipratan air, kolam ikan ini adalah tempat favoritnya di istana.
Selain karena dekat dengan kamarnya, di kolam ini juga terdapat banyak ikan-ikan kecil yang akan menggigit-gigit kakinya dengan halus. Gigitan-gigitan kecil dari ikan tersebut dipercaya bisa menjadi terapi.
Sang putri menengadahkan kepalanya. Tangannya ia gunakan untuk menopang badan ke belakang. Ia pejamkan mata dan menikmati sensasi geli yang ditimbulkan oleh ikan-ikan itu di kedua betis dan telapak kakinya.
“Seandainya terapi ini bisa menghilangkan ingatan tentang pangeran Arshlan,” gumamnya seraya terus memejamkan mata.
“Oh, jadi diriku sekarang terus berada dalam ingatanmu?”
Suar itu mengejutkan sang putri dirinya pun membuka mata dan …. “Aaaaak …!”
Jedug
Dahi mereka berbenturan. “Aaaaw!”
Ini semua dikarenakan sang pangeran yang tiba-tiba ada di atas wajah sang putri. Hingga putri Estelle reflek dan menabrakkan dahinya ketika dirinya hendak bangun.
“Aiiiish! Apa yang kau lakukan?” gerutu putri Estelle pada pangeran Arshlan. Dia mengusap dahinya dan menggosoknya menggunakan rambut.
__ADS_1
“Kau sendiri, sedang apa?” timpal pangeran Arshlan dengan pertanyaan yang sama.
“Sini, aku bantu!” Pangeran Arshlan mengulurkan tangannya untuk membantu putri Estelle yang hendak keluar dari kolam.
“Tidak perlu!” Putri Estelle menjawabnya dengan wajah yang cemberut.
Dia keluar sendiri dari kolam dan mengabaikan uluran tangan sang pangeran.
“Apa kau tidak tau? Area ini adalah area privasiku!” Putri Estelle terlihat tidak suka dengan kehadiran pangeran Arshlan yang tiba-tiba.
Sang pangeran menarik kembali uluran tangannya, dan menyimpan ke dalam sakunya. Dia pun dengan santai menjawab perkataan putri Estelle. “Semua pelayan dan penjaga memperbolehkan aku ke mari, bahkan ratu Allura dan ibu suri pun melakukan hal yang sama. Aku pikir ini tempat yang boleh dikunjungi siapa saja.”
Putri Estelle mendengus seraya mengeringkan kaki dan badannya.
“Emmmh, aku tau! Sepertinya mereka semua sudah tahu jika aku adalah calon suamimu, sehingga mereka membiarkan aku menemui dirimu. Bahkan sepertinya, jika kau sedang berada dalam kamar mandi, aku diperbolehkan masuk,” seloroh sang pangeran tanpa merasa berdosa.
Pangeran Arshlan tersenyum dan menerima handuk itu.
“Berikan!” Sang putri merebut kembali handuknya yang dibawa oleh pangeran Arshlan.
“Biar aku bawakan!”
“Jangan sentuh barang-barangku!”
“Kau yang berikan ini duluan padaku.”
“Makanya berikan!”
__ADS_1
“Tidak! Aku suka dengan baunya.” Sang pangeran mencium handuk tersebut.
“Iiish! Berikan!” Rebut sang putri lagi.
“Biar aku mencium baunya.”
“Berikan!”
Mereka berdua saling berebut handuk seperti anak kecil. Hingga kemudian putri Estelle berhasil mendapatkan ujung handuknya dan menarik handuk tersebut.
Namun pangeran Arshlan memegang dengan erat ujung yang lainnya, hingga sang putri kesulitan untuk menarik dan merebutnya.
“Iiiish!” Sang putri menarik dengan spontan, namun handuk itu sama sekali tak berpindah pada tangannya.
Yang ada kemudian pangeran Arshlan yang menarik handuk itu dan ….
Blug.
*
__ADS_1