
"Kalian semua sudah siap?" tanya sang ratu pada suami dan anak-anaknya.
Pangeran Kevin mengangguk lantas mendekati ibunya. "Ayo kita berangkat, Mama!" ajak sang pangeran yang terlihat sangat tampan hari ini. Tangan mungilnya meraih salah satu jemari ratu Eliana dan kemudian menariknya.
"Hey! Hey! Tunggu ayah terlebih dahulu!" Ratu Eliana lantas menggendong Kevin dan kembali ke tempat sang raja.
Dayang membantu memasang untuk cufflink sang raja. Penata rambut membantu merapikan rambut sang raja yang bergaya pompadour.
Begitupun ratu Eliana, dia sudah terlihat cantik dengan kepangan sederhana ala waterfall braid yang menyederhanakan penampilannya.
Dayang Odeth mengambil alih pangeran Kevin lalu dayang lainnya membantu ratu Eliana untuk memperbaiki penampilannya yang sempat terlihat berantakan karena menggendong pangeran Kevin.
"Hati-hati di jalan." Sebuah kursi roda mendekat ke arah mereka.
Wanita paruh baya itu memberikan senyuman manis pada anak, menantu dan cucu-cucunya. Kondisinya masih agak lemah, namun dirinya sudah diperbolehkan berkeliling istana dengan menggunakan kursi roda, dengan bantuan dayang dan pengawasan pengawal tentunya.
__ADS_1
"Ibunda jangan khawatir, kami pasti akan berhati-hati." Ratu Eliana menjawab perkataan ibu suri.
Sang ibu suri tersenyum. "Sampaikan salamku untuk keluarga di Noirland," pintanya.
"Itu pasti, Bu," Raja Gerald berjongkok dan mencium punggung tangan ibunya.
Keberangkatan mereka menggunakan pesawat terbang pribadi milik keluarga kerajaan. Tak harus lama, mereka pun tiba di kota Noirland dan langsung menuju ke tempat pesta.
Pelayan membenarkan kembali tampilan raja dan ratu mereka, juga penampilan sang pangeran yang cukup berantakan karena selama perjalanan di pesawat tadi mereka sangat-sangat atraktif.
"Sudah banyak para tamu undangan yang datang," gumam sang raja.
"Iya ...." Ratu Eliana menimpali perkataan suaminya.
Kedatangan sang ratu dan sang raja disambut dengan karpet merah. Bersama pangeran Kevin yang digendong oleh sang raja, mereka melalui jalanan eksklusif karpet yang seakan membelah lautan manusia.
__ADS_1
Bayi Michelle tidak bersama mereka, karena sang putri masih terlalu kecil untuk mengerti dengan arti dari kondangan.
"Kakak sepupu, terima kasih kau sudah datang," ujar putri Estelle yang berdandan pengantin dengan sangat cantik.
"Putri ... kau sangat sangat cantik," puji sang ratu pada adiknya.
Sang putri meneteskan kembali air matanya yang membuat dayang juga penata rias kembali kerepotan karena air mata yang mengalir harus dibersihkan.
"Jangan menangis lagi, Putri," mohon sang juru rias yang membersihkan riasan wajah dari putri Estelle.
"Kakak sepupu, aku mohon ... bawa pergi aku dari sini," pinta putri Estelle yang terdengar seperti gurauan bagi sang ratu Eliana.
"Jangan seperti ini, putri sayang. Calon suamimu menunggumu di altar untuk mengucap janji dan pemberkatan bersamanya," hibur ratu Eliana yang sama sekali tak dapat merubah suasana hati adik sepupunya.
Putri Estelle semakin mengerucutkan bibirnya. Bagi sang putri ini adalah hari terburuk dalam hidupnya. Bahkan sang putri dengan santainya meminta pada Tuhan agar mencabut nyawanya pada saat ini juga, agar pernikahan antara dirinya dan pangeran Arshlan gagal dan tidak terjadi.
__ADS_1
"Putri! Ayo!"