Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Putri Alana dari Noirland


__ADS_3

"Lalu apa obatnya?" tanya Raja Gerald tak sabaran.


"Obatnya adalah kebahagiaan. Sebisa mungkin, buat ibu suri bahagia. Jangan pernah lagi bersedih, apalagi sampai membuat dia menangis," pesan sang dokter.


"Hiburlah Yang Mulia, para dayang. Buat dia tidak merasa kesepian. Itu semua bertujuan agar nafsu makan beliau membaik," jelas sang dokter lagi.


"Yang Mulia ibu suri," panggil sang dokter pada ibu suri yang masih membuka sedikit matanya.


"Anda mendengar saran saya, Yang Mulia?" tanya sang dokter.


Ibu suri dari kerajaan Noirland itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Anda harus selalu bahagia, Yang Mulia. Kehidupan akan terus berjalan, tidak baik bila kita menghabiskan waktu hanya untuk berkabung saja," saran dokter itu lagi yang lagi-lagi hanya dijawab dengan anggukkan lemah dari ibu suri.


"Kalau begitu saya pamit." Sang dokter langsung membereskan peralatannya dan bersiap untuk kembali.


"Permisi, Yang Mulia. Hamba hendak pamit."


Setelah sang dokter pergi, ibu suri langsung berusaha duduk dengan meminta bantuan. "Tolong, aku mau duduk," ujarnya. Sepertinya ibu suri mulai bosan karena tidur.

__ADS_1


Ibu suri lalu menatap Eliana dengan tatapan yang cukup dalam. Raja Gerald menangkap gelagat itu, jangan-jangan ibu suri juga mengira Eliana adalah anaknya?


"Namamu siapa? Maaf, aku pelupa." Ibu suri menanyakan lagi nama Eliana.


"Hamba Eliana, Yang Mulia ibu suri," jawab Eliana sambil membungkukkan badan.


"Dia calon istrimu, Gerald?" tanya ibu suri pada Yang Mulia Raja.


"Betul, Yang Mulia. Dia calon istriku," jawab sang Raja sambil memeluk pinggul Eliana.


"Anak dari bangsawan mana?" Ibu suri sangat penasaran, selain karena dia adalah calon istri dari kerajaan tetangga, juga karena kemiripannya dengan putri sulungnya yang sempat pergi dari rumah.


"Anu ... hamba bukan berasal dari keluarga bangsawan, Yang Mulia ibu suri." Ada nada sedih dalama suara Eliana.


"Emmm, begitu, ya? Kalau begitu, boleh aku tau siapa nama kedua orang tuamu?" tanya ibu suri lagi.


Raja Gerald memiringkan sedikit kepalanya pada Eliana. Mempersilakan gadis itu untuk menjawab pertanyaan kali ini.


"Emmm, nama ayah hamba ada Louis, beliau seorang peneliti. Sementara ibu, namanya Alana beliau hanya ibu rumah tangga biasanya," jawab Eliana. "Tapi keduanya sudah tiada," tambah Eliana lagi.

__ADS_1


"Alana?" Ibu suri mengerutkan dahi.


"Jangan-jangan ...," bisik para dayang yang memperhatikan percakapan mereka.


"Tidak bisakah kalian berbisik untuk tidak terlalu keras?" Ibu suri memperingatkan dayang-dayangnya.


"Anu ... maaf menyela." Dayang yang paling tua memberi interupsi.


"Ada apa, dayang?" tanya ibu suri.


"Bukankah nona Eliana terlalu mirip dengan putri Alana dari Noirland, jangan-jangan ibu dari Nona Eliana benar-benar putri Alana?" Dayang tersebut berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.


Ibu suri pun mengangguk-angguk. Ia sudah lama curiga bahkan sejak berada di video call bersama putri Estelle waktu itu.


"Bagaimana jika kita ambil sampel DNA kalian dan kita cocokkan, agar kita tahu seberapa benar jika itu adalah gambar ibunda dari Eliana?" saran Raja Gerald.


Ibu suri pun mengangguk. "Ide bagus, Gerald. Kau memang selalu cerdas," puji ibu suri.


Raja Gerald hanya menggeleng, hal seperti ini hanyalah kemampuan mendasar seorang raja.

__ADS_1


Sementara itu, Eliana hanya terbengong dengan pernyataan jika Alana ibunya adalah seorang putri dari Noirland. Bagaimana mungkin? batinnya.


"Eliana, aku berharap kau benar-benar cucuku ...," ujar ibu suri dengan lirih.


__ADS_2